Terorisme dan Perjumpaan Sosial

218
Oleh: Nur Hasyim
Oleh: Nur Hasyim

RADARSEMARANG.COM – DI tengah menyeruaknya kembali aksi-aksi terorisme yang mengguncang beberapa wilayah di Indonesia dan di tengah perdebatan tentang strategi apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah ini, mungkin kisah hidup Ali Fauzi, salah satu dari empat bersaudara (Amrozi, Mukhlas, dan Ali Imron) yang terlibat dalam aksi bom Bali I (12 Oktober 2002), dapat dijadikan sebagai inspirasi untuk mencari cara yang beradab dalam menyelesaikan masalah terorisme di negeri ini.  Kini Ali Fauzi telah menjadi manusia baru, bukan lagi negara di bawah panji khilafah yang ia suarakan, bukan kebencian terhadap liyan, bukan pembenaran menumpahkan darah mereka yang dianggap kafir dan murtad, tapi ia menyuarakan ajakan kepada Islam yang mengajarkan welas asih kepada sesama. Dengan Lembaga Swadaya yang didirikannya, Ali Fauzi gigih berdakwah mengajak narapidana terorisme untuk menghentikan aksi teror mereka (Cholil, 2018)

Proses seperti apa yang membawa Ali fauzi kepada kehidupannya yang sekarang? Meminjam istilah Haryatmoko (2003), “Perjumpaan” yang telah mengubah hidup Ali Fauzi. Perjumpaannya dengan seorang petinggi polisi yang membantunya berobat ke rumah sakit telah menghilangkan pandangan negatifnya tentang polisi. Perjumpaan dengan korban-korban bom JW Marriot Jakarta di Irlandia telah meluruhkan hatinya  dan menyadarkannya bahwa aksi yang dulu ia anggap sebagai iman ternyata telah menghadirkan penderitaan tak terperi bagi mereka yang menjadi korban (Cholil, 2018).

Bukan ceramah, khutbah, petuah yang mengubah jalan hidup Ali Fauzi tapi “perjumpaan-perjumpaan” dengan sesama manusia yang telah mengubah hidup mantan teroris itu. Perjumpaan-perjumpaan ini bisa jadi merupakan wujud kongkrit dari strategi disengagement dalam upaya deradikalisasi (Huda, 2018) yang mengandaikan upaya deradikalisasi tidak dimulai dengan mengubah cara pandang (cognitive) teroris akan tetapi melalui perubahan perilaku (behavior) dan perubahan perilaku ini dilakukan dengan menciptakan ruang-ruang pertemuan mantan anggota jaringan teroris dengan masyarakat pada umumnya.

Strategi disengagement melalui penciptaan ruang-ruang perjumpaan ini layak untuk dipertimbangkan karena paham radikal, sempit dan paham pembenaran penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan konflik di antara kelompok yang berbeda cenderung menguat di tengah masyarakat yang pengelompokkan sosialnya kental dan minim perjumpaan sosial. Dalam situasi seperti ini konsep in-group dan out-group atau dalam bahasa arab minna (kelompok kita) dan minhum (kelompok mereka) cenderung menguat dan pada akhirnya akan tumbuh subur prasangka negatif antara yang satu dan yang lainnya. Prasangka ini akan menjadi bara yang tinggal menunggu pemantik untuk dapat membakar dan menghanguskan.

Dalam konteks ini, Ramadan menjadi momentum penting untuk mendorong menguatnya perjumpaan antara kelompok sosial yang beragam di Indonesia. Puasa yang menjad syariat utama bulan Ramadan menekankan spirit menahan diri dari perbuatan yang merusak, spirit membangun empati dan solidaritas sosial menjadi nilai-nilai penting untuk mendorong perjumpaan sosial yang lebih massif untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Perjumpaan sosial ini juga menjadi perwujudan akan konsep ta’aruf (mengenal) sebagaimana tertuang di dalam surat Al Hujurat (10) yang berbunyi “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia disisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa.” (*)

Dosen Fakultas Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UIN Walisongo