Oleh : Slamet Suroso MPd *)
Oleh : Slamet Suroso MPd *)

RADARSEMARANG.COM – SUDAH saatnya para guru harus bangkit menggalakkan budaya literasi dengan serius, yakni membiasakan diri untuk membudayakan membaca dan berlatih menulis. Dengan budaya literasi ini, guru bisa lebih baik dan dapat memahami  persoalan-persoalan yang dihadapi.

Saat ini, gerakan literasi mulai digalakkan kepada seluruh lapisan masyarakat. Karena merupakan hak setiap orang untuk belajar sepanjang hayat. Maka, guru yang merupakan pendidik perlu sekali membiasakan budaya literasi.

Literasi merupakan kata istilah yang familiar bagi banyak orang. Namun, tidak banyak dari kita yang memahami makna dan definisinya. Jikapun tahu dan memahami belum tentu melakukan. Literasi merupakan kemampuan melek huruf yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis. Kita dituntut untuk mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca ataupun menulis.

Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat memiliki dampak terhadap perubahan budaya literasi di kalangan guru. Para guru kini lebih banyak membaca informasi lewat gawai yang belum tentu kebenarannya. Kehadiran gawai dan internet di satu sisi bermanfaat, namun di sisi lain membuat orang malas untuk membaca buku. Meski tidak semuanya begitu, tapi ada beberapa contoh kasus. Misalnya, mereka hanya suka membaca whatsapp, facebook, instagram daripada baca buku. Mereka lebih asyik dan terbiasa menulis status dari pada menulis artikel, cerpen, puisi, apalagi buku.

Menciptakan budaya leterasi di kalangan guru membutuhkan proses panjang, mulai dari guru perlu menumbuhkan kemauan dan kemampuan untuk dapat memahami apa yang dibaca oleh guru itu sendiri dan sarana yang memadai. Seperti tersedianya buku-buku, surat kabar dan majalah. Lingkungan yang kondusif juga diperlukan untuk mendukung terciptanya budaya literasi.

Selain itu, budaya literasi juga terhambat dengan masih tumbuh suburnya budaya tutur (lisan) daripada budaya baca. Hal ini semakin menambah rendahnya minat baca. Budaya ini menjadi kendala utama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya guru yang seharusnya mampu mengembangkan diri dalam menambah ilmu pengetahuannya secara mandiri melalui membaca. Hal ini tampak dari kebiasaan-kebiasaan suka ngobrol, membuka Youtube dan menonton TV.

Sebagai guru, kita perlu memotivasi diri untuk membaca sebanyak-banyaknya agar pengetahuan kita bertambah. Menulis apapun agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Sebab, melalui menulis akan banyak peluang terbuka terutama untuk pengembangan diri. Teruslah menulis, menulis apa saja. Kalau memang sedang tidak di depan komputer, kalau sedang ada ide yang cemerlang bisa direkam di telepon seluler terlebih dahulu atau ditulis pada secuil kertas. Untuk selanjutnya, bila memungkinkan dapat dikembangkan menjadi sebuah tulisan, seperti artikel, cerpen ataupun puisi. Yang penting semangat menulis ini jangan pernah padam. Semangat menulis perlu terus digelorakan, diasah bahkan baik pula dijadikan hobi.

Gerakan literasi di sekolah memang sudah dijalankan. Namun kebanyakan masih terbatas menyasar pada siswa. Siswa ditugasi membaca buku-buku perpustakaan. Bahkan bukan hanya buku-buku pelajaran saja, tapi juga buku-buku umum dan karya sastra baik puisi maupun buku cerita. Malah bukan hanya membaca saja, siswa juga ditagih untuk menulis rangkuman apa yang dibaca. Namun, untuk guru belum terlihat gerakannya. Seharusnya guru-guru dan karyawan juga ikut membaca.

Jika ingin bisa menulis, harus banyak membaca. Membaca tidak sekedar membaca, tetapi membaca buku-buku yang bermutu, membaca buku yang sesuai dengan dunia kita, yaitu diutamakan buku-buku yang berkaitan dengan pendidikan. Intinya membaca beraneka ragam bacaan. Dengan tulisan ini, diharapkan semakin menggugah semangat guru untuk menulis di tengah makin dominannya penggunaan gawai. (tj3/2/ida)

*) Guru SMP Negeri 2 Sapuran-Wonosobo