Pembatasan Penggunaan Gadget dalam Pembelajaran Tata Boga

186
Oleh: Siti Zuhriyah  SPd
Oleh: Siti Zuhriyah  SPd

RADARSEMARANG.COM – PENGGUNAAN gadget oleh kalangan pelajar saat ini, cukup memprihatinkan bagi para guru pada umumnya. Termasuk bagi guru tata boga. Persoalan muncul pada sekolah-sekolah yang mengizinkan siswanya membawa gadget di jam sekolah. Tidak sedikit siswa yang asyik membuka gadget di jam pelajaran, dengan alasan mencari materi, resep masakan, gambar plating dan sebagainya. Sehingga mereka menjadi kurang fokus belajar.

Pada saat ini, perkembangan teknologi demikian pesatnya, namun harus diadakan pembatasan dalam penggunaannya. Maka sangat perlu adanya pemberian pemahaman terhadap siswa tentang penggunaan gadget. Agar siswa dapat menggunakan sesuai dengan kebutuhannya, dan keberadaannya. Terlebih pada saat siswa sedang mengikuti pembelajaran praktik.

Gadget sudah menjadi dewa penolong bagi sebagian siswa yang malas mempelajari dan mengkaji resep masakan, serta membuat perencanaan praktik. Hal ini apabila dibiarkan terus-menerus justru akan merugikan siswa itu sendiri. Siswa akan terbiasa tidak fokus dalam bekerja, sehingga berakibat pada gagal produk praktik mereka, karena kurangnya persiapan dan perencanaan yang matang.

Dalam jangka panjangnya, terutama pada saat siswa mengikuti uji kompetensi, mereka akan merasa canggung dan kurang percaya diri. Uji kompetensi kejuruan benar-benar dibutuhkan kesiapan mental dan rasa percaya diri yang kuat agar siswa dapat melakukan  pekerjaan mengolah serangkaian pekerjaan membuat produk hingga plating dengan kesediaan waktu yang terbatas.

Perlunya pembiasaan  membuat perencanaan praktik dan mengkaji resep sebelum praktik lepas dari membaca resep pada gadget bukan hal yang mudah. Penanaman disiplin dari guru mata pelajaran dalam hal ini sangat diperlukan. Adanya pembiasaan yang diberlakukan pada saat pembelajaran siswa mengumpulkan gadget mereka, dan diperbolehkan menggunakannya kembali di saat memang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran.

Penerapan pembiasaan perilaku disiplin yang diharapkan terjadi proses pembentukan karakter siswa menjadi lebih percaya diri dan terampil dalam bekerja sesuai prosedur yang sudah mereka tuangkan dalam perencanaan praktik. Sehingga apa yang menjadi amanat dalam tujuan pendidikan nasional dapat tercapai. Agar pelaksanaan praktik dapat berjalan sesuai dengan harapan, maka perlu adanya pemantauan yang maksimal saat siswa melaksanakan praktik di laboratorium tata boga. Guru wajib memantau dan membimbing saat praktik, menyiapkan perangkat penilaiannya baik penilaian individu yang meliputi kelengkapan praktik, pembuatan perencanaan, dan juga penialaian kelompok. Sehingga dari hasil penilaian ini dapat dijadikan sebagai tolok ukur keberhasilan pembelajaran praktik tata boga.

Penanaman disiplin untuk menumbuhkan rasa percaya diri dalam pembelajaran praktik tata boga harus dimulai sejak awal di bangku kelas X. Setiap akan melakukan praktik pasti harus menyiapkan perencanaan dan mengkaji resep yang akan dipraktikkan. Sehingga pada saat praktik, tidak lagi membawa catatan kecil atau bahkan membuka gadget . Dengan menerapkan konsep mengajar praktik yang tepat, maka akan bisa diterima oleh siswa, dan karakter percaya diri siswa akan terbentuk. (igi2/aro)

Guru SMK Negeri 1 Salatiga