Santriwati Ciptakan Alat Pemanggang Portable

90

Nah, mengakali hasrat jajan yang tidak terkendali, Firlia Prames Widari membuat alat pemanggang portabel. Dia tak perlu lagi jajan di luar, cukup membuat sendiri menu kegemarannya di wisma dengan alat tersebut.

Karena jenuh dengan menu yang itu-itu saja, tak jarang para santriwan dan santirwati memilih jajan.

“Kami juga pengen makan enak. Tapi kalau jajan ya sama saja harus keluarin uang saku. Nah, aku berpikir bagaimana caranya bisa terus makan enak tanpa merogoh kocek dalam-dalam. Kan kasihan juga uang orang tua (kirim uang, Red) cuma buat jajan,” beber siswi kelas X SMA IT Nur Hidayah Boarding School itu, Kamis (17/5).

Dengan semangat berhemat, Firlia sapaan akrabnya memanfaatkan mata pelajaran (mapel) Kewirausahaan untuk membuat alat tepat guna yang bisa dipakai sehari-hari. Yakni grill over smoke. Sebuah alat pemanggang portable.

“Aku dan teman-teman kan suka banget jajan bakso bakar, sosis bakar, dan makanan panggang lainnya. Nah, terinspirasi dari hobi jajan itu, aku pengen bikin alat pemanggang yang antimainstream,” sambung remaja asal Bengkulu ini.

Antimainstream seperti apa? Firlia menjelaskan alat buatannya ini portabel. Sehingga bisa dibawa ke mana-mana tanpa ribet. Seperti saat liburan, piknik, atau camping. Tak hanya itu, alat pemanggang buatannya ini juga punya keunggulan lain. Menghasilkan cita rasa panggangan tersendiri yang berbeda.

“Waktu uji coba, rasa dagingnya lebih terasa masakan panggangnya. Enggak terasa gosong juga. Masakannya terasa tapi juga matang. Jadi sehat,” kata remaja kelahiran Kediri, 27 September 2002 ini.

Firlia mengaku hanya butuh tiga pekan membuat alat pemanggang portabel tersebut. Bahkan cukup sehari saja untuk merancang alat ini. Firlia menghabiskan dana sebanyak kurang dari Rp 1 juta.

“Yang bikin mahal itu bahan alumuniumnya. Karena dipilih alumunium yang khusus untuk makanan, jadi antikarat. Hampir 60 persen habis untuk alumunium. Sisanya untuk bahan dan modifikasi lainnya,” jelas anak ketiga dari enam bersaudara ini.

Alat buatannya ini pernah ikut berkompetisi di ajang Kreasi dan Inovasi (Krenova) Kabupaten Sukoharjo. Namun sayang, belum berkesempatan memenangkan kompetisi tersebut. Tapi, di perlombaan internal sekolah, alat pemanggang portabelnya justru meraih juara pertama.

“Penilaiannya berdasarkan voting oleh orang tua siswa saat laporan hasil belajar siswa. Mungkin karena dinilai dan dianggap lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, banyak orang tua siswa yang tertarik dengan alat ini,” terang Firli.

Ke depan, Firli segera memperbarui kekurangan alat buatannya tersebut. Dia akan menambahkan kipas di dalam alatnya agar saat digunakan memanggang, arangnya tidak mudah mati.

Dengan menemukan inovasi alat ini, Firli merasa bangga dan bahagia bisa menunjukkan hasil karyanya pada kedua orang tuanya.

“Kan nggak sia-sia anaknya jauh-jauh merantau di sini bisa menciptakan alat sendiri,” paparnya.

(rs/aya/fer/JPR)