Terjebak Desain di Pasaran, Angkat Ciri Khas Mantingan

Eko Haryanto, Dosen Unnes yang Mengajak Pengrajin Ukir Berinovasi

397
INOVASI UKIR: Eko haryanto (tengah) resmi menjadi doktor Prodi Pendidikan Seni Pascasarjana Unnes. (kanan) Contoh ragam hias ukir Mantingan yang dipamerkan. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
INOVASI UKIR: Eko haryanto (tengah) resmi menjadi doktor Prodi Pendidikan Seni Pascasarjana Unnes. (kanan) Contoh ragam hias ukir Mantingan yang dipamerkan. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG
ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG

RADARSEMARANG.COM – Ukiran Jepara kerap terjebak dengan desain yang ramai di pasaran. Akibatnya, pasar jenuh, hingga harga produk ukir yang dibuat justru jatuh. Eko Haryanto, Dosen Seni Rupa Universitas Negeri Semarang (Unnes) mencoba menawarkan inovasi dengan memanfaatkan ragam hias Mantingan agar para pengrajin tidak merugi. Seperti apa?

ADENNYAR WYCAKSONO

PULUHAN desain kayu hias mantingan terpajang rapi di sebuah pameran tunggal yang dilakukan oleh Eko Haryanto di Gedung Pasca Sarjana Unnes. Mulai dari seni ukir, almari, dan masih banyak lagi dengan tingkat kerumitan tinggi serta harga jual yang tinggi. Pameran tunggal itu digelar di sela Eko mengikuti sidang terbuka gelar doktor lewat disertasinya berjudul ‘Pemanfaatan Ragam Hias Mantingan sebagai Strategi Inovasi Pengembangan Industri Kreatif Kerajinan Kayu Jepara.’ Lewat penelitiannya itu, Eko berharap para pengrajin bisa melakukan inovasi, sehingga produk yang dihasilkan bernilai jual lebih tinggi.

“Para pengrajin ukiran kayu Jepara sering kali terjebak mengadopsi desain ukir yang sedang ramai di pasar, sehingga mengakibatkan harga turun. Persoalan ini terjadi karena minim desain yang unik, khas, dan asli, yang menggunakan identitas lokal Jepara,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ukiran kayu Jepara khususnya ragam hias Mantingan, lanjut dia, saat ini kurang dieksplorasi. Hal tersebut disebabkan karena kurangnya ide, imajinasi, dan  gagasan pengrajin. “Hasil karya yang mereka buat masih cenderung linear, yakni selalu memproduksi dengan meniru desain yang sudah ada secara berulang-ulang. Sehingga pasar menjadi bosan dan harganya pun turun,” ucap pria kelahiran
Demak, 3 Januari 1972 ini.

Penelitian ini mengkaji permasalahan yang ada, di bentuk ragam hias lokalitas Mantingan.Tujuan akhirnya berupa pembuatan desain yang baru, agar memberi manfaat ekonomi untuk pengrajin ukir Jepara. Desain penelitian yang ia lakukan berupa Research and Development dengan pendekatan Art Practice as Research serta memilih lokasi penelitian di Mulyoharjo, Jepara.

“Subjek penelitian adalah seni ukir Jepara, dengan sasaran penelitian bentuk kerajinan ukir  yang diinginkan pasar, cara pengrajin ukir dalam strategi penciptaan, dan bentuk inovasi ukir,” bebernya.

Sejauh ini, dari hasil penelitian yang sudah dilakukan menunjukkan beberapa hal yang menyebabkan harga ukir Jepara sering turun.   Pertama, desain seni ukir Jepara sudah beridentitas daerah, namun kurang divisualisasikan dalam   gaya kekinian dan  belum banyak pengrajin yang  memunculkan  gaya Mantingan.

“Kedua, inovasi yang dikembangkan dalam rangka menghasilkan ukir yang unik, berkualitas, dan kekinian melalui pemanfaatan ragam hias Mantingan  adalah inovasi vertikal, inovasi horizontal, dan inovasi geografis,” tambahnya.

Menurut dia, dengan desain dan kreativitas kekinian dapat ditemukan dalam ragam hias Mantingan. Ragam hias tersebut bisa membangun new craft of Indonesia, dan  keberadaannya dapat meningkatkan  kesejahteraan masyarakat. “Agar bisa memenuhji pasar dan harganya naik, menurut saya para pengrajin harus mengadopsi hasil penelitian yang saya lakukan sebagai model pengembangan ekonomi kerakyatan,” tuturnya.

Dengan memanfaatkan ragam hias Mantingan, para pengrajin bisa melakukannya sebagai inovasi industri kreatif kerajinan ukir kayu Jepara dan memenuhi permintaan pasar. (*/aro)