Puasa, Jihad dan Kedamaian (1)

229
Oleh: Ahmad Rofiq
Oleh: Ahmad Rofiq

RADARSEMARANG.COM – SHAUM atau shiyam secara harfiah artinya menahan diri. Terminologi ini bermaksud menahan diri dari makan, minum, hubungan suami istri, dan hal-hal lain yang dapat membatalkan puasa dari fajar hingga terbenamnya matahari. Dalam pengertian demikian, orang yang berpuasa, berarti melakukan jihad atau “perang” melawan nafsunya sendiri dari hal-hal yang bisa merusak atau membatalkan puasa.

Rasulullah saw mengajarkan, misalnya ada orang lain yang mengajak makan atau perang, maka orang yang berpuasa, disarankan untuk mengatakan : “Saya puasa”. Jika merasa tidak nyaman mengatakan dirinya sedang puasa, dikira “riya” atau pamer bahwa dirinya sedang puasa, katakan: “Saya sedang udzur”. Dalam konteks ini, orang yang puasa berarti melakukan jihad atau “perang” melawan hawa nafsunya sendiri.

Boleh jadi ketika kita keluar ke mal atau area publik, rasanya ibadah puasa kita diuji. Karena ternyata banyak orang yang dengan bebasnya, makan dan minum tanpa beban apapun. Meskipun saya yakin, masih lebih banyak teman dan saudara kita yang menjalankan puasa. Bagi orang yang beriman yang sedang puasa, tentu sudah memiliki persiapan mental untuk menghadapi ujian dan cobaan apapun, demi ketulusan dan kekhusyu’an ibadahnya hanya karena Allah.

Orang yang berpuasa tidak harus bermanja-manja minta untuk dihormati. Boleh jadi jika masih ada yang demikian, berarti ia masih sebatas puasa jasmaninya saja. Itupun mungkin indranya belum ikut dipuasakan. Tentu yang mengetahui keadaan yang sebenarnya adalah orang yang berpuasa itu sendiri, dan Allah ‘Azza wa Jalla saja.

Karena itu, ibadah puasa yang isinya lebih banyak menahan diri atau pantang terhadap hal-hal yang membatalkan puasa dan atau hal-hal yang bisa membatalkan pahala puasa, ini dimaksudkan sebagai pendadaran atau “kawah candradimuka” hati dan mental orang-orang yang beriman. Mengapa, karena tanpa modal iman yang memadai, dapat dipastikan seseorang akan “lebih merasa nyaman” ketika ia mengabaikan perintah dan syariat Allah, dan di situlah iman dipertaruhkan.

Dengan kata lain, grafik imannya sedang menurun sampai titik nadir, dan dapat dipastikan ketika seseorang imannya sedang menurun dan habis, atau bahkan sudah keluar dari dirinya, maka sergapan tindakan maksiyat dan perilaku menabrak rambu-rambu agama dan larangan Allah, akan diterjang semuanya.

Seseorang tidak akan tega dan rela melakukan bunuh diri  karena ia sebenarnya tidak memiliki hak penuh atas dirinya untuk dikorbankan begitu saja. Seseorang yang beriman, tidak akan membiarkan diri membunuh orang lain yang tidak bersalah, karena ia sadar bahwa membunuh satu orang itu sama halnya membunuh semua orang, dan menghidupkan satu orang itu sama halnya dengan menghidupkan semua orang (QS. Al-Maidah: 32).

Saudaraku, suatu saat dalam perjalanan pulang usai memenangi perang Badar, Rasulullah saw menegaskan, “kunnaa narji’u min jihadi l-asghar ilaa jihadi l-akbar” artinya “kita pulang dari perang kecil, menuju perang besar”.

Padahal Perang Badar (bahasa Arab: غزوة بدر, ghazwāt badr), adalah pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan musuh-musuhnya. Perang ini terjadi pada 13 Maret 624 Masehi atau 17 Ramadan 2 Hijriah. Pasukan kecil kaum Muslim yang berjumlah 313 orang bertempur menghadapi pasukan Quraisy dari Mekkah yang berjumlah 1.000 orang. Setelah bertempur habis-habisan sekitar dua jam, pasukan Muslim menghancurkan barisan pertahanan pasukan Quraisy, yang kemudian mundur dalam kekacauan (id.m.wikipedia.org).

Sudah barang tentu, para Sahabat “kaget” merasa terusik, dan bertanya kepada Rasulullah saw. “Kita perang Badar dengan kekuatan 313 personel, melawan 1.000 orang dibilang perang kecil, lalu apa itu perang besar wahai Rasulullah saw?” Rasulullah saw dengan tenang menjawab dan meyakinkan: “Jihadu l-Akbar huwa jihadu n-nafsi” artinya “perang besar itu adalah perang atas dirinya sendiri”. (*/bersambung)

Guru Besar dan Direktur Pascasarjana UIN Walisongo & Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah