Oleh: Luthfi Rahman
Oleh: Luthfi Rahman

RADARSEMARANG.COM – SALAH satu harapan utama mengiringi bulan Ramadan tahun ini adalah ibadah kita dalam bulan agung ini menjadi penempa untuk kembali menggapai fitrah diri dan kontrol dalam aneka bentuk keberlebihan diri atau sikap esktrim. Dalam Islam, sikap tersebut menggunakan istilah  ghuluwtatharruf, dan tanaththu’, yang kesemuanya memiliki makna yang mirip, yakni sikap berlebihan, melampaui batas, keterlaluan, dan ekstrem.

Rasulullah sendiri empat belas abad lalu memperingatkan umatnya untuk menghindari sikap tersebut. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Rasulullah secara tegas memberikan pernyataan tegas “Wahai manusia, jauhilah berlebih-lebihan dalam agama karena sesungguhnya yang menghancurkan orang-orang sebelum kalian adalah berlebih-lebihan dalam agama.”

Dalam konteks hadis tersebut, ada narasi sejarah bahwa Rasulullah secara bijak mengatur keberimbangan dalam hidup serta  mengkritik beberapa sahabat yang hendak beribadah secara berlebihan dengan puasa dan sholat secara terus menerus, dan memilih tidak menikah (celibate) untuk mengabdikan dirinya total beribadah kepada Allah. Mereka, disamping sebagai hamba Tuhan, seakan melupakan keberadaan porsi kebutuhan duniawi yang juga harus dipenuhi dalam kodratnya sebagai manusia.

Pada gilirannya, ekstremisme ini menjangkit pada aras ideologi atau keyakinan. Orang yang berlebihan dalam hal keyakinan umumnya akan menganggap siapa pun di luar dirinya sebagai “orang sesat”. Mereka eksklusif atas kemungkinan kebenaran dari pihak lain, mengingkari keragaman pendapat, dan cenderung memaksakan kehendak untuk mewujudkan pemahaman dan tafsirnya ke dunia nyata.

Pemikiran yang ekstrim inilah yang mendorong tindakan ekstrim. Mereka memandang dunia “serba gelap” karena tidak sesuai dengan pemahamannya. Mereka meyakini bahwa kehidupan dunia ini selalu melenceng dari kebenaran agama dan harus diluruskan. Mereka tidak bisa membedakan antara kebenaran agama dan tafsir mereka atas kebenaran itu. Tidak semua yang berbeda dengan tafsir seseorang berarti berseberangan dari ajaran agama. Kebenaran Islam bersifat mutlak, tapi pemahaman pemeluknya atas kebenaran itu selalu bersifat relatif. Manusia hanya bisa berikhtiar mencapai yang terdekat dengan kebenaran.

Kasus yang belakangan terjadi terkait dengan aksi-aksi teror yang dimotori oleh para pelaku yang berideologi ekstrim di beberapa wilayah di negeri tercinta ini merupakan imbas dari benih ekstremisme dalam diri yang tersemai dengan subur.

Oleh karena itu, penting kiranya dalam momentum Ramadan, kita merenungi kembali esensinya yang mengajarkan kepada kita untuk melawan hal serta keinginan yang bermuara pada tindakan berlebihan. Dalam hal mengonsumsi makanan dan minuman, mengikutsertkan hawa nafsu serakah, pongah dan sikap berlebih lainnya. Selain itu, Ramadan mengingatkan kita berderma melalui zakat dan shodaqoh, untuk berbagi kepada sesama sekaligus selfreminder bahwa ada hak orang lain dalam harta kita serta pesan untuk tidak berlebihan dalam mempergunakannya.

Puasa Ramadan juga memberikan pemahaman kepada kita bahwa kelak nanti di akhirat bukanlah kenikmatan makan, minum, dan bukan pula bertemu dengan bidadari dan menjadi pengantin surgawi yang menjadi puncak kenikmatan akhirat. Namun bertemu dengan Allah-lah yang melampaui segala bentuk kenikmatan tersebut (..wa farhatun ‘inda liqa’i rabbihi/kebahagiaan ketika bertemu dengan Tuhan). (*)

Dosen Studi Agama-Agama FUHUM UIN Walisongo & Pengajar di Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang