Pernah Ditodong Senjata, Hingga Bajak Truk Kontainer

Kisah-Kisah Mantan Aktivis Mahasiswa Era Reformasi

Must Read

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp...

Nugroho Budiantoro (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Nugroho Budiantoro (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Tanggal 21 Mei 2018 hari ini, tepat 20 tahun reformasi. Saat ini, tak sedikit mantan aktivis mahasiswa yang dulu semangat berdemo di jalanan telah menjadi orang penting, pejabat, wakil rakyat, dosen, hingga pengacara.

SUHARNOMO kini menjabat Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip). Saat zaman reformasi di era kepemimpinan Presiden Soeharto, dia termasuk aktivis mahasiswa yang kerap menggelar aksi di jalanan.

Kepada Jawa Pos Radar Semarang, dekan yang kerap disapa Harnomo ini menceritakan pengalamannya kala menjadi aktivis pada tahun-tahun di mana saat itu Indonesia penuh dengan gejolak. Saat itu pada 1996-1997 dirinya menjabat Ketua Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT) Undip yang kini lebih dikenal sebagai Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

“Saya ingat betul itu dulu sempat ikut ke Jakarta, sebagai perwakilan Undip. Saat itu, kebetulan ada televisi yang meliput dan saya masuk frame. Itu sama orangtua saya sempat ditanya juga,” ujarnya saat ditemui di Kantor Dekanat FEB Undip Tembalang, Minggu (20/5).

Ferry Firmawan (DOKUMEN PRIBADI)
Ferry Firmawan (DOKUMEN PRIBADI)

Harnomo mengatakan, keikutsertaannya dalam demo sebenarnya juga lantaran diajak oleh para seniornya. Demo pertama yang diikutinya yakni terkait dengan permasalahan Australia dan Timor Timur. Dari situlah, awal mula terjunnya ia dalam aksi-aksi menuju reformasi.

Dia mengaku pengalamannya sebagai aktivis memang tidak sebombastis rekan sejawatnya. Harnomo yang sejak duduk di bangku sekolah kerap menjadi ketua kelas mengaku jiwa sosialnya yang membawa hasrat untuk ikut dalam aksi.

Selama mengikuti aksi, Harnomo mengaku tak pernah menceritakan kegiatannya kepada kedua orangtuanya. Karena itulah, ia sempat dimarahi saat ketahuan ikut dalam aksi di Jakarta. “Tetapi itu saya jelaskan, bahwa tidak masalah. Alhamdulillah bisa ngerti, yang payah itu karena saya selama menjadi mahasiswa ikut 9 organisasi sampai kuliahnya terbengkalai,” beber pria asal Purwodadi ini sambil tersenyum.

Dari kesembilan organisasi itu hampir semuanya dipimpin oleh Harnomo, mulai dari AIESEC, BPM FEB Undip, Pimpinan Umum majalah kampus hingga SMPT. Semuanya terpaksa dilepas oleh Harnomo dan menyisakan dirinya sebagai Ketua SMPT, guna menyelesaikan kuliahnya yang terbengkalai. “Menegangkannya itu menurut saya karena ketua senat, maka setiap mau aksi pasti saya dihubungi terlebih dahulu oleh wakil rektor. Ya mengingatkan supaya hati-hati,” tuturnya.

Saat ini, ia menilai generasi milenial telah jauh berkembang dan cenderung berpikir rasional. Apalagi dengan adanya Revolusi Industri 4.0, sehingga membuat mahasiswa saat ini sebagai aktivis lebih bisa untuk beraksi dengan cara yang lain. “Corongnya saat ini banyak, kalau dulu harus turun ke jalan. Sekarang bisa memanfaatkan cara yang lain. Misalnya lewat media sosial atau terjun langsung mengedukasi masyarakat,” terangnya.

Ia berharap, kebebasan berpendapat dan menuangkan ide yang saat ini terbuka lebar tidak lagi dibelenggu seperti saat sebelum reformasi. Apa yang telah dibebaskan mulai kepemimpinan Presiden Habibie harus terus dijaga. “Dulu kan mau berpendapat tidak mudah, masyarakat bahkan mahasiswa itu dibayangi rasa takut. Nah yang sekarang ini harus dipelihara, karena juga berdampak pada pemerintahan yang lebih baik,” tandasnya.

Mantan aktivis mahasiswa di zaman reformasi lainnya adalah Ferry Firmawan. Bersama sejumlah rekannya, mantan Presiden Mahasiswa Fakultas Teknik Undip ini berhasil menggerakkan ribuan mahasiswa untuk turun ke jalan yang dipusatkan di kawasan Simpang Lima, Semarang saat gerakan massa besar Mei 1998.

Kini, sudah 20 tahun berlalu, tetapi spirit reformasi masih terus bergelora dan diperjuangkan lewat berbagai kebijakan. Saat ini, ia duduk menjadi wakil rakyat di DPRD Jateng. Baginya, reformasi bukan hanya simbol yang selesai pada 1998,  tetapi bagaimana mewujudkan pemerintahan yang bersih dan kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia.

“Masih terus teringat dalam pikiran, bagaimana spirit mahasiswa kala itu untuk bersama-sama memperjuangkan nasib rakyat Indonesia. Hanya kepentingan rakyat, tidak ada yang lain,” kata Ferry Firmawan.

Ferry mengakui saat 1998, situasi sangat panas. Semua itu dipicu merebaknya Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) di era Presiden Soeharto. Bersama ribuan mahasiswa Undip, Ferry turun ke jalan melakukan aksi longmarch dari Kampus Undip Tembalang menuju Simpang Lima. “Waktu itu saya bersama M Saleh, berdua kami bergantian orasi dari Tembalang ke Simpang Lima jalan kaki. Dan semua satu suara dan begitu semangat bersama,” kenangnya.

Di Simpang Lima, seluruh mahasiswa dari Jateng berkumpul. Di depan Masjid Raya Baiturrahman didirikan panggung besar untuk orasi. Mereka tidak memandang suku ras agama atau perbedaan. Yang ada bagaimana bisa menciptakan pemerintahan yang bebas KKN.

Sebelum aksi besar itu, ia bersama sejumlah mahasiswa di Jateng melakukan konsolidasi hampir setiap malam. Sejumlah mahasiswa sering mendapatkan intimidasi dari aparat pemerintahan. Bahkan, di kalangan mahasiswa disusupi agar berbagai aksi terpantau pihak keamanan negara. Aksi penculikan dan penembakan mahasiswa di ibu kota merupakan bentuk intimadasi yang besar. “Pernah ketika aksi di Kodam saya ditodong pakai senjata laras panjang. Dan memang situasinya memanas sampai seluruh daerah,” katanya.

Menurut dia, spirit reformasi ini harus terus dijaga sebagai bekal memperbaiki kesejahteraan dan kebesaran NKRI. Ia juga mengajak agar mahasiswa tak hanya berkutat pada dunia akademis, tetapi juga organisasi kampus. Karena disitulah, pengalaman dan gemblengan mental didapatkan, sehingga peran mahasiswa sebagai agen of change benar-benar terwujud. Skill atau keahlian khusus harus dimiliki agar bisa terus bersaing di era modernisasi. “Tidak cukup hanya akademik, tapi harus dilengkapi kepekaan sosial. Perlu spirit nasionalisme dan spirit leadership-entrepreneurship,” tambahnya.

Pengalaman sebagai aktivis di era reformasi juga dirasakan Nugroho Budiantoro. Mantan pengurus Komisariat Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Fakultas Hukum (FH) Unissula dan Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) FH Unissula ini sangat aktif melakukan aksi di jalanan untuk melengserkan Presiden Soeharto. Bahkan, ia ingat betul nama-nama rekannya yang ikut dalam aksi  pada 1998 itu. Di antaranya, Joko Widodo (sekarang menjadi hakim di PN Sukoharjo), Heri Wiyanto (jaksa di Sumatera Utara), dan Slamet Harianto (Kepala desa di Pemalang). Selain itu, juga aktivis Undip Semarang saat itu, seperti Raja Rajuanda, Abdul Kadir Karding dan Susan.

Selain nama tersebut, juga ada sejumlah senior yang masih diingatnya, seperti Agus Wijayanto, Gunarto, Jawade Hafidz (sekarang menjadi dosen di Unissula), Mahfud Ali (dosen Untag Semarang), serta almarhum Ahmad Zaid (mantan Ketua Ombudsman RI Jateng).

Sejak pertengahan 1997, ia kerap turun ke jalan. Aksi di luar kampus yang pertama dilakukan di gedung DPRD Provinsi Jateng. Ia dan rekan-rekannya bahkan pernah nekat membajak  bus Damri  yang melintas di depan kampus Unissula. Saat itu, para penumpang diminta turun, lalu bus diminta masuk kampus untuk mengantarkan para mahasiswa yang akan demo ke DPRD Jateng. Setiap kali aksi, massa yang ikut bisa mencapai 500-an mahasiswa ditambah masyarakat umum dan mahasiswa di luar Unissula bisa sampai ribuan.

“Saat itu, kami masuk ke took-toko yang kebanyakan milik warga China. Kami minta baik-baik untuk memberikan logistik solidaritas bagi mahasiswa. Ada yang berikan uang, makan, minum, sekali demo bisa dapat sampai 3 pikap, tapi langsung dibagi pas demo,” kenang mahasiswa Magister Ilmu Hukum Universitas Semarang ini.

Aksi kembali memuncak, setelah Timor Timur lepas dari Indonesia. Ia dan rekan-rekannya sempat terlibat bentrok di Makodam IV/Diponegoro. Saat itu, sebuah truk kontainer dibajak mahasiswa ditabrakkan ke pagar markas TNI di Watugong, Semarang. Akibat  aksi tersebut, para mahasiswa digebukin dan 7 orang ditahan, namun bisa kembali dilepas.

Ia mengaku pernah merasakan kondisi mencekam  saat ada isu kawasan Pekojan, Pecinan dan Mataram bakal dibakar. Namun ternyata isu pembakaran itu hanya terjadi di Solo.“Kemudian kami menarik semua kekuatan kembali ke kampus. Kondisi Semarang saat itu memang mencekam,” kenangnya.

Nugroho pensiun dari dunia pergerakan sekitar 2000 lalu, karena diminta para seniornya untuk segera menyelesaikan kuliah. Selanjutnya, ia memutuskan magang di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jateng (2000 hingga 2003), kemudian berlanjut menjadi staf kontraktor hingga 2005 dan kembali magang di LBH. Pada 2010, ia resmi dilantik dan disumpah menjadi advokat dari Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) hingga sekarang bergabung di Peradi Semarang versi pimpinan Theodorus Yosep Parera. (tsa/fth/jks/aro)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...

Air Semut

Kota ini di tengah Gurun Gobi. Jaraknya empat jam dari kota di baratnya. Juga empat jam dari kota di timurnya. Kota yang di barat itu,...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -