GOLDEN SUNRISE: Pemandangan indah golden sunrise Posong diburu banyak wisatawan lokal maupun mancanegara. (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR KEDU)
GOLDEN SUNRISE: Pemandangan indah golden sunrise Posong diburu banyak wisatawan lokal maupun mancanegara. (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR KEDU)

RADARASEMARANG.COM – RUTINITAS Kerja sehari-hari terkadang terasa membosankan. Terlebih memasuki bulan puasa, rutinitas kerja seolah menjadi pekerjaan yang memberatkan. Pilihan berwisata membunuh kebosanan bisa menjadi sebuah pilihan. Termasuk berwisata di daerah pegunungan dimana daerah Kabupaten Temanggung punya pilihan yang sangat tepat.

Saat ini Temanggung memiliki wisata Posong, yaitu kawasan wisata baru yang terletak di jalan Raya Wonosobo-Temanggung KM 9, tepatnya di kaki Gunung Sindoro, Desa Tlahab, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung. Wisata Posong dikelola secara swadaya oleh masyarakat desa Tlahab sehingga menjadi desa wisata yang luar biasa. Wisata Posong dapat ditempuh dari arah Jogjakarta atau Semarang maupun dari arah Banjarnegara.

Lokasi menuju wisata Posong harus melalui jalan berbatu (makadam) yang tertata rapi sepanjang 3,5 km dan memakan waktu sekitar 1 jam. Anda harus ekstra hati-hati karena jalan cukup menanjak memerlukan kendaraan yang ekstra sehat dan kuat. Jika kendaraan anda kurang sehat maka bisa menggunakan jasa ojek dari pengelola wisata Posong dengan tarif ojek Rp 20.000 sekali naik dan tarif turun Rp 15.000.

Jika ingin mendapatkan pemandangan matahari terbit (sunrise) yang indah maka disarankan lebih baik datang pukul 04.00 dan harus sampai di spot utama sekitar pukul 05.00 WIB. Jika beruntung, anda akan menyaksikan beauty of nature, pemandangan golden sunrise yang memukau, samudera awan hingga siangnya mendapatkan pemandangan bersih, bebas dari awan. Tak ketinggalan pula, pemandangan puncak Merbabu, Merapi, Telomoyo, Ungaran, Muria, Sumbing dan Sindoro. Tujuh  puncak gunung sekaligus bisa kita lihat dari atas sini.

Bagi anda yang meninginkan menghabiskan sepanjang hari menikmati pemandangan sunrise serta sunset di Wisata Posong, jangan khawatir. Pengelola wisata posong menyediakan tambahan fasilitas yang cukup terjangkau untuk menginap. Ketua Pengelola Desa Wisata Posong, Zuniyanto menuturkan, pihaknya menyediakan beragam fasilitas untuk memudahkan para pengunjung. Beberapa paket camp pun disediakan pihaknya, baik menghabiskan malam dengan kambing guling maupun permintaan lainnya tergantung pesanan pengunjung. “Tarif sewa camp mulai Rp 60.000 sampai Rp 150.000 per pengunjung. Semua sudah plus tiket dan makan. Jadi dari awal tiket masuk bisa menanyakan ke petugas kami,” tutur Zuniyanto.

Zuniyanto menuturkan, perjuangan dirinya dan masyarakat desa Tlahab membangun dan mengembangkan desa wisata Posong tidak mudah. Zuniyanto menceritakan, awal mula dirinya membangun Posong yang hanya berupa kawasan kosong namun memiliki pemandangan indah, dianggap gila oleh sebagian penduduk. “Awal mula merintis tahun 2007 dan mulai ramai tahun 2011,” cerita Zuni.

Keinginannya mengembangkan Posong karena melihat Posong memiliki sebuah keindahan yang alami. Zuni menuturkan, selain bekerja di hotel, dirinya juga menjadi tour guide untuk tamu-tamu hotel seperti Borobudur, Jogjakarta, Dieng dan sebagainya. Pada saat itu, Zuni menceritakan, keindahan Posong diabadikannya melalui kamera pocket dan dicetak melalui kertas HVS kemudian dipajang di lobi hotel tempatnya bekerja. “Rata-rata tamu menjadi bertanya dan minta diantar kesana. Alhamdulillah saya antar ke Posong dan tamu saya minta standby pukul 04.00 untuk ke Posong. Tamu puas dan senang, dan dari mulut ke mulut banyak yang tahu,” tuturnya.

Zuni menuturkan, pada tahun 2009 dirinya merasa kewalahan dan berpikir untuk mengumpulkan teman-teman di desa. Pada saat itu, perwakilan dari 23 RT mengirim perwakilan sehingga terkumpul 60 orang. Kemudian, 60 orang pemuda berkumpul di rumah Zuni untuk membahas pengembangan Posong ke depan. “Namun demikian, dari 60 pemuda hanya 13 pemuda yang ikut dan sepakat dengan pemikiran saya. Lainnya pesimis dengan rencana pengembangan Posong,” urai Zuni.

Meski Zuni dan 13 pemuda lainnya hanya bekerja sendiri dengan modal nekat dan modal sendiri, serius mengembangkan wisata Posong. Kemudian, menurut Zuni, akhirnya Pemkab Temanggung menawari bantuan untuk pengembangan Posong. “Akhirnya kami membuat proposal pada tahun 2011 dan mendapat bantuan hibah dari dana bagi hasil cukai tembakau sebesar Rp 275 juta. Kami kembangkan untuk membangun gazebo, toilet, mushola dan tempat parkir. Setelah pembangunan itu, tempat menjadi semakin ramai,” tutur Zuni.

Hingga kini, menurut Zuni, wisata Posong telah menjadi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dikelola oleh desa dan telah didatangi ratusan ribu pengunjung. Bahkan menurut Zuni, wisata Posong sudah dikenal oleh dunia. “Ada tiga Negara yang tertarik melalui melalui agen tour yaitu Nigeria, Belanda dan Jerman,” jelas Zuni.

Salah satu pengunjung asal Kabupaten Magelang, Dian Vita, menuturkan bahwa pemandangan di Posong sangat memukau meski harus menempuh jalan berbatu yang cukup menakutkan. “Namun sayang, pas naik ada kabut jadi tidak bisa maksimal melihat pemandangannya. Jika dikembangkan lebih bagus, wisata Posong akan semakin menarik dan lebih menjual,” tutur Dian (agus hadianto/bas)