Tas Ranting, Cara Asyik Belajar IPA

176
Oleh: Agus Junaedi  SPd
Oleh: Agus Junaedi  SPd

RADARSEMARANG.COM – IPA,  pelajaran yang kurang menarik. IPA, pelajaran yang membosankan. IPA, pelajaran yang sulit. Demikianlah, anggapan banyak peserta didik terhadap pelajaran IPA. Banyak peserta didik beranggapan bahwa pelajaran IPA itu sulit, sehingga kurang aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Kurang motivasi belajar, kurang percaya diri, bahkan kadang seolah “menyebalkan”.

Fenomena ini menjadi tantangan guru IPA untuk menerapkan  model pembelajaran yang mampu mengubah  peserta didik menjadi asyik belajar IPA.  Penerapan model pembelajaran yang sesuai antara materi dan kondisi peserta didik.   Kegiatan belajar, termasuk belajar IPA, harus dilakukan dengan sengaja untuk mengembangkan kemampuan secara optimal. Di dalam kegiatan belajar, peserta didik mengalami proses perubahan. Perubahan ini meliputi peningkatan pengetahuan, sikap, ketrampilan, dan nilai – nilai. Demikian juga pada pembelajaran IPA.

Kegiatan belajar mengajar IPA yang baik, mampu melibatkan peserta didik dengan aktif dan motivasi tinggi untuk mencapai tujuan belajar yang optimal. Situasi dan kondisi saat pembelajaran sangat berpengaruh dalam proses menuju keberhasilan. Untuk membantu peserta didik mampu mengembangkan kemampuannya secara optimal, seorang guru perlu mempersiapkan rencana, pelaksanaan dan evaluasi yang bagus. Guru dituntut mampu menciptakan kondisi yang ideal untuk pembelajaran yang optimal, sehingga peserta didik mampu memahami diri dan lingkungannya supaya lebih bermakna. Hal ini bisa dilakukan dengan model pembelajaran IPA yang aktif, bergairah, asyik, di mana seluruh komponen saling berinteraksi.

Penulis tawarkan model pembelajaran kooperatif, Tas Ranting. Tas Ranting  singkatan dari Tata Surya dalam Pembelajaran Kooperatif Role Playing. Tas Ranting merupakan pengembangan model Role Playing. Role Playing, pembelajaran bermain peran, di mana peserta didik bermain peran pada materi pelajaran. Penulis melaksanakan Tas Ranting pada materi Tata Surya kelas 9, dengan diawali perencanaan. Peserta didik dibagi berkelompok dengan anggota yang heterogen. Tiap kelompok terdiri 5 orang. Materi pelajaran Benda – benda langit, Matahari sebagai bintang, dan gerak Bumi beserta dampaknya menjadi materi pelajaran tiga kali pertemuan. Karena anggota kelompok terdiri 5 orang, dibagi tugas untuk memerankan benda-benda langit. Sebagai contoh, pada materi revolusi, rotasi bumi dan gerhana, peserta didik ada yang berperan sebagai bumi, bulan, matahari, dan rasi bintang. Anak yang berperan sebgai matahari dengan membawa senter yang disinarkan ke bumi atau bulan. Anak yang berperan sebagai bumi dan bulan berputar, baik sebagai rotasi maupun revolusi. Gerak Revolusi bumi, yaitu bumi mengitari matahari, sedangkan bulan mengitari bumi.

Langkah selanjutnya, setiap  kelompok bermain peran sesuai teori yang ada. Ketika permainan dilakukan, ada satu peserta didik yang mengamati. Setelah permainan selesai  dilajutkan diskusi kelompok. Keberhasilan kelompok tergantung adanya saling kerjasama anggota dan pembagian tugasnya sebagai pemeran.

Kegiatan selanjutnya, menyusun rangkuman materi. Guru membimbing dari awal hingga melaksanakan evaluasi.

Tas Ranting, pembelajaran kooperatif yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk saling berkomunikasi dan bekerja sama. Peserta didik lebih aktif, bertanggung jawab, dan lebih memotivasi belajar. Model ini mendukung pembentukan karakter , adanya kontak sosial meningkatkan karakter sikap sosial. Pembelajaran ini sangat membantu peserta didik menumbuhkan karakter menghargai pendapat orang lain,  dan berpikir kritis.

Dampak dari pembelajaran Tas Ranting, mampu menumbuhkan motivasi belajar. Bisa menimbulkan keberanian pada tiap perta didik untuk menyampaikan pendapat. Ketika tiap kelompok menyampaikan hasil diskusinya dan dilanjutkan evaluasi, mampu menumbuhkan jiwa kompetitif. Tas Ranting  mampu membuat belajar IPA lebih asyik dan bergairah, aktivitas dan hasil belajar peserta didik meningkat. (igi2/aro)

Guru SMP Negeri 10 Salatiga