MASJID UNIK Masjid Al Mahdi yang bernuansa tionghoa di Jalan Delima Raya, Kompleks Perumahan Armada Estate, Kota Magelang. (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MASJID UNIK Masjid Al Mahdi yang bernuansa tionghoa di Jalan Delima Raya, Kompleks Perumahan Armada Estate, Kota Magelang. (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG
AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG

RADARSEMARANG.COM – Sejak diresmikan 2017 silam, Masjid Al-Mahdi yang unik bernuansa Tionghoa ini makin ramai dikunjungi masyarakat, apalagi selama bulan ramadan. Tidak hanya masyarakat sekitar, namun juga dari luar daerah.

AGUS HADIANTO, Magelang

MASJID milik kelenteng ini lokasinya mudah dijangkau, yakni di Jalan Delima Raya, Kompleks Perumahan Armada Estate, Kota Magelang.  Hampir setiap hari ramai didatangi warga luar daerah yang penasaran. Para pengunjung sengaja datang, bukan hanya untuk mengagumi keunikannya semata, tapi juga menunaikan ibadah salat dan mengikuti kegiatan kajian yang digelar di masjid ini.

Pendiri Masjid Al Mahdi, Kwee Giok Yong, 47, yang bergelar Ustadz Mahdi, menuturkan, Masjid Al-Mahdi memang sengaja dibangun unik. Dilihat dari luar, kata dia, bangunan masjid mirip dengan kelenteng.  “Melihat lebih dekat, akan dijumpai aneka ornamen bernuansa Islami, seperti kaligrafi dan tentunya tempat salat dengan mimbar di dalamnya,” tutur Mahdi.

Mahdi yang mualaf sejak usia 11 tahun, dan telah berdakwah ke berbagai daerah tersebut mengatakan, selama bulan Ramadan 1439 H, dirinya mengisi beragam kajian di masjid tersebut, baik untuk anak-anak maupun orangtua.

“Setiap hari dimulai hari pertama puasa ada kajian Islami, seperti kultum (kuliah tujuh menit) jelang maghrib dan kuliah subuh. Lalu takjilan hasil dari swadaya warga, salat berjamaah, dan tadarus Alquran usai tarawih. Khusus malam Jumat, ditambah dengan salat tasbih,” paparnya.

Dia menjelaskan, pihaknya membuka pula pesantren kilat untuk anak usia SD sampai kuliah. Pesantren kilat, menurut Mahdi, diadakan Jumat hingga Minggu setiap pekannya dengan jumlah peserta puluhan orang. Mayoritas berasal dari warga sekitar Armada Estate dan Kota Magelang.

“Materinya seputar dasar-dasar ilmu agama, di antaranya birul waliadin, adab, dan fiqih. Saya sendiri yang ngisi, waktunya habis asar sampai maghrib,” beber Mahdi.

Diceritakan, dirinya membuka pesantren kilat berawal dari berbagai masukan dari para orangtua. Kebanyakan orangtua, menurut Mahdi, tidak punya cukup waktu dan ilmu untuk mengajarkan anak-anaknya seputar agama Islam terlebih saat bulan ramadan.

“Itu kesimpulan yang saya terima, dan akhirnya memberanikan diri membuka pesantren kilat ini. Meski kilat, tapi saya harap anak-anak bisa menyerap banyak ilmu agama dan mampu mengamalkannya di kehidupan sehari-hari,” harapnya.

Salah satu jamaah asal Boyolali, Ahmad, 50, mengaku, dirinya sengaja datang untuk menyaksikan lebih dekat masjid ini. Ahmad menuturkan, dirinya sekaligus menjalankan ibadah salat ashar dan mengikuti kajian sore menjelang waktu berbuka puasa. “Penasaran aja rasanya. Lihat di televisi kok unik, terus ke sini pas ada acara keluarga di Magelang. Sekalian aja ikut pengajian sore dan takjilan,” kata Ahmad (*/aro)