RAJIN : Maghfira Lisa didampingi ibu kandungnya, Puji Sugiarti, penuh semangat mendapatkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. (SIGIT ANDRIANTO)
RAJIN : Maghfira Lisa didampingi ibu kandungnya, Puji Sugiarti, penuh semangat mendapatkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. (SIGIT ANDRIANTO)

RADARSEMARANG.COM – Sempat tidak diterima di sekolah umum, justru berhasil menduduki peringkat teratas hingga lulus SMP. Ia juga pernah menyabet harapan 1 lomba fashion show Putri Bunga se-Jateng. Bagaimana semangat Lisa untuk terus mengusahakan haknya dalam memperoleh pendidikan?

SIGIT ANDRIANTO

PENDIDIKAN adalah hak setiap warga negara. Itulah yang sedang diperjuangkan Maghfira Lisa. Dengan keterbatasan yang dimiliki, Lisa tetap semangat untuk terus menempuh pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi.

Secara fisik, Lisa memang tidak berbeda dengan lainnya, pun kemampuan akademik. Lisa merupakan penyandang tuna rungu. Ia memiliki keterbatasan untuk melakukan komunikasi. Hal inilah yang membuat Lisa kerap menghadapi kendala saat memasuki sekolah umum. Banyak yang tidak mempercayai kemampuan perempuan kelahiran 1997 ini.

”Awalnya di SLB, kemudian oleh guru diminta ke sekolah umum. Karena memang IQ-nya sesuai untuk di sekolah umum,” jelas sang ibu, Puji Sugiarti, saat menemani Lisa di jeda ujian SBMPTN di Undip, belum lama ini.

Lulus dari SD Muhammadiyah 18, Lisa melanjutkan ke MTs 2 Semarang. Ia sempat ditolak dengan alasan, khawatir tidak mampu mengikuti teman-temannya. Padahal, semua tes ujian masuk dapat dilaluinya dengan baik. Syukur, ada guru yang bersikukuh agar Lisa bisa diterima di sekolah tersebut, atas dasar hasil tes. Guru itu pula yang berpesan kepada Lisa untuk membuktikan bahwa dirinya memang bisa. Dan benar, Lisa secara berturut-turut mampu menduduki peringkat atas.

”Kelas satu semester awal peringkat 3, semester dua peringkat dua. Setelah itu kemudian peringkat satu terus,” cerita sang ibu sembari mengatakan bahwa hasil itu yang dibuktikan Lisa kepada guru yang sempat menolaknya.

Lulus SMP Lisa masuk ke SMA Sultan Agung. Di SMA, Lisa mulai mengasah keterampilannya. Ia mengikuti les make up dan juga fashion. Keterampilan ini pula yang membuatnya sempat menjuarai lomba fashion show tingkat Jawa Tengah.

Semangat Lisa untuk belajar memang tidak pernah terhenti. Lulus SMA, ia bertekad melanjutkan belajar di perguruan tinggi. Ia sempat daftar di Undip, sayangnya nasib baik belum berpihak kepadanya. Tidak diterima di Semarang, Lisa meminta untuk kuliah di luar kota. Di sebuah universitas yang mana para difabel mendapat pendampingan saat kuliah. ”Saya sebagai orang tua nggak tega kalau anak kuliah jauh. Meskipun sebenarnya tidak apa-apa sih. Dia bersikukuh,” jelasnya.

”Jeda satu tahun kemarin ia gunakan untuk mengasah kemampuan make up nya. Ini daftar lagi ambil jurusan Tata Kecantikan Universitas Negeri Semarang (Unnes),” jelas sang ibu sembari menambahkan, sudah ada beberapa orang yang mempercayai Lisa bisa make up untuk beberapa acara.

Kini, Lisa masih harap-harap cemas menunggu hasil pengumuman SBMPTN. Meskipun sebelumnya ia telah mempersiapkan dengan belajar keras. Persiapan ia lakukan dengan belajar secara mandiri hingga larut malam. Di samping belajar, Lisa juga mempersiapkan sisi kerohaniannya. ”Dia memang rajin salat malam, puasa. Dia pintar bahasa Arab juga, karena di sekolahnya SMA diajarkan bahasa Arab,” jelas Puji.

Baik Lisa maupun sang ibu berharap, ia bisa diterima di perguruan tinggi yang ia tuju. Dengan kuliah di tata kecantikan, ia ingin bisa mengasah keterampilannya. Lebih lanjut, ia ingin bisa membuka lapangan kerja sendiri tanpa ikut orang. ”Kalau bisa memperkerjakan orang malah,” jelasnya. (*/ida)