Oleh: M Mukhsin Jamil
Oleh: M Mukhsin Jamil

RADARSEMARANG.COM – ADA  tiga model narasi kitab suci yang terkait dengan tindakan kekerasan. Pertama, narasi non konfrontatif yang tercermin pada ayat-ayat kitab suci yang memberikan ruang kebebasan bagi orang-orang yang tidak beriman. “Bagimu adalah agamamu dan bagiku adalah agamaku”  demikian salah satu contoh dalam Alquran; 109: 6.

Kedua  narasi defensif  yaitu narasi kitab suci yang membenarkan tindakan kekerasan bahkan membolehkan perang sebagai pembelaan diri. Kaum beriman diizinkan untuk melawan dan berperang demi mempertahankan eksistensi mereka. Ketiga, narasi kitab suci yang bersifat agresif. Kita bisa menjumpai pembenaran kitab suci atas perang.

Dalam kaitan ini pula, jihad dalam artian “perang suci” (qital) dipandang sebagai kewajiban agama. Persoalannya adalah ayat-ayat semacam itu seringkali dibaca secara terpisah satu sama lain. Ditambah lagi  kenyataan bahwa elemen-elemen kekerasan dalam kitab suci itu terpencar satu sama lain dan tidak ada indikasi konteks situasi yang melatarbelakangi ayat-ayat tersebut. Kesan yang muncul kemudian adalah adanya sikap ambivalensi kitab suci terhadap tindak kekerasan.

Untuk memecahkan masalah ini,  dalam dunia Islam para ulama mencoba menyelesaikannya melalui kajian historis teks Alquran yang dikenal dengan asbab nuzul (sebab-sebab turunnya wahyu ayat-ayat suci Alquran). Cara ini di satu sisi telah menyelesaikan sebagian problem Alquran yaitu problem ta’arud (kontradiski Alquran).

Namun di sisi lain kajian historis kronologis itu memunculkan masalah baru. Sebagian ulama misalkan dengan argumen kronologis berpendapat bahwa ayat-ayat Alquran yang berlaku sekarang adalah ayat-ayat  yang bersifat agresif dan memerintahkan kekerasan. Sementara ayat-ayat yang defensive dan non konfrontatif dianggap telah diabrogasi,  dihapus (mansuh) hukumnya.

Dengan argumen ini pula muncul satu gambaran seolah watak Islam bergeser dari wataknya yang damai (peaceful), persuasif menjadi konfrontatif bahkan koersif. Tafsir konfrontatif ini menjadi lebih rumit ketika berkelindan dengan isu-isu politik yang membutuhkan kerangka legitimasi religus untuk memobilisasi dukungan masa.

Khalid Abu al-Fadl (2002) menyatakan “the meaning of the text is often as moral of it reader. If the reader is intolerant, hateful, or oppressive, so will be the interpretation of the text”. Ya makna teks apapun termasuk kitab suci adalah sebagaimana moral pembacanya. Dengan kata lain teks berbicara melalui pembacanya. Apabila pembaca teks tidak bertanggung jawab, intoleran dan penuh kebencian, maka hasil bacaan dan tafsirnyapun akan menjustifikasi kembencian, intoleransi, bahkan tindakan kekerasan.

Hal inilah yang bisa menjelaskan mengapa dari Alquran yang sama, melahirkan sosok semacam Ibn Muljam, yang sambil memegang Alquran menghujamkan pedang di dada Syadinna Ali. Kita juga mendapati Kelomok Aum Sinri Kyo, dengan keyakinan Syiwa menebarkan racun saharin di kereta api bawah tanah di Jepang.

Sementara Al-Kitab di tangan Buda Teresa adalah layanan kemanusiaan. Di tangan Mohandas Karacamhand Gandhi, Weda adalah ajaran dan gerakan tanpa kekerasan (Ahimsa). Di tangan Al-Hallaj, Jalaluddin Rumi, Ibn ‘Arabi, Cak Nur, Gus Dur, Alquran adalah ajaran merangkul seluruh tradisi agama dan kemanusiaan. Islam di mata dan pikiran para sufi adalah jalan cinta dan kedamaan ajaran lurus lapang dan toleransi (al-Hanifiyah al-samhah).

Jika moral pembacalah yang menentukan hasil bacaan dan tafsir sebuah teks, maka agenda mendesak yang harus segera diselesaikan oleh umat beragama adalah membentuk cara berfiir dan bersikap damai (peaceful mindset) pada umatnya.

Kata kuncinya adalah kerendahan hati dan keterbukaan. Membangun kerendahan hati berarti meciptakan sikap untuk tidak memutlakkan madzhab dan pandangan keagamannya sendiri sebagai yang paling benar sembari menafikan yang lain.

Sementara membangun keterbukaan adalah mendorong sikap toleran dan menerima keanekaragaman pandangan dan pemikiran. Bagi umat Islam hari ini sedang menjalani pendidikan melalui puasa Ramadhan. Semoga rendah hati dan keterbukaan menjadi salah satu hasil yang diperoleh di bulan suci ini. (*/habis)

Dosen Pemikiran Islam, Kordinator Training Pada Walisongo Mediation Center, Dekan Fakultas Ushuluddin dan Humaniora  UIN Walisongo