Guru Zaman Now Melawan Malas

136
Oleh: Dra Hj Nur Solichah  MPd
Oleh: Dra Hj Nur Solichah  MPd

RADARSEMARANG.COM – DALAM kehidupan manusia, kebiasaan malas sudah kita kenal sejak kecil sampai tua. Malas dialami hampir semua orang dengan beragam profesi.  Mulai pejabat sampai rakyat biasa, termasuk di dalamnya seorang guru yang notabene adalah profesi yang bertanggung jawab dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Di tangan gurulah, masyarakat berharap terjadinya perubahan pada peserta didik dan nasib bangsa ini untuk lebih baik di masa mendatang.

Ironisnya, masih ada guru yang kurang bisa memahami dan menyadari sepenuhnya tanggung jawabnya yang sebagian telah bersumpah dan berjanji pada awal masa pengabdiannya. Bukti kemalasan seorang guru di antaranya adalah selalu terlambat masuk sekolah, terlambat masuk kelas, dan keluar kelas lebih awal dari jam yang seharusnya. Ada juga guru yang malas membuat administrasi pembelajaran, malas mengadakan evaluasi pelajaran, malas melakukan koreksi, berpenampilan yang kurang menarik, dan masih banyak lagi indikator kemalasan guru.

Berdasarkan pengamatan penulis dan dikaitkan dengan berbagai teori, ada beberapa hal yang dapat menyebabkan guru menjadi malas. Pertama , tidak memiliki sasaran dan visi hidup yang jelas, baik orientasi hidup yang bersandar pada religi atau agama yang dianutnya maupun fisosofi hidup yang dipegang dan diyakininya. Bentuk sasarannya di sini adalah apa yang akan dilakukan, diraih, diinginkan dan dimilikinya. Baik dalam jangka pendek, menengah dan jangka panjang.

Kedua, falsafah hidup yang negatif dan etos kerja yang kurang kuat. Misalnya: cari yang haram saja susah, apalagi cari yang halal. Mengapa kerja rajin dan sungguh-sungguh toh gaji guru sama, percuma guru rajin bekerja dan loyal kepala sekolah tidak pernah apresiasi apalagi reward.

Ketiga, terlalu lama membiarkan pikiran dan perasaan yang negatif. Sebenarnya setiap orang pernah mengalami kondisi pikiran yang negatif, yang membedakan masing-masing orang adalah frekuensi dan persentasenya, dan upaya untuk segera bangkit dari perasaan negatif tersebut.

Keempat, sungkan memilih yang positif dalam pikiran dan perasaanya. Ada banyak kegagalan yang dialami seorang guru dapat mengakibatkan dan memicu kemalasan, sangat sulit untuk segera move on, padahal sebenarnya suatu kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda dan bersifat sementara. Yang abadi adalah penolakan dirinya untuk segera bangkit dan semangat lagi.

Nah, jika seorang guru sudah dilanda rasa malas, maka harus segera mencari obat untuk mengatasinya. Pertama, sadar diri bahwa Allah Swt Tuhan Yang Maha Kuasa telah mempercayakan seseorang untuk menjadi seorang guru, tidak semua orang bisa dan ditakdirkan Allah menjadi seorang guru. Maka dengan dasar kesadaran profesi itulah, semangat dan ghirah itu akan segera bangkit lagi. Yakin bahwa menjalani tugas dan tanggung jawab guru adalah merupakan ladang ibadah yang luar biasa jika dilakukan dengan keikhlasan. Ilmu yang ditransfer ke peserta didik merupakan salah satu amal jariyah yang terus mengalir sampai akhir hayat dan pasca kehidupan nanti.

Kedua, memiliki etos kerja yang positif dan visioner, guru mestinya bergaul dan masuk pada komunitas pembelajar, selalu up date terus pengetahuan dan ketrampilan dalam mengajar, meningkatkan empat kompetensi pedagogis, profesional, sosial dan kepribadian. Kalau guru Pendidkan Agama Islam ditambah kompetensi religius dan leadership. Selalu aktif dalam berbagai workshop dan diklat akan mengubah mind set guru untuk usaha lebih baik lagi.

Ketiga, perlu memiliki personal agency, perlunya deadline diri untuk membengkitkan diri guru itu sendiri mengusir kemalasan, baik yang temporer maupun yang abadi. Keempat, perlu pembelajaran yang terus-menerus, berusaha memperbaiki diri dari yang guru lakukan selama ini, pilih hidup yang dinamis dan bersemangat. Batin yang dinamis akan melahirkan kemauan yang kuat.

Kelima, perlu membuka diri seluas-luasnya berbagai pencerahan atau sesuatu yang menginspirasi, memotivasi dan menghilangkan kotoran batin yang dapat menimbulkan pikiran dan perasaan yang negatif. Misalnya, membaca buku, artikel di koran, mendengarkan ceramah, cerita dan pengalaman orang, melihat suatu kejadian, silaturahim dengan orang alim, serta refreshing atau wisata yang mendidik.

Pada akhirnya kita berharap banyak kepada para guru sebagai agent of change dan pendidik karakter bangsa untuk bisa melawan kemalasan. Sehingga tujuan nasional akan bisa terwujud dengan semangat juang dan pikiran yang positif. Ayo, guru zaman now semangat melawan malas! (igi2/aro)

Pengawas Madya Kantor Kemenag Kabupaten Semarang