Oleh: M Mukhsin Jamil
Oleh: M Mukhsin Jamil

RADARSEMARANG.COM – ADA tiga peristiwa yang menyita perhatian dunia sepanjang minggu terakhir menjelang bulan suci Ramadan 1439 H. Pertama, kerusuhan akibat ulah narapidana teroris di Makobrimob Kelapa Gading Jakarta 8/5/2018 yang menewaskan empat orang.  Kedua, serangan bom di Surabaya pada 13/5/2018 yang melibatkan 6 orang dalam satu anggota keluarga. Ketiga, Serangan Israel terhadap para demonstran di Gaza yang telah menewaskan puluhan nyawa. Peristiwa-peistiwa itu tentu mengoyak rasa kemanusiaan bagi kita sebagai sebuah bangsa. Keprihatinan, kutukan dan doa mengalir dari berbagai penjuru dunia yang menunjukan perhatian besar isu-isu yang berhimpitan dengan agama dan kemanusiaan. Tidak dipungkiri, kejadian-kejadian tersebut merupakan tindak kekerasan yang highly religious motivated.

Saya menilai pandangan yang menegasikan faktor agama itu sebagai pandangan yang kurang jujur dan tidak  berani menyentuh  problem mendasar kekerasan yang terjadi dalam kehidupan umat beragama. Problem  mendasar itu adalah adanya apa yang disebut Mun’im Sirry (2018) sebagai “warisan bermasalah” (troubling legacy) pada umat beragama. Hipotesis mengenai warisan bermasalah dalam kehidupan agama-agama itu tampaknya didukung oleh sederet karya kritis terhadap warisan bermasalah agama-agama itu bisa kita sebut seperti karya editan John Collin,  Does the Bible Justify Violence (2004), dan karya Eric Seibert Violence of Scripture (2012).

Sementara Hector Avalos (2005) menyebut adanya ‘fighting words” dalam Al-Kitab. Syaikh Akhmad at-Tayib dan kawan-kawan (2015) menerbitkan sebuah buku dengan judul Tashih a-Mafahim yang berupaya untuk meluruskan konsep Khilafah, takfir, hakimiyah, jahiliyah dan Jihad yang selama ini menjadi basis ideologis terorisme di kalangan sebagian umat Islam. Tentu masih banyak lagi karya yang kritis terhadap kekerasan agama-agama baik dalam tradisi Abrahamic religion (Yahudi, Kristen dan Islam) maupun non Abrahamic religions (Hindu, Budha dan sebagainya).

Bagaimana kita memecahkan “warisan beramasalah” dalam kehidupan agama-agama, merupakan persoalan yang harus terus dicari jawabannya. Hanya dengan jawaban yang meyakinkan, maka kaum beriman bisa secara berani dan gagah menyatakan pesan setiap agama adalah perdamaian, misi suci setiap agama adalah cinta kasih dan kemanusiaan. Sementara itu apabila tidak ada penjelasan yang memadahi, sementara kekerasan yang dimoivasi oleh agama (religious motivated violence) semakin merajalela, maka akan semakin banyak orang yang menerima tesis AN Wilson dalam tulisannya Again Religion; Why We Should Try to Live without it? yang menyebut agama-agama bertanggung jawab terhadap tragedi berdarah sepanjang sejarah umat manusia.

Perburuan teroris merupakan salah satu cara yang harus terus-menerus dilakukan. Namun harus disadari tindakan mitigasi kekerasan semacam ini akan bersaing dengan seberapa cepat ide-ide kekerasan yang bersumber dari warisan  bermasalah ini berkembang biak di tengah masyarakat. Apabila ide-ide kekerasan itu terus menyebar, maka ladang bagi tumbuhnya terorisme juga akan semakin meluas.   Dalam konteks ini saya memandang perlunya sense of urgency bagi tokoh-tokoh agama untuk menyikapi warisan bermasalah pada agama-agama. Para sarjana harus benar dalam mendudukkan masalah ini, dan secara berani menafsirkan ulang “kekerasan Tuhan” yang ada dalam jantung kitab suci.

Apabila diidentifikasi menurut saya ada tiga model narasi kitab suci yang terkait dengan tindakan kekerasan. Pertama, narasi non konfrontatif yang tercermin pada ayat-ayat kitab suci yang memberikan ruang kebebasan bagi orang-orang yang tidak beriman. “Bagimu adalah agamamu dan bagiku adalah agamaku”  demikian salah satu contoh dalam Alquran; 109: 6. Kedua  narasi defensif  yaitu narasi kitab suci yang membenarkan tindakan kekerasan bahkan membolehkan perang sebagai pembelaan diri. Kaum beriman diizinkan untuk melawan dan berperang demi mempertahankan eksistensi mereka. Ketiga, narasi kitab suci yang bersifat agresif. Kita bisa menjumpai pembenaran kitab suci atas perang. Dalam kaitan ini pula, jihad dalam artian “perang suci” (qital) dipandang sebagai kewajiban agama. (*/bersambung)

Dosen Pemikiran Islam, Kordinator Training Pada Walisongo Mediation Center, Dekan Fakultas Ushuluddin dan Humaniora  UIN Walisongo