DEMI KESEMBUHAN : Sejumlah pasien yang menempati rumah singgah IZI mengikuti senam sebagai upaya menjaga kebugaran. (Nur Wahidi/Jawa Pos Radar Semarang)
DEMI KESEMBUHAN : Sejumlah pasien yang menempati rumah singgah IZI mengikuti senam sebagai upaya menjaga kebugaran. (Nur Wahidi/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG—Rumah singgah Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) Jateng, memberi fasilitas bagi pasien maupun keluarga pasien dari luar daerah yang ingin berobat di Semarang.

Ketua IZI Jateng, Djoko Adhi mengatakan, biasanya pasien luar daerah yang harus menjalani pengobatan di Rumah Sakit (RS) seperti di RSUP dr Kariadi, kesulitan tempat tinggal. Oleh karena itu pihaknya menyediakan tempat bagi mereka yang membutuhkan tempat tinggal sementara selama pengobatan.

“Mereka biasanya dari luar kota untuk mengikuti program lanjutan, misalnya pengobatan melalui penyinaran atau kemo,” kata Djoko Adhi kemarin. Biasanya mereka dari luar kota, seperti Tegal, Jogja, Rembang, Jepara, maupun Pemalang. Bahkan ada yang dari Kalimantang.

Djoko menambahkan selama menempati rumah singgah, pasien tidak dipungut biaya sepeserpun karena menyadari bahwa mereka (pasien) itu sudah terbebani dengan biaya Rumah Sakit dan beban penderitaan karena penyakitnya.

“Sehingga kami memberikan pelayanan gratis untuk membantu beban mereka,” tambahnya.

Selama menempati rumah singgah yang terletak di Jalan Pamularsih 11 dan Jalan Puspanjolo Tengah 10, mereka melakukan berbagai kegiatan mulai dari senam serta penyuluhan kesehatan serta berusaha memberdayakan mereka dengan cara menanam sayuran agar tidak stres dan mendengarkan motivasi. Tetapi untuk bulan Ramadan ini mereka melakukan berbuka bersama serta pembelajaran agama oleh ustad Didin Saridin.

Salah seorang penghuni rumah singgah, Nur Laela, 50, warga Tegal mengaku mengidap penyakit kanker payudara dan harus menjalani kemoterapi di RSUP dr Kariadi.

“Saat ini menempati rumah singgah ini merasa senang karena bisa bergaul dengan sesama penderita kanker,” katanya.

Nur laela mengaku telah menempati rumah singgah ini selama satu tahun dan itu sangat membantu dalam pengobatan penyakitnya. Pasalnya kalau harus kos terpaksa harus mengeluarkan biaya antara Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu perbulan.

“Tetapi kalau di sini tidak dipungut biaya sepeserpun alias gratis dan itu sangat membantu sekali,” pungkasnya. (hid/zal)