Oleh: M Arif Royani
Oleh: M Arif Royani

RADARSEMARANG.COM – PUASA Ramadan menjadi salah satu dari rukun Islam yang mulai di perintahkan pada tahun ke dua Hijriah, namun sebenarnya puasa juga telah diperitahkan kepada umat-umat nabi terdahulu (al-Baqarah: 183). Seperti halnya umat-umat nabi terdahulu yang sudah mengenal dan mempraktikkan ibadah shaum, di nusantara juga telah dikenal praktik puasa jauh sebelum datangnya Islam.

Agama Hindu mempunyai ibadah yang serupa dengan shaum yang disebut sebagai upawasa atau pasa. Islam yang dibawa oleh Walisongo tetap mempertahankan upawasa atau pasa ini dan tidak mengubahnya menjadi shiam atau shaum, hanya tatacaranya yang disesuaikan dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Ini merupakan salah satu strategi dakwah Walisongo yang sangat bijaksana dalam menyebarkan Islam, yaitu dengan menyesuaikan “bungkus” dari ajarannya dengan kebudayaan setempat lalu memasukkan esensi Islam ke dalamnya. Terbukti strategi tersebut sangat menarik hati masyarakat dan dalam jangka waktu kurang lebih 50 tahun agama Islam telah mengakar di bumi nusantara tanpa adanya pemaksaan dan kekerasan.

Strategi dakwah penyebaran Agama Islam seperti yang dilakukan Walisongo tersebut merupakan pengamalan dari apa yang diperintahkan Allah SWT, yaitu dengan hikmah, mauizoh hasanah dan berbedat dengan cara yang baik (al-Nahl : 125). Model dakwah seperti ini menjadikan Islam tertanam secara dalam dan mengakar kuat di bumi nusantara, sehingga ketika kelak berdiri bangsa Indonesia, Islam telah kokoh berdiri dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjuangan bangsa Indonesia.

Model dakwah yang dipraktikkan Walisongo mencerminkan wajah Islam ramah dan toleran yang jauh dari sifat kekerasan dan pemaksaan. Namun akhir-akhir ini sering kita sering mendengar kekerasan yang mengatas namakan dakwah Islam. Seperti ledakan bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya yang terjadi beberapa hari yang lalu. Parahnya, hampir semua aksi terorisme tersebut mengatasnamakan dakwah Islam.

Tentu sangat kontradiktif jika ajaran Islam disandingkan dengan perbuatan kejam yang dilakukan oleh pelaku teror yang mengatasnamakan dakwah Islam tersebut. Aksi-aksi terorisme ini tak lain didalangi oleh kelompok-kelompok yang ber-paham radikalisme. Mereka itulah kelompok-kelompok yang gagal dalam memahami ajaran Islam yang toleran seperti yang dicontohkan Nabi dan

Arus radikalisme mulai menyebar pasca runtuhnya orde baru yang menandai era kebebasan di Indonesia. Mereka menyerang pemuda dan remaja dengan menggunakan media sosial sebagai sarana menyebarkan doktrin mereka. Untuk menghadapi kondisi saat ini perlulah kita semua berhati-hati, selektif dan selalu menggunakan akal sehat dalam menerima informasi yang datang.

Salah satu hikmah diwajibkannya puasa menurut Kiai Ali Maksum dalam kitabnya, Risalah al-Shiyam, adalah bisa membuat pikiran luas/tenang dan membersihkan hati seseorang. Luqman juga pernah berpesan kepada putranya yang artinya: “hai anakku, jika perut seseorang terlalu kenyang, pikirannya akan tidur, hikmah akan hilang dan anggota tubuh enggan untuk diajak beribadah”. Luasnya pikiran dan bersihnya hati akan berimbas pada pola pikir dan perilaku yang tidak akan mudah menerima hal-hal datang kepadanya.

Selain itu, al-Jurjawi dalam karyanya Hikmah al-Tasyri wa Falsafatuhu, menyebutkan hikmah yang paling jelas dari puasa adalah mampu menghancurkan nafsu amarah dan melemahkan kekuatan untuk berbuat kekejaman dan kejahatan. Hal ini merupakan hikmah yang paling terlihat jelas buktinya, karena selama bulan Ramadan tindak kejahatan menurun secara drastis. Saat inilah momen yang paling tepat untuk membendung arus penyebaran radikalisasi. Dalam suasana Ramadan ini hendaknya kita lebih cermat selektif terhadap paham-paham yang datang pada kita. Selain itu ibadah puasa hendaknya kita jadikan sebagai benteng bagi diri kita, agar paham-paham radikalisme dan tidak dengan mudah meracuni pikiran kita. (*)

Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo Semarang