Oleh: Dra  Any Hariwiyati
Oleh: Dra  Any Hariwiyati

RADARSEMARANG.COM – PADA  proses pembelajaran di kelas, guru  sebagai orang  yang berinteraksi langsung dalam proses pembelajaran  harus   memberikan yang terbaik untuk peserta didik. Akan tetapi pada kenyataannya pembelajaran yang diberikan kadang  masih konvensional, yaitu strategi pembelajaran yang dilakukan secara satu arah sehingga menempatkan guru sebagai sumber tunggal. Pembelajaran yang diberikan lebih menekankan pada upaya pemahaman informasi dari guru kepada peserta didik. Guru sangat dominan sebagai perancang, pemogram dan pelaksana program, sedangkan peserta didik mengikuti pola yang ditetapkan oleh guru.

Berkaitan dengan itu guru perlu memilih strategi pembelajaran yang efektif  dan efisien untuk memperoleh hasil yang optimal. Dengan penerapan strategi pembelajaran maka motivasi dan prestasi belajar peserta didik akan meningkat, sehingga peserta didik tertarik dan semangat mengikuti pembelajaran di kelas.

Proses pembelajaran yang terjadi di dalam kelas pada mata pelajaran kejuruan memberikan penekanan pada tiga aspek, yakni aspek kognitif, skill dan attitude.

Aspek kognitif  adalah mengukur keberhasilan peserta didik dalam belajar dari segi pemahaman. Aspek skill mengukur keberhasilan dari segi keterampilan, dan aspek attitude menilai sikap/motivasi peserta didik dalam mengikuti pelajaran. Aspek-aspek tersebut di atas dapat dicapai dengan memberikan proses pembelajaran yang direncanakan secara baik, sehingga proses pembelajaran menjadi efektif dan efisien.

Metode seni peran atau roleplaying  adalah suatu model penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan peserta didik. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan  dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal ini bergantung kepada apa yang diperankan. Pembelajaran dengan menggunakan metode roleplaying ini dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar.

Metode ini sangat cocok untuk pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran kejuruan. Misalnya, di SMK  pada mata pelajaran kejuruan Administrasi Perkantoran. Hal ini terbukti saat peserta didik mengerjakan tugas praktik kejuruan, mereka begitu semangat dalam bekerja. Seolah mereka mengerjakan pekerjaan sesungguhnya di sebuah kantor yang mereka perankan.

Saat melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan metode roleplaying,  guru bisa sambil melakukan pengamatan (observasi), untuk mengetahui motivasi  sekaligus menilai keberhasilan penggunaan metode ini, khususnya dampak pada prestasi belajar peserta didik. Dengan metode roleplaying ini ternyata sangat efektif untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar.

Untuk mengintensifkan metode roleplaying ini, diharapkan adanya dukungan yang optimal dari semua pihak, antara lain kepala sekolah, rekan guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan. Dan perlunya sarana prasarana yang memadai, dalam hal ini sekolah diharapkan siap dengan tempat, peralatan, perabot, dan perlengakapan yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran bagi guru dan peserta didik. (igi1/aro)

Guru SMK Negeri 1 Salatiga