Menguatkan Nilai Anak dengan Tauhid

206
Oleh : Misbah Zulfa Elizabeth
Oleh : Misbah Zulfa Elizabeth

RADARSEMARANG.COM – KASUS kekerasan terhadap anak terus terjadi dan secara kualitas maupun kuantitas terus meningkat. Kasus yang baru saja terjadi dan menjadi headline di semua media massa adalah kekerasan berupa dua kasus bom bunuh diri di Surabaya yang baru saja terjadi. Ini merupakan klimaks dari kekerasan terhadap anak, yang pelakunya adalah orang yang memiliki hubungan yang sangat dekat dengan anak, yaitu orang tuanya sendiri. Kasus ini menjadi  ironi ketika berbagai pihak berbicara mengenai hak anak, perdamaian, dan gerakan anti kekerasan, justru peristiwa-peristiwa kekerasan terhadap anak terus menerus mencuat.

Kondisi ini harus menjadi keprihatinan bersama, karena bagaimanapun anak merupakan pemangku masa depan bangsa. Ungkapan yang menyatakan bahwa Anak merupakan harta yang paling berharga, Anak sebagai anugerah Allah SWT,  Anak sebagai amanah atau titipan dari Allah, merupakan ekspresi mengenai nilai anak yang seharusnya diasuh, diperlakukan dengan benar, karena harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah dan menentukan arah peradaban manusia pada masa yang akan datang. Apabila anak mengalami berbagai tindak kekerasan, bisa jadi akan muncul fenomena lost generation. Bila ini terjadi, maka malapetaka kemanusiaan tidak dapat dielakkan dan bakal terjadi.

Oleh karena itu, dalam bulan yang penuh rahmah dan maghfiroh ini, sudah semestinya kaum muslimin mengkaji kembali visi kemanusiaan kita berkait dengan nilai anak. Anak sebagai penopang dan penanggung jawab peradaban manusia di masa yang akan datang tidak dapat muncul dengan sendirinya, namun harus dipersiapkan. Anak yang memiliki akhlak yang mulia itu yang menjadi ciri khalifatulloh fil ardl (wakil Allah di muka bumi). Istilah ini berkait dengan peran keselamatan, perdamaian, kesejahteraan, dan kemuliaan yang akan diemban oleh anak ketika menjadi generasi pengganti kelak.

Islam secara tegas menunjukkan di dalam Alquran Surat Lukman ayat 12-19 bahwa pendidikan anak harus memiliki prinsip. Prinsip yang utama adalah tauhid. Ini termuat dalam ayat ke-13 yang artinya Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar. Prinsip selanjutnya secara berturut-turut menurut urutan ayat dalam surat tersebut adalah berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua, menghargai amal shalih, mendirikan salat dan mengerjakan amal baik serta mencegah kemungkaran, bersabar, tidak sombong dan angkuh, serta bersuara lembut.

Prinsip pendidikan dalam kerangka pembentukan manusia sebagaimana ditetapkan di dalam Alquran merupakan prinsip yang komprehensif dan holistik. Prinsip pendidikan tersebut mencakup aspek keyakinan akan ketuhanan, ibadah (worship) serta hubungan kemanusiaan, baik secara genealogis maupun sosial. Dengan menetapkan tauhid sebagai prinsip utama, Islam menghendaki bahwa segala prinsip yang lain disinari dengan ruh tauhid. Dengan tauhid sebagai prinsip utama, maka berbuat baik dan berbakti kepada orang tua yang dilakukan oleh anak merupakan upaya berbuat baik dan bakti yang dilandasi tauhid. Demikian pula berbagai aktivitas lainnya.

Dengan mempertimbangkan bahwa basis masyarakat adalah individu, maka tampak jelas bagaimana Islam memulai perubahan itu melalui pendidikan individu. Lahirnya individu-individu unggul dan dididik secara baik pada akhirnya akan bermuara pada pembentukan masyarakat unggul dan berdirinya umat dan bangsa yang ideal. Pembentukan individu seorang anak menjadi tanggung jawab orang tua agar anak menjadi individu yang bermanfaat saat mereka dewasa kelak khirun naas anfa’uhum linnas (Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain).

Peneguhan nilai anak agar menjadi generasi pengganti yang mampu membentuk peradaban yang lebih baik juga dipandu dengan doa, sebagaimana dituntunkan di dalam Alquran Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Furqan: 74). (*/ida)

*) Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UIN Walisongo & Sekretaris Walisongo Mediation Centre Semarang.