KARYA ANAK BANGSA : Dirjen Industri Kimia Hilir Kementrian Perindustrian Dr IR Taufiek Bawazier, M.Si (tengah) menunjukkan hasil karya anak bangsa berupa daun jendela dari plastic. (M NUR WAHIDI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KARYA ANAK BANGSA : Dirjen Industri Kimia Hilir Kementrian Perindustrian Dr IR Taufiek Bawazier, M.Si (tengah) menunjukkan hasil karya anak bangsa berupa daun jendela dari plastic. (M NUR WAHIDI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG— Perkembangan industri plastik mengalami kemajuan signifikan, tidak hanya digunakan untuk pengemasan, tetapi sudah merambah berbagai sektor lainnya. Karena itu, pengembangan industri plastik diarahkan untuk keperluan umum dan khusus, di antaranya sebagai bahan bangunan.

Ketua Umum Asosiasi Daur Ulang Plastik (ADUPI) Christine Halim mengatakan bahwa dalam rangka menangkap kebutuhan produk plastik tersebut, pihaknya berupaya melakukan daur ulang sampah plastik. Yakni bekerjasama dengan Inaplas yang selanjutnya berinovasi menciptakan produk-produk baru. “Dengan teknologi, kini bisa menciptakan produk yang bagus yang sebelumnya diimpor dari luar negeri, sudah bisa dibuat di dalam negeri,” kata dalam Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Industri Plastik Hilir untuk Bahan Bangunan, di Graha Santika, kemarin.

Dalam sehari, jelasnya, mampu memproduksi 50 ton sehingga selama satu bulan mampu menyerap sampah palstik dalam kemasan sebanyak 1500 ton. Selain itu, dibuat talang plastik serta pipa dari daur ulang yang dikonsumsi oleh masyarakat menengah ke bawah. “Untuk pabriknya selain di Tangerang, terdapat di Surabaya yang digunakan untuk memproduksi berbagai alat mulai dari daun jendela ataupun lainnya,” paparnya.

Sedangkan Dirjen Industri Kimia Hilir Kementrian Perindustrian Dr Ir Taufiek Bawazier MSi menyatakan bahwa semakin berkembangnya sektor infrastruktur dan permukiman, menyebabkan meluasnya penggunaan material polimer yang dapat digunakan sebagai material kontruksi menggantikan bahan kayu dan logam. “Beberapa material kontruksi dari plastik telah digunakan dan berkembang saat ini, antara lain atap plastik, dinding, pipa, lantai, pintu dan jendela,” jelasnya.

Bahkan data eksport 2017 menunjukkan volume ekspor pipa plastik nasional mencapai 14,86 ribu ton dengan nilai 56,04 juta USD. Sedangkan tingkat penjualan domestik berada di kisaran 550 ribu ton/tahun. Ekspor pipa plastik Indonesia terbesar di Jepang dengan volume 4.400 ton senilai 13 juta USD. Sementara itu impor pipa plastik Indonesia mencapai 42,44 ton dengan nilai 172,11 juta USD. “Tingkat kebutuhan yang semakin tinggi merupakan potensi besar untuk mengembangkan dan meningkatkan kapasitas industri pipa plastik,” imbuhnya.

Seiring dengan pasar tunggal ASEAN dan AFTA serta menyikapi revolusi industri 4,0, maka penguatan industri dalam negeri khusunya plastik dan karet menjadi fokus Direktorat Industri Kimia Hilir untuk melakukan sinergi antara pemerintah, produsen dan konsumen. “Sinergitas itu sebagai wujud nasionalisme produk dalam persaingan global yang semakin ketat dan keras,” paparnya. (hid/ida)