33 C
Semarang
Kamis, 13 Agustus 2020

Pendapatan Parkir Masuk Kantong Preman

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Target pendapatan retribusi parkir yang naik 400 persen menjadi Rp 15 miliar pada 2018 sulit tercapai jika tidak dilakukan penertiban juru parkir di lapangan. Pasalnya, banyak pendapatan parkir justru disetorkan ke para preman. Hal ini diakui oleh beberapa juri parkir di sejumlah titik di Kota Semarang.

Jan (bukan nama sebenarnya), salah satu juru parkir mengaku harus menyetor kepada preman, serta setor ke bos alias pemilik lahan parkir. Paling tidak, seminggu sekali, dia harus memberikan sedikitnya Rp 60 ribu kepada preman yang mendatanginya. ”Kadang bisa lebih. Ya, saya kasih, daripada saya dirusohi,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Sementara kepada sang bos, Jan harus menyetor sedikitnya Rp 210 ribu per minggu. Setoran ini memang sudah dipatok, tidak berdasarkan karcis. Jan memegang karcis, namun ia katakan, hanya diberikan kepada orang kantoran saja. ”Kalau yang kantoran biasanya untuk diklaim ke kantor. Kalau yang nggak minta ya nggak dikasih karcis,” jelasnya. ”Jadi setoran nggak berdasarkan karcis,” tegasnya.

Jan juga harus membayarkan sejumlah uang ketika masa berlaku kartu tanda anggota sebagai jukir habis. ”Ini dibuatin kartu anggota, buat kalau ada yang nanyain. Soalnya ada yang biasanya ditanyain nggak punya kartu kemudian dibawa (diciduk). Tapi ya dikembalikan lagi,” ujarnya.

Ia juga harus memberikan uang rokok ketika ada petugas bermobil menghampirinya. Untuk yang ini, ia sering tidak memberikan. Namun ketika sedikit memaksa, uang rokok pun juga harus dikeluarkan.

Jukir lainnya, Agung, mengaku harus menyetor ke pemilik lahan secara harian. Ia wajib membagi penghasilannya dengan sang pemilik lahan. Ia dipatok setoran Rp 30 ribu-Rp 50 ribu per hari. Sisanya, bisa ia bawa pulang. ”Urusan saya ya sama bos saja. Bos mau setor ke mana, bukan urusan saya lagi,” katanya.

”Saya sehari dapatnya Rp 100 ribu dari pagi sampai jam 5 sore. Kadang kalau butuh uang, saya lanjut malam bisa sampai Rp 180 ribu,” tambahnya.

Ia ceritakan, lahan parkir di tempatnya bekerja dikuasai secara turun-temurun. Pembagian lahan kepada sejumlah tukang parkir sudah diatur oleh para pemilik lahan. ”Setorannya beda-beda. Karena kan ada yang rame, ada juga tempat yang sepi,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, DPRD Kota Semarang kembali menyoroti tidak maksimalnya sistem pengelolaan parkir di Kota Semarang. Ketidaktegasan dalam pengelolaan retribusi parkir ini menguatkan bahwa terjadinya dugaan kebocoran pendapatan asli daerah (PAD) parkir di Kota Semarang tidak mendapatkan penanganan serius. Padahal dalam praktiknya, parkir di Kota Semarang memiliki potensi PAD yang luar biasa besar. Bahkan masyarakat kerap mengeluhkan masih banyaknya juru parkir nakal yang memungut tarif parkir mahal atau tidak sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda).

“Sektor parkir umum ditargetkan menyumbang PAD Rp 4 miliar pada 2017 lalu. Hanya saja, target tersebut tidak tercapai dan hanya mampu menyumbang Rp 2,5 miliar saja,” kata Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi.

Hal itu, kata dia, menguatkan dugaan bahwa masih terjadi kebocoran retribusi parkir yang besar. Ia mengaku tidak habis pikir mengapa parkir umum yang seharusnya memiliki potensi pendapatan besar malah justru jauh dari target penerimaan PAD yang ditentukan. “PAD dari parkir umum di Kota Semarang seharusnya bisa mencapai kurang lebih Rp 20 miliar dalam setahun,” katanya. (sga/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Membayar Hutang Puasa

Pertanyaan : Assalamu’alaikum Warahmatullah Pak kiai yang saya hormati, saya ingin bertanya mengenai masalah qadla’ puasa. Sebelum ayah saya meninggal dunia, beliau berpesan kalau masih...

Seminggu Larang Truk Proyek

BATANG–Warga Desa Masin, Kecamatan Waringasem, Kabupaten Batang masih memblokir jalan desa agar truk pengangkut tanah urug proyek tol tidak bisa melintasi desa. Hal tersebut...

Bulog Telah Serap Gula 2.000 Ton

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG–Perum Bulog Divre Jawa Tengah terus melakukan serapan gula petani dengan harga Rp 9.700 perkilogram. Penyerapan ditargetkan dapat mencapai hingga 38 ribu ton “Realisasi...

Canangkan Program Salatiga Jemput Sampah 

RADARSEMARANG.COM, SALATIGA - Untuk merubah persepsi masyarakat tentang sampah, Wali Kota Salatiga Yuliyanto mencanangkan program Salatiga Jemput Sampah Berbasis Kemitraan. Kegiatan dengan peserta 350...

Tiga Taruna Akpol Tidak Lulus

SEMARANG - Taruna dan taruni Akademi Kepolisian tingkat IV angkatan 48 Detasemen Hastadharana mengikuti acara penutupan pendidikan dan wisuda. Ada 3 taruna di angkatan 48...

Mahasiswa Harus Redam Gejolak

RADARSEMARANG.COM, WONOSOBO - Mahasiswa sebagai pengemban misi intelektual, bertugas untuk memberikan pemahaman terhadap siapapun. Mahasiswa harus hadir, gotong-royong bersama-sama membangun Indonesia menjadi lebih baik. Hal itu diungkapkan Rektor Universitas...