Oleh : Slamet Riyadi SPd
Oleh : Slamet Riyadi SPd

RADARSEMARANG.COM – BELAKANGAN ini, sering dijumpai beberapa kasus dan masalah yang berkaitan dengan kekerasan atau penyimpangan yang dilakukan oleh siswa. Pemberitaan yang berkaitan dengan penganiayaan guru, pembunuhan sopir ojek online, tindak asusila, hingga pembullian di kalangan sekolah yang menyebabkan depresi, bahkan kematian. Kasus ini sebaiknya harus segera diatasi atau karakter siswa kita yang akan menjadi taruhannya. Kita sebagai orangtua ataupun tenaga pendidik, sebaiknya lebih peka terhadap masalah yang menjadi perbincangan yang meresahkan ini. Kita harus mampu melihat apa dan bagaimana masalahnya hingga siswa lepas kendali dan tidak bisa berpikir panjang dalam bertindak.

Faktanya, tindakan yang merugikan tersebut tidak hanya merusak kepribadian siswa, tetapi juga mencoreng citra siswa, orangtua siswa, sekolah dan masa depannya. Alih–alih merugikan diri sendiri mungkin lebih bisa diterima, tetapi bagaimana jika perbuatan para siswa ikut merugikan orang lain yang tidak bersalah? Kemudian, siapakah yang salah dalam kerusakan moral siswa ini? Apakah orangtua, guru, atau mungkin siswa dan pergaulannya?

Sebenarnya tidak akan ada asap jika tidak ada api. Tidak akan ada masalah, jika tidak ada sebabnya. Menurut penulis, perlakuan menyimpang yang dilakukan oleh siswa sebenarnya karena kurangnya pendidikan karakter di rumah. Banyak orangtua siswa yang mungkin sibuk dengan aktivitas kerja ataupun kegiatan lain yang menyita banyak waktu. Bekerja mungkin adalah hal yang wajib dilakukan oleh orangtua untuk memenuhi kebutuhan. Ironisnya, orangtua yang sibuk cenderung memiliki waktu yang lebih sedikit dalam memperhatikan kebutuhan putra-putrinya secara psikis dan moral. Akibatnya, banyak anak yang melakukan tindakan-tindakan yang merugikan karena tidak ada arahan dari orangtua. Parahnya, jika anak sudah melakukan hal yang mungkin tidak senonoh atau merugikan baik dirinya atau orang lain, Bahkan mungkin masuk ke ranah hukum, orangtua hanya bisa membantah dengan kata “Kok bisa? Padahal saya sudah berikan fasilitas yang terbaik untuk anak saya. Sekolahpun sudah saya masukkan ke sekolah unggulan dan mahal”. Jika sudah begitu, maka pihak sekolah atau instansi pendidik lainlah yang disalahkan.

Kita harus selalu ingat, mengirimkan anak ke sekolah bukan berarti kita serahkan segala hal yang berkaitan dengan bimbingan dan pengajaran baik akademik maupun non akademik kapada sekolah dan guru. Orangtua tetap menjadi pengendali terbesar dalam hal ini. Mengapa? Karena pendidikan karakter utama yang pertama akan didapat dari ranah keluarga. Jika saja orangtua mau lebih memahami sifat dan karakter anak, bisa mengarahkan mereka kepada hal-hal yang positif, serta memberi kasih sayang yang cukup, menurut penulis siswa tidak akan lepas kendali. Sebab, sering penulis jumpai, pantau dan arahkan, siswa yang mempunyai masalah biasanya karena mereka kurang curahan kasih sayang dari orangtua atau mungkin tidak hidup bersama orangtua.

Lalu bagaimanakah caranya memberi perhatian yang cukup pada siswa? Bapak-ibu, mungkin Anda lelah seharian bekerja mencari rezeki guna kebahagiaan anak. Hal tersebut semata hanya untuk memnuhi kebutuhan material anak dan memberikan apapun yang mereka ingin. Padahal anak tidak hanya membutuhkan hal-hal mewah yang bisa dilihat secara fisik saja. Memberikan apa yang anak mau mungkin adalah salah satu cara membahagikan anak. Namun, rasa aman, nyaman, dan bahagia tentunya tetap menjadi hal yang sangat penting dalam membahagiakan anak. Di sisi lain, anak juga membutuhkan perhatian yang cukup, bahkan sesederhana bertanya “Bagaimana harimu, nak?”. Pertanyaan simpel yang mungkin kerap diabaikan oleh para orangtua. Padahal, hanya dengan menanyakan kalimat sederhana tersebut kita bisa tahu apa yang telah dilakukan oleh anak, apa yang dirasakan mereka hari ini, apa kebutuhan mereka, dan apa keinginan mereka. Kurangnya komunikasi antara orangtua dan anaklah yang seringkali memicu masalah pada anak. Orangtua kurang peka terhadap apa yang telah dilakukan anak hingga akhinya mereka tidak mempunyai wadah dalam berbagi dan mengutarakan isi hati.

Tidak dipungkiri, sekolah adalah rumah kedua bagi anak. Maka dari itu, ketidak terkontrolnya anak di rumah akan sangat berkaitan dengan kegiatan dan aktivitas mereka di sekolah. (igi1/aro)

Guru PJOK SMP Negeri 3 Salatiga