Fusion Project untuk Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Siswa

257
Oleh: Endang Wahyu Hidayah
Oleh: Endang Wahyu Hidayah

RADARSEMARANG.COM – SMK Jurusan Jasa Boga terdapat mata pelajaran Fusion Food di kelas XII semester genap. Materi ini merupakan mata pelajaran baru di kurikulum 2013. Siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi Fusion Food  karena materi ini mengupas semua  tentang  perpaduan  makanan  barat  dan timur,  makanan  tradisional dan internasional. Hal tersebut terlihat dari ulangan harian dan nilai praktek yang diperoleh siswa masih rendah dan masih banyak siswa yang  belum mencapai nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Berdasarkan permasalahan ini dibutuhkan suatu model pembelajaran di kelas dan di laboratorium yang dapat menarik minat siswa untuk mengikuti pembelajaran dengan  baik  sehingga  siswa dapat memperoleh nilai pengetahuan dan ketrampilan sesuai yang diharapkan .

Model pembelajaran Fusion Project adalah model Project Based Learning (PjBL) merupakan pembelajaran dengan menggunakan  proyek nyata dalam kehidupan yang didasarkan pada motivasi yang tinggi, pertanyaan yang menantang, tugas – tugas atau permasalahan untuk membentuk penguasaan kompetensi yang dilakukan secara kerjasama dalam upaya memecahkan suatu  masalah ( Barrel, 2000 and Baron 2011).  Model pembelajaran Fusion Project adalah model Pembelajaran Project Based Learning yang diterapkan pada kompetensi Fusion Food yang merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa kelas XII Jurusan Jasa Boga.

Model pembelajaran Fusion Project dilakukan dengan dua tahap, tahap yang pertama sebelum pembelajaran siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok diberi  proyek membuat menu fusion food dengan tema maincourse dengan urutan kerja berikut ini : 1)Merancang proyek dari perencanaan produk;2) Mendesain perencanaan proyek; 3)Menyusun Jadwal produksi; 4) Memonitor peserta didik dan kemajuan  proyek; 5)Menguji hasil/memberi penilaian; 6) Mengevaluasi pengalaman; 7)Mengevaluasi Produk ( melakukan kendali mutu ).

Setelah pembelajaran dengan model Fusion Project pada tahap pertama ini siswa terlihat antusias mengikuti pelajaran baik di kelas maupun di laboratorium . Siswa yang  sebelumnya  terlihat pasif  mulai aktif ,  di dalam kelas telah mulai dilakukan pembagian kerja kelompok masing masing telah memiliki tugas sehingga tidak ada siswa yang berdiam diri atau  mengandalkan teman dalam membuat rancangan menu hidangan fusion .  Saat pembelajaran di laboratorium siswa semakin tampak antusias semua aktif  mengerjakan  tugasnya dari mulai persiapan  bahan  dan  alat, menjaga sanitasi dan hygiene, mengolah, menyajikan dan  menata  makanan sampai dengan  presentasi  dan  laporan dilakukan siswa dengan kesungguhan dan berusaha menampilkan hasil yang terbaik. Secara tidak langsung terjadi persaingan yang sehat antara kelompok 1 dengan yang lain semua berusaha membuat hasil praktek yang terbaik.

Pada tahap berikutnya  Fusion Project diterapkan dalam  pembelajaran dengan cara berbeda .  Siswa diberikan  tantangan proyek secara individu.mereka bekerja secara  individu tetapi  dengan urutan kerja yang sama seperti tahap sebelumnya. Berdasarkan pengamatan  kesungguhan siswa semakin terlihat, karena semua dilakukan sendiri, siswa semakin aktif, enerjik dan bekerja lebih cepat dari praktek sebelumnya karena praktek dibatasi dengan waktu dan semua dikerjakan secara mandiri. Dan yang lebih menonjol lagi siswa semakin terlihat bisa menciptakan kreasi menata hidangan dalam pllater. Platting dengan gaya fusion terlihat lebih menarik, lebih indah dan cantik, sangat terlihat cita rasa seni yang muncul dari goresan tangan siswa yang bekerja secara individu ini. Memang  masih ada beberapa siswa yang  tampak  kesulitan dalam menata  makanan tetapi secara klasikan  sebagian  besar  siswa  telah  menunjukkan  peningkatan hasil belajar baik terlihat dari nilai pengetahuan dan nilai keterampilannya .

Penerapan model pembelajaran  Fusion Project  dapat  meningkatkan  pengetahuan dan ketrampilan  bagi siswa SMK khususnya Jurusan Jasa Boga  dari  nilai pengetahuan dan ketrampilan yang  redah  menjadi  tinggi. Setelah mengetahui hasil dari penerapan fusion project  dalam  pembelajaran siswa ini dapat disimpulkan  bahwa materi pelajaran  yang mengandung kompetensi yang komplek dan sulit bagi siswa harus disampaikan  oleh guru dengan model /media / pendekatan pembelajaran yang  inovatif  dan kreatif  yang membuat siswa aktif dan bersemangat dalam belajar  agar tujuan pembelajaran dapat tercapai . (igi1/aro)

Guru SMK Negeri 1 Salatiga Jurusan Jasa Boga