MEMOTIVASI: KH Ali Shodiqun , pengasuh Ponpes Tahfidz Quran yang menangani pengobatan pecandu narkoba. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MEMOTIVASI: KH Ali Shodiqun , pengasuh Ponpes Tahfidz Quran yang menangani pengobatan pecandu narkoba. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Mengobati pecandu narkoba, tidak cukup dengan pengobatan medis. Tapi juga lewat motivasi baik dari diri maupun orang sekitar pemakai. Ini juga yang diterapkan di Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Istiqomah, Weleri, Kendal.

BUDI SETYAWAN, Kendal

MENYEMBUHKAN orang kecanduan narkoba bukan hal mudah. Selain harus ada niat atau keseriusan dari si pemakai, juga butuh dukungan moril dari keluarga dan orang-orang sekitar. Termasuk sampai memutus mata rantai pertemanan dengan pemakai lainnya. Itulah yang dilakukan KH Ali Shodiqun, pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Istiqomah, Dusun Pagersari RT 1 RW 1 Desa Penaruban, Weleri, Kendal. Sejak tiga tahun terakhir, ia menangani pengobatan bagi para pecandu narkoba.

Ali mengaku, ide awal menangani para pecandu narkoba adalah ketidaksengajaan. Tepatnya dimulai pada 2015 silam. Kala itu, ada seorang perempuan datang kepadanya. Perempuan yang tidak disebut namanya itu mengeluhkan kepadanya akan perilaku suaminya yang sudah puluhan tahun mengonsumsi narkoba.

Ia pun meminta perempuan itu untuk membawa suaminya ke tempatnya. “Saat itu, suami perempuan itu menolak, namun perlahan dengan pendekatan akhirnya suami mau datang dan memperkenalkan diri namanya Heri Muryanto,” tuturnya.

Dari itu kemudian ia melakukan pendekatan dengan berbagai cara. Yakni, dengan memotivasi dan membesarkan hati pelaku bahwa ia adalah orang normal yang memiliki kesempatan sama untuk berubah dan bertaubat. “Pengobatan yang saya gunakan di sini adalah metode ruqyah, mandi taubat dan salat. Ruqyah ini adalah untuk menghilangkan aura negatif yang menempel. Sebab, ruqyah ada menggunakan Alquran di mana disebutkan bisa menjadi penyembuh berbagai macam penyakit,” tandasnya.

Tentunya tidak cukup dengan hal itu. Harus ada pendampingan secara rutin serta pengawasan dari orang-orang sekitarnya. Sebab, saat orang sembuh, bukan berarti itu sembuh total. Melainkan bisa dengan mudah kembali ke dunia narkoba ketika tidak diputus mata rantainya.

“Pasien ini bekerja sebagai sopir bus. Dia tidak pernah kehabisan barang. Bahkan dapat dengan mudah mendapatkan barang haram itu. Hampir di setiap kabupaten/kota di pantura dari Jatim hingga Jakarta, pasien ini memiliki jaringan untuk mendapatkan barang,” paparnya.

Kemudian ia meminta secara suka rela kepada pasien untuk memutus mata rantai itu. Yakni, dengan hijrah tempat dan membuang seluruh kontak nomor teman-temannya. “Dia mau, dan Alhamdulillah 6 bulan kemudian, dia bisa bebas dari ketergantungan narkoba. Bahkan kini ia jadi voulenter Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk memotivasi para pecandu agar bisa bebas dari narkoba,” jelasnya.

Setelah itu, Heri Muryanto membawa teman-temannya sesama pencandu narkoba datang ke tempatnya agar bisa sembuh. “Sejak itulah, kami juga didukung dan dibantu oleh BNN. Meskipun secara kelembagaan belum resmi,” tuturnya.

Hingga sekarang sudah ada puluhan pecandu narkoba disembuhkan. Rata-rata pasien justru dari luar kota. Bahkan dari luar pulau. “Ada yang dari Bali, Palembang, baru-baru ini dari Jakarta. Tapi kebanyakan dari Pekalongan dan Semarang,” akunya.

Dikatakan, dalam menangani pecandu narkoba, ia harus mempertaruhkan reputasinya sebagai seorang kiai dan pengasuh pondok pesantren. Sebab, penyebab orang mengonsumsi narkoba berbagai macam. Namun ia harus bisa menerima semua kalangan itu sebagai bagian dari teman dan keluarganya.

Bahkan pernah ada salah seorang pasien yang ditangani, datang malam-malam saat  ia mengajar santrinya dalam keadaan mabuk atau fly. “Jadi, ada pasien saya datang itu nggak pakai baju, badannya penuh tato,  dan hanya mengenakan celana pendek dan sandal. Dia  datang mengendarai sepeda motor. Kedatangan tamu demikian di lingkungan pondok itu sudah penilaian orang-orang bahkan santri sendiri itu sudah berbeda dalam arti negatif,” akunya.

Tapi, ia harus menerimanya dan memberikan pengertian kepada para santri bahwa itu adalah bagian dari dakwah Islam. “Jadi, dakwah itu bukan hanya di tempat pengajian. Kalau orang yang datang pengajian itu sudah wajar dan pasti semua nurut. Tapi, ini dakwah kepada mereka yang belum mendapatkan petunjuk dari Allah,” katanya.

Kunci pengobatan, menurutnya, harus timbul kesadaran dari si pemakai itu sendiri untuk sembuh. “Kalau belum ada niat itu, maka sulit. Maka yang saya lakukan adalah membangkitkan kesadaran dan mengubah pola pikir dari pecandu. Sehingga timbul dari dirinya untuk sembuh,” katanya.

Selanjutnya adalah berbagi rasa dengan pasien. Yakni, menjadikan pasien adalah subjek, bukan objek. “Sebisa mungkin saya harus bisa berteman dan bersaudara dengan pemakai. Sehingga saya bisa kenal dia lebih dalam, kenal semua keluarga dan teman-temannya,” tuturnya.

Ketika kenal dekat ini, maka ada proses saling memahami kondisi pasien. Selain itu, dapat dengan mudah memantau, karena kita bisa kenal semua teman-temannya. “Para pecandu itu butuh namanya teman, butuh kepercayaan, butuh apresiasi, butuh dirangkul, dan diakui keberadaannya,”  katanya.

Hal itu diakui Heri Muryanto. Ia mengaku mengonsumsi narkoba sudah 10 tahun. Tepatnya sejak ia masih SMA. Bahkan sudah parah, karena benar-benar sudah ketergantungan. “Saya setiap pagi hilang kesadaran. Suruh mandi pagi itu kadang cuma bengong. Setelah masuk kamar mandi, saya langsung mengguyurkan air ke badan, baju belum saya lepas. Jadi sangat parah,” akunya.

Namun ia menemukan KH Ali Shodiqun yang telah berhasil membimbingnya. “Dulu saya ini non muslim, akhirnya jadi mualaf. Dulu saya tinggal di Solo, lalu saya hijrah ke sini dan mencari pekerjaan di sini,”  tuturnya.

Kunci bisa sembuh dari narkoba, kata Heri, memang harus dari diri sendiri, dan bisa memutus mata rantai semua hubungan yang berkaitan dengan narkoba. “Alhamdulillah, BNN sekarang sering mengajak saya untuk memotivasi para pecandu narkoba untuk sembuh,” katanya. (bersambung/aro)