20 Tahun, Tujuan Reformasi Belum Tercapai

328
REFLEKSI REFORMASI : Aan Rusdianto (kedua dari kanan) saat menceritakan pengalamannya selama masa reformasi 1998 dalam Refleksi 20 Tahun Reformasi di TBRS, Minggu (20/5). (PRATONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
REFLEKSI REFORMASI : Aan Rusdianto (kedua dari kanan) saat menceritakan pengalamannya selama masa reformasi 1998 dalam Refleksi 20 Tahun Reformasi di TBRS, Minggu (20/5). (PRATONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG–Duapuluh tahun lalu, tepatnya 21 Mei 1998, Soeharto menyatakan berhenti dari jabatannya sebagai presiden Republik Indonesia (RI). Momen jatuhnya pemerintahan Orde Baru ini selanjutnya dikenal sebagai awal dari Orde Reformasi. Namun setelah 2 dasawarsa berlalu, cita-cita gerakan reformasi tentang demokrasi dan keadilan untuk rakyat dinilai belum tercapai seluruhnya.

“Orde Baru seperti terus diternakkan. Kalau dulu Orde Baru terpusat pada satu kelompok, sekarang perilaku Orde Baru banyak ditemui di lapisan masyarakat, terutama ormas yang mengedepankan kekerasan,” ujar Dosen Unika Soegijapranata Donny Danardono dalam acara Refleksi 20 Tahun Reformasi yang berlangsung di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, Minggu (20/5).

Dosen Filsafat ini melanjutkan, yang perlu dilakukan saat ini untuk mewujudkan cita-cita reformasi adalah kemauan untuk mengurai rantai kekerasan. Dalam sejarah Indonesia, mulai masa kemerdekaan sampai saat ini, banyak kasus-kasus kekerasan yang menguap begitu saja tanpa penyelesaian. “Sejak Indonesia merdeka, kita gemar melakukan kekerasan tapi tidak pernah diungkap secara legal di pengadilan,” tambah Donny.

Aktivis Gerakan Mahasiswa 1998 Aan Rusdianto dalam kesempatan yang sama mengatakan, saat ini banyak aktivis 98 yang telah terjun di bidang politik. Mereka tergabung dalam berbagai partai politik, bahkan ada yang menjadi anggota legislatif maupun aktif di pemerintahan. Meski demikian, masih banyak agenda  reformasi yang tidak bisa terwujud.

“Aktivis-aktivis 98 yang kini banyak di partai, tidak punya agenda bersama untuk mewujudkan cita-cita reformasi,” tutur Aan yang sempat menjadi korban penculikan dan penyiksaan oleh Tim Mawar dari Kopassus pada Maret 1998.

Dalam kesempatan ini, alumni Fakultas Sastra Universitas Diponegoro (Undip) juga menceritakan pengalamannya selama dalam pergerakan mahasiswa di era 90-an. Seperti membuat dan mengedarkan selebaran-selebaran gelap berisi perlawanan terhadapa pemerintahan Orde Baru di sekitar TBRS dan kampus Undip. “Dulu kalau menempelkan selebaran pakai lem kanji. Kalau lagi lapar dan tidak ada makanan, sebagian kanji buat mengelem selebaran sebagian lagi buat dimakan,” ujarnya sambil tertawa. (ton)