Oleh: Ahmad Rofiq
Oleh: Ahmad Rofiq

RADARSEMARANG.COM – DALAM Alquran banyak digunakan kata jihad. Dalam bentuk perintah atau fiil madli atau  kata kerja perintah atau fiil amar, setidaknya ada sepuluh tempat, QS. Al-Baqarah: 218, Al-Maidah: 35, Al-Anfal: 72, 74, dan 75; at-Taubah: 20, 41, 86; al-Hajj: 78, dan QS. Al-Hujurat: 15. Apabila kita cermati secara saksama, perintah jihad tersebut lebih menunjukkan berjuang dalam arti menghidupkan ajaran agama Allah. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka otu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (AS. Al-Baqarah: 218).

Jika kemudian jihad dimaknai dan dilaksanakan dengan “bunuh diri” tentu orang yang berjihad itu akan “selesai” dan tidak lagi bisa berjihad karena dirinya harus “merelakan” dirinya “mati” bersama ledakan bom bunuh diri tersebut.

Selain itu, jika kita cermati ayat-ayat tentang perintah berjihad tersebut terdapat empat ayat yang memerintahkan berjihad dengan harta baru dengan jiwa. Misalnya, QS. At-Taubah: 41 sebagai berikut : “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu asalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui” (QS. At-Taubah: 41).

Demikian juga QS. At-Taubah ayat 20 dan Al-Hujurat: 15 yang memerintahkan berjihad dengan harta. Mereka akan digolongkan ke dalam hamba-hamba-Nya yang benar (al-Shadiqun) atau orang-orang yang beruntung (al-Faizun).

Islam adalah agama kedamaian dan perdamaian. Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin. Islam bukan agama teror, tidak agama terorisme. Karena itu, perlu kecerdasan untuk melihat dan menbamati fenomena yang muncul, terhadap berbagai fenomena aksi-aksi teror dan munculnya terorisme. Karena segala macam bentuk teror, terorisme, dan aksi-aksi untuk menyiapkan tenaga-tenaga muda kader “teroris” harus dihentikan. Karena tidak sesuai dengan pri kemanusiaan dan pri keadilan. Hidup adalah anugrah yang manusia tidak bisa memilih.

Karena itu, setelah kita mendapat anugerah, sudah seharusnya kita jaga semua keluarga, istri, dan anak untuk bisa tetap hidup nyaman, tenang, dan menjamin mereka tumbuh dan berkembang dewasa, syukur bisa menikmati kebahagiaan dunia dan akhirat nanti.

Semoga dengan ibadah puasa di bulan penuh cinta dan kasih sayang (rahmat), ampunan (maghfirah), dan dibebaskannya kita dari “panas” atau api neraka, kita mendapatkan pelajaran berharga, bahwa puasa adalah jihad melawan nafsu (syaithaniyah) kita untuk menjadi hamba-hamba Allah yang bertaqwa. Inilah satu-satunya bekal yang kelak akan membantu pertanggungjawaban kita di akhirat kelak. Selamat berjihad melawan hawa nafsu kita, kita ikuti perintah agama, karena itu semua adalah untuk diri kita sendiri, sebagai manusia. (*)

Guru Besar dan Direktur Pascasarjana UIN Walisongo & Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah