Oleh: Wiwik Pujiastuti S.Pd, M.Si
Oleh: Wiwik Pujiastuti S.Pd, M.Si

RADARSEMARANG.COM – KESABARAN kita kerap diuji oleh kenakalan anak. Tapi, tepatkah itu disebut suatu kenakalan? Atau, barangkali lebih tepat kalau dikatakan suatu kreativitas– walau tidak semua orang dewasa setuju dengan istilah tersebut. Kendati demikian, guru harus berpikir dan setuju bahwa perilaku anak sebenarnya sebagai manifestasi pola pikir dan kehendak mereka.

Perilaku anak memang sering bertolak-belakang dengan pola pikir orang dewasa. Untuk itulah, guru—sebagai orang dewasa— harus berusaha memahami dan menyesuaikan dengan dunia anak. Amatilah dan pahamilah keunikan anak. Hargailah setiap pendapat mereka.

Sekarang bukan zaman feodal, menempatkan guru sebagai tokoh sentral yang harus selalu menjadi pusat perhatian dan harus selalu ditakuti. Guru justru berperan sebagai fasilitator dan anak merupakan tokoh utamanya.

Anak akan merasa bosan dan tertekan, jika seharian harus duduk dengan tegang mendengarkan ceramah guru yang kadang disertai omelan yang membuat mereka semakin tidak nyaman. Alhasil, anak tidak bisa menyerap pengetahuan dan keterampilan yang disampaikan guru, yang telah terkuras tenaga dan pikirannya untuk ceramah. Mubazir kan? Karena pembelajaran tersebut tidak menarik dan tidak merangsang otak untuk aktif. Bahkan, bisa jadi konsep yang diberikan hanya masuk ke telinga kanan, lantas keluar melalui telinga kiri.

Guru harus mengetahui bagaimana otak terangsang supaya aktif dalam pembelajaran. Sehingga anak mudah menyerap pengetahuan dan keterampilan yang harus mereka kuasai. Dalam pembelajaran bahasa Inggirs, misalnya, kurikulum 2013 SMK, adanya eliminasi 2 sampai 3 jam pelajaran per minggu. Ironisnya, semakin banyak muatan atau kompetensi yang harus dikuasai siswa dibanding kurikulum 2006. Hal ini memerlukan kreativitas dan inovasi guru dalam mengatasi permasalahan kekurangan jam tatap muka per minggunya.

Maka, salah satu upaya guru adalah bagaimana caranya agar membuat pembelajaran menjadi menarik dan merangsang aktivitas otak. Di antaranya, dengan pembelajaran yang bermakna (Contextual Teaching and Learning–CTL). Guru sedapat mungkin selalu menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari anak.

Dengan demikian, anak akan lebih tertarik dan membuat otak akan aktif, mencari solusi dari permasalahan yang ada. Karena semua anak mengalami dan terlibat langsung di dalamnya. CTL mempermudah anak dalam menyerap materi pelajaran, karena pembelajaran di kelas benar-benar bermakna bagi mereka.

Selain itu, menciptakan suasana kelas yang menyenangkan, juga sangat berpengaruh pada proses pembelajaran. Guru seharusnya menyampaikan materi pelajaran dengan rileks. Tujuannya, tidak membuat anak merasa takut dan tertekan. Jadikan suasana hati anak tenang serta lepas dari rasa takut dan tertenkan. Biarkan anak mencari solusi dari setiap permasalahan dengan tenang, dengan cara mereka sendiri. Atau, biarkan anak berdiskusi. Karena diskusi akan melatih anak untuk bekerja sama dalam mengatasi masalah dan mengambil keputusan.

Pembelajaran yang menyenangkan bisa juga dengan mendengarkan musik jika situasi memungkinkan. Jeanette Vos dalam The Music Revolution berpendapat musik mengurangi stress, meredakan ketegangan, meningkatkan energi, dan memperbesar daya ingat. Musik menjadikan orang lebih cerdas.

Penelitian di Jepang membuktikan hubungan yang erat antara kemampuan musik dengan kemampuan yang lebih tinggi dalam berpikir visual, memecahkan soal, bahasa dan kreativitas. Guru yang memutar musik di kelas, mengamati bahwa musik tidak hanya membuat anak lebih giat. Tetapi hasil karya yang mereka ciptakan menjadi lebih kreatif dan bermakna.

Guru dapat menerapkan pembelajaran dengan memutarkan musik saat anak melakukan aktivitas di kelas. Antara lain: menulis karangan, belajar untuk persiapan tes atau ujian, membaca buku teks, menghafal pidato atau naskah untuk peran sebuah drama.

Di era teknologi informasi, pemanfaatan internet dan proyektor untuk menayangkan audio visual juga sangat tepat untuk diterapkan. Karena penayangan audio visual, merupakan hal yang sangat menarik bagi anak untuk membantu mereka menemukan inspirasi maupun mengemukakan opini yang mereka bisa tuangkan dalam bahasa tulis maupun lisan.

Permainan juga merupakan alternatif yang sangat bagus dalam membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan merangsang aktivitas otak. Permainan sangat membantu siswa dalam memyerap konsep-konsep dan ketrampilan yang diajarkan. Utamanya, dalam peningkatan kosa kata, keterampilan berbicara, menyimak, dan menulis.

Dengan permainan, siswa akan tertarik dan tidak cepat bosan serta otak akan lebih terangsang untuk aktif. Karena disamping menarik, permainan juga memberikan kesempatan pada siswa untuk bergerak.

Sedangkan pengaruh gerakan sangat besar sekali pada perkembangan otak. Penelitian membuktikan bahwa di Scripps College di Claremont, California, anak yang frekuensi olah raganya lebih banyak akan bereaksi lebih cepat, berpikir lebih baik dan mengingat lebih cermat. Dalam penelitian terhadap 500 anak di Canada, siswa yang menghabiskan waktu tambahan setiap harinya di ruang olah raga, mampu mengerjakan ujian lebih baik ketimbang mereka yang kurang aktif berolah raga.

Ada satu daerah istimewa dalam otak yang menjadi aktif kalau menerima informasi gerakan atau kombinasi gerakan. Daerah inilah yang menghubungkan gerakan tubuh dengan pembelajaran. Jadi, permainan memang sangat mendukung keberhasilan siswa dalam menyerap materi pembelajaran. (*/isk)

 Guru SMK N 2 Temanggung