Oleh: Dra Titik Ruwaidah
Oleh: Dra Titik Ruwaidah

RADARSEMARANG.COM – KETIKA seorang guru memberikan tugas kelompok dan menemukan peserta didik yang tidak diterima masuk di kelompok manapun  tentu akan berpikir keras mengapa anak ini bisa sedemikian parahnya “ditolak” oleh teman-temannya. Ada apakah di balik semua ini? Adakah yang kurang dari anak ini sehingga  tidak diterima oleh teman sekelasnya sedangkan di kelas itulah dia setiap hari bertemu dan berada bersama teman-temannya.  Mengapa dia mengerjakan tugasnya sendirian padahal masih ada kelompok yang anggotanya belum penuh? Bagaimana jika kondisi seperti ini  terjadi berulang-ulang? Perasaan rendah diri akan muncul diiringi dengan rasa tidak nyaman karena terisolir.

Anak ini perlu ditolong,  situasi kelas perlu  dikondisikan agar hubungan sosial di kelas secara keseluruhan lebih baik dan tidak  ada anggota yang   tersisih  atau  terisolir. Mencari solusi sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan peserta didik gagal, harus dilakukan oleh konselor.   Memiliki prestasi akademik saja tidak cukup kalau tidak diimbangi dengan kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial. Peserta didik yang kurang bisa bergaul perlu diperhatikan agar memiliki sikap sosial yang baik. Lingkungan belajar merupakan tempat di mana peserta didik melakukan kegiatan belajar dan bersosialisasi dengan orang lain yang berada di lingkungan tersebut,  belajar di sekolah bukan hanya mengejar prestasi akademik saja tetapi juga belajar bersosialisasi.

Salah satu tugas perkembangan remaja adalah mencapai perkembangan sosial, diantara tugas perkembangan masa remaja yang tersulit adalah yang berhubungan dengan penyesuaian sosial. Perilaku sosial dinilai berdasarkan standar kelompok, memenuhi harapan kelompok dan menjadi anggota yang diterima kelompok. Dalam upaya menyesuaikan diri di lingkungan sosial  remaja harus menunjukkan sikap yang menyenangkan terhadap orang lain seperti kesediaan untuk membantu orang lain meskipun dirinya sendiri sedang mengalami kesulitan.

Teknik layanan bimbingan konseling yang digunakan untuk mengatasi rendahnya sikap penyesuaian sosial adalah  sosiodrama. Dalam layanan bimbingan konseling di sekolah sosiodrama dapat dipilih sebagai alternative teknik pemberian treatment untuk mengatasi masalah sosial yang dialami peserta didik. Bagi guru BK yang memiliki jam terjadwal di kelas, sosiodrama dapat dilakukan dalam beberapa kali pertemuan dengan mengangkat tema cerita yang berbeda-beda semuanya dikemas dalam bentuk skenario untuk dimainkan oleh peserta didik secara kelompok   bergantian.

Dalam permainan sosiodrama peserta didik berperan sebagai kelompok pemain dan kelompok pengamat. Kelompok pemain diberi waktu  untuk mempelajari scenario sebelum bermain peran, kelompok pengamat bertugas mengamati proses sosiodrama. Setelah permainan selesai dilanjutkan diskusi dan evaluasi. Konselor melakukan penilaian segera dengan mengajukan beberapa pertanyaan sebagai refleksi dari hasil permainan sosiodrama. Peserta didik menyampaikan kesan dan pengalaman yang diperoleh baik sebagai pemain maupun pengamat. Bermain peran menyediakan kondisi yang dapat menghilangkan rasa takut atau cemas, karena dalam bermain peran individu dapat mengekspresikan dirinya secara bebas tanpa takut kena sanksi sosial terhadap perbuatannya.

Dalam jangka waktu tertentu setelah  diterapkan bimbingan kelompok teknik sosiodrama ini dilakukan pemantauan didukung dengan kuesioner skala sikap penyesuaian sosial terhadap perubahan yang terjadi dalam interaksi sosial di kelas, suasana kelas jauh lebih baik dan berkembang  positif. Dalam testimoni diketahui bahwa para peserta didik mampu menghayati perasaan-perasaan yang dimainkan melalui sosiodrama. Sehingga mampu menumbuhkan sikap tenggang rasa, rasa kebersamaan dan persaudaraan. (igi2/aro)

Guru Bimbingan Konseling SMK Negeri 1 Salatiga