Oleh : Sutarman SPd Mhum *)
Oleh : Sutarman SPd Mhum *)

RADARSEMARANG.COM – MASYARAKAT kita adalah masyarakat multilingual, di samping sebagai penutur Bahasa Indonesia juga penutur bahasa daerah. Sehingga kontak antarbahasa sering menimbulkan interferensi dalam penggunaannya. Interferensi bisa terjadi pada siapa saja, mulai siswa, mahasiswa, guru, masyarakat umum, pejabat, bahkan dosen. Hal yang melatarbelakangi terjadinya interferensi adalah kurangnya pemahaman tentang struktur dan kaidah kebahasaan, serta kurangnya kesadaran untuk menuturkan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Interferensi adalah kekacauan sistem suatu bahasa yang disebabkan pengaruh bahasa lain pada tingkatan fonologi, morfologi, sintaksis, maupun semantik. Interferensi pada tingkat fonologi, misalnya masyarakat Bali melafalkan fonem /t/ pada kata-kata dalam Bahasa Indonesia menjadi /th/ kata (batuk, batu, bata) dilafalkan menjadi (bathuk, bathu, batha). Hal ini juga terjadi pada masyarakat Jawa yang menyebut nama tempat atau nama kota yang berawal dengan huruf /B, G, R/. Misalnya mengucapkan nama kota (Bali, Bandung, Gresik, Rembang). Nama-nama kota tersebut diucapkan dengan memasukkan huruf nasal di depannya, sehingga menjadi (mBali, mBandung, ngGresik, ngRembang). Kekacauan pelafalan fonem ini juga banyak terjadi pada masyarakat berbagai suku lain di Indonesia, ketika menuturkan Bahasa Indonesia.

Interferensi yang terjadi pada tingkat morfologi, munculnya penggunaan kata-kata dalam Bahasa Indonesia (ketahuan, jadian, jualan, kerjaan, sungguhan, sekolahan). Pembentukan kata-kata tersebut secara morfologis dan juga secara semantik menyalahi kaidah kebahasaan. Kata-kata untuk mengungkapkan makna konsep yang tepat dari kata-kata tersebut adalah (diketahui, menjadi, berjualan, pekerjaan, sungguh-sungguh, sekolah). Kata-kata tersebut sering ditemukan dalam kalimat-kalimat dialog anak-anak remaja.

Interferensi yang terjadi pada tingkat sintaksis, misalnya pada kalimat (Rumahnya Tika berada di belakangnya Toko Luwes). Contoh lain (Farida duduk di meja paling depan sendiri). Kalimat-kalimat tersebut rancu secara morfologis, sintaksis maupun semantik. Struktur yang digunakan dalam kalimat tersebut mengacu pada struktur kalimat Bahasa Jawa. Susunan kalimat yang tepat untuk mengungkapkan peristiwa dengan makna konsep tersebut adalah (Rumah Tika berada di belakang Toko Luwes) dan (Farida duduk di meja paling depan).

Interferensi semantis terjadi karena faktor-faktor eufemisme sebagai cara untuk menghaluskan makna kata. Kata-kata atau ungkapan tertentu jika disebutkan secara langsung dianggap kasar, tidak pantas, bahkan dianggap tabu diucapkan. Misalnya kata-kata (pesuruh, penjual, kotoran, air kencing, ayan). Untuk menggantikan kata-kata tersebut digunakan istilah-istilah lain yang berasal dari bahasa asing. Kata-kata pengganti yang dirasa memiliki arti yang lebih halus yaitu: (office boy, salesman, feaces, urine, ephilepsi). Ungkapan eufemisme di Indonesia berkembang luas ditandai dengan banyaknya bermunculan kata atau istilah di berbagai bidang kehidupan. Misalnya bidang kedokteran, ekonomi, psikologi, seksologi, perdagangan, pendidikan, dan lain-lain.

Interferensi merupakan salah satu permasalahan bahasa yang dapat dihindari jika kita peduli dengan kaidah kebahasaan. Mempelajari fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik untuk mendukung teori kebahasaan sangatlah penting bagi pelajar, mahasiswa, guru, dosen, maupun masyarakat umum. Saatnya kita kembali kepada ejaan, penulisan, dan pelafalan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. (*/ida)

*) Guru Bahasa Indonesia SMA Negeri 3 Sukoharjo