Oleh: Aditya Ibnu Nugroho  SPd
Oleh: Aditya Ibnu Nugroho  SPd

RADARSEMARANG.COM – Paradigma yang beredar luas dimasyarakat adalah sekolah merupakan lembaga formal yang bertujuan untuk pencapaian prestasi akademis dari peserta didiknya. Rangking walaupun sekarang sudah tidak boleh dicantumkan di laporan hasil belajar peserta didik, tetaplah merupakan hal yang dinantikan oleh para orang tua peserta didik. Nilai Ujian Nasional juga menjadi standart tolok ukur dari keberhasilan para peserta didik. Hal tersebut wajar dan lumrah dimana lembaga akademik pastilah berupaya maksimal dalam pengembangan prestasi akademis peserta didik. Antusiasme masyarakat dan wujud kepedulian mereka terhadap pendidikan putra putrinya tentulah harus disambut dan dilayani oleh sekolah selaku penyelenggara pendidikan. Walaupun demikian, sekolah tidak boleh mengabaikan potensi non akademis peserta didiknya. Masyarakat perlu mendapat pemahaman mengenai prestasi non akademis peserta didik. Dan satu satunya penjelasan terbaik adalah dengan menyajikan dan mempersembahkan torehan prestasi dari peserta didik dalam bidang non akademis.

Prestasi non akademis peserta didik sangatlah luas dan tidak hanya dalam bidang olahraga dan seni saja. Dalam pengembangan potensi non akademis, sekolah harus mampu mewadahi berbagai bidang non akademis. Untuk itu diperlukan strategi pelaksanaan yang bisa mewujudkan pengoptimalan potensi non akademis peserta didik.

Dalam upaya pengembangan potensi non akademis peserta didik, sekolah perlu mempunyai kebijakan yang mengakomodir dan bisa memaksimalkan potensi tersebut. Beberapa hal yang bisa dilaksanakan sekolah antara lain:

Pertama, mengetahui potensi, minat dan bakat peserta didik sejak dini. Sekolah dapat melakukan penjaringan mengenai potensi, minat dan bakat dari peserta didiknya melalui test yang terukur. Tentunya hal ini harus bekerja sama dengan pihak yang berkompeten.

Kedua, melaksanakan kegiatan yang bisa mengakomodir potensi, minat dan bakat peserta didik. Ekstrakurikuler adalah wadah terbaik untuk mengakomodir kegiatan non akademis. Melalui kegiatan ekstrakurikuler yang terstruktur dan terprogram, peserta didik dapat menyalurkan potensinya. Tentunya ekstrakurikuler tersebut tidak hanya yang diwajibkan oleh pemerintah tetapi juga yang bervariatif dan disesuaikan dengan sistem pendidikan nasional serta kemajuan jaman.

Ketiga, menyediakan sarana dan prasarana yang menunjang pengembangan potensi non akademis. Sarana dan prasarana yang baik tentunya menunjang pengembangan potensi non akademis peserta didik. Walaupun bukan yang utama, tetapi dengan sarana dan prasarana yang baik, pastilah memotivasi peserta didik untuk meraih yang terbaik.

Keempat, mempunyai atau menghadirkan para professional di bidang non akademis. Inspirasi adalah sesuatu yang bisa memacu prestasi. Dengan menghadirkan para professional untuk membimbing, melatih dan mengolah potensi peserta didik sesuai dengan bidangnya, diharapkan mereka bisa menjadi role model yang baik bagi peserta didik untuk mencapai prestasi maksimal di bidangnya.

Kelima, mengapresiasi raihan prestasi peserta didik. Apresiasi tidak hanya memberikan pujian dengan kata – kata tetapi perlu juga mewujudkan dalam tindakan nyata. Contohnya pada saat upacara, peserta didik yang mendapatkan prestasi dapat diekspose dan secara sederhana serta simbolis disematkan medali, piagam, atau piala yang didapat oleh kepala sekolah atau stakeholders. Hal sederhana tersebut berdampak besar bagi yang bersangkutan serta menjadi motivasi dan inspirasi bagi yang lain.

Keenam, melakukan pendampingan bagi peserta didik yang mempunyai kemampuan non akademis tinggi tetapi lemah dalam bidang akademis. Acap kali peserta didik yang berprestasi di bidang akademis ternyata lemah di bidang akademis, hal tersebut terkadang merupakan konsekuensi tingginya frekuensi latihan yang tentu saja menyita waktu dan tenaga. Hal tersebut berdampak dalam bidang akademisnya. Guna mengatasi hal tersebut, sekolah dapat memprogramkan pendampingan khusus dimana peserta didik dibimbing dengan intensif dalam rangka mengejar ketertinggalannya. Dan tak lupa untuk terus memberikan motivasi positif supaya tidak meremehkan bidang akademis walaupun mereka sangat berprestasi di bidang non akademis

Ketujuh, memaksimalkan program Bindikel (Pembinaan Pendidikan Keluarga). Sekolah, peserta didik dan orang tua/ wali siswa haruslah menjadi mitra yang baik. Dengan kerjasama yang baik, upaya memaksimalkan potensi non akademis dapat terwujud.

Upaya – upaya tersebut diharapkan dapat memotivasi dan mewadahi potensi dari peserta didik dalam menyongsong masa depan yang menjanjikan. Dengan kebijakan yang dapat mengakomodir bidang non akademis, paradigma yang salah bahwa sekolah hanya mengutamakan prestasi akademis dan mengabaikan prestasi non akademis dapat terpatahkan. Dengan atmosfir yang mendukung prestasi non akademis, diharapkan lahir generasi emas yang unggul dalam berkompetisi di era global saat ini. (igi1/aro)

Guru SMP Negeri 3 Salatiga