Pendidikan Karakter lewat Filosofi Wayang

228
Oleh: Sri Suharni  SPd
Oleh: Sri Suharni  SPd

RADARASEMARANG.COM – KEMAJUAN teknologi dan komunikasi yang tidak digunakan sebagaimana fungsi dan manfaatnya, sangat mempengaruhi sikap dan perilaku siswa. Budi pekerti dan Tata krama mulai luntur di kalangan peserta didik.  Seorang pelajar ada yang berani melakukan perbuatan yang menyimpang dari norma agama dan norma susila, mereka tidak punya rasa malu dan takut akan akibat yang mereka perbuat yang nantinya akan merugikan diri sendiri, bahkan merugikan lingkungan sekitarnya.  Ada juga yang sudah tidak menghargai orang tua dan gurunya, berani membentak atau melawan apabila melakukan kesalahan ditegur dan diingatkan.

Bahasa Jawa sebagai  muatan lokal diharapkan menjadi salah satu mata pelajaran yang dapat membentuk Moralitas tinggi dan budi pekerti luhur. Siswa sudah banyak terkontaminasi berbagai pola kebudayaan yang belum tentu sesuai dengan kepribadian bangsa sehingga agak susah untuk menarik kembali ke suasana njawani.  Pola pendidikan yang bersifat demokratis telah membentuk siswa untuk lebih aktif menyatakan sikap dalam proses belajar mengajar. Pergeseran –pergeseran tersebut menuntut guru untuk lebih inofatif mencari media, ataupun model pembelajaran yng menarik bagi siwa tidak hanya cerdas dan trampil namun mengarah ke perubahan sikap dan perilaku siswa yang santun dan berkarakter.  Oleh sebab itu, penanaman karakter sangat diperlukan untuk membentuk manusia-manusia yang tangguh menghadapi tantangan jaman di masa-masa yang akan datang yang semakin maju.

Dari latar belakang tersebut penulis melakukan upaya pendidikan karakter lewat filosofi wayang

Pendidikan karakter merupakan keberadaan manusia sebagai penghayat nilai. Keberadaan ini menggambarkan struktur dasar manusia sebagai makhuk yang memiliki kebebasan, namun sekaligus sadar akan keterbatasanya. Olehsebab itu, orang yang berperilaku tidak jujur, kejam atau rakus dikatakan sebagai orang yang berkarakter jelek, sementara orang yang berperilaku jujur, suka menolong dikatakan sebagai orang yang berkarakter mulia.  Dalam Kamus Poerwadarminta, karakter diartikan sebagai tabiat ;watak; sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang daripada yang lain.

Pendidikan Karakter merupakan bentuk kegiatan manusia yang didalamnya terdapat suatu tindakan yang mendidik diperuntukkan bagi generasi selanjutnya. Pendidikan karakter berfungsi meningkatkan peradaban manusia dan bangsa yang baik didalam pergaulan. Pendidikan karakter dapat dilakukan bukan hanya disekolah, melainkan juga dilingkungan keluarga dan dimasyarakat.

Wayang merupakan bagian yang tidak terpisah dari budaya bangsa. Wayang mengandung unsur-unsur filosofis, budi pekerti yang bisa diteladani oleh generasi muda penerus cita-cita bangsa.

Budaya ini juga mengacu kepada tujuan nasional, di antaranya mencetak manusia berbudi pekerti luhur. Dengan demikian diharapkan para generasi muda mendatang selalu ikut melestarikan Wayang sebagai budaya bangsa. Penulis menyajikan cerita wayang Ramayana melalui video yang ditayangkan di LCD, siswa melihat dan mendengarkan ceritanya sambil dijelaskan guru. Kemudian siswa mendiskusikan nama-nama tokoh dan menulis perwatakannya. Misalnya, tokoh Anoman yang baik hati, suka menolong, Jujur, dan tanggung jawab. Jatayu suka memenolong sesama, baik hati, dan kerja keras untuk membela kebenaran walaupun pait adanya. Rama mempunyai watak sabar, dan tegas dalam menghadapai masalah. Rahwana watak angkara murka, jahat, kejam dan sombong.

Penulis berharap agar tokoh- tokoh wayang yang berwatak baik/ ksatria dan utama dapat dijadikan teladan. Sebaliknya tokoh yang berwatak angkara murka tidak perlu dicontoh.  Semoga tulisan ini bisa menginspirasi pembaca, khususnya guru Bahasa Jawa agar dapat melakukan pendidikan karakter melalui filosofi wayang. Teriring doa semoga generasi muda penerus perjuangan bangsa ini menjadi anak-anak yang beriman, bertaqwa dan berbudi pekerti yang luhur. (tj3/2/aro)

Guru SMP Negeri 13 Semarang