Pendidikan Nonformal Butuh Ruang Berkreasi

78

Kondisi ini ditangkap Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Dewi Fortuna Klaten. Lewat pertunjukan seni ketoprak di Balai Desa Trunuh, Kecamatan Klaten Selatan, Selasa (15/5) malam. Para pemainnya adalah 38 siswa yang berasal dari pendidikan kesetaraan kejar paket B dan C.

”Memang ketoprak ini kami adakan untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional dengan melibatkan para siswa kejar paket. Sebagai pendidikan non-formal sebenarnya mereka memiliki kesempatan yang sama dalam berkreasi. Hal ini lantas kita coba implementasikan dengan seni pertunjukan ketoprak ini,” jelas Ketua PKB Dewi Fortuna, Kristian Apriyanta kepada Jawa Pos Radar Solo.

Selama ini , pembelajaran di PKBM yang berlokasi di Dusun Jombor, Desa Danguran, Kecamatan Klaten Selatan tersebut mampu mengintegrasikan pendidikan nonformal dengan pelestarian budaya. Meski mereka hanya para siswa kejar paket B dan C tetap memiliki minat yang sama dalam kesenian ketoprak.

”Terlebih lagi kegiatan ini untuk menunjang Klaten untuk menuju kota ketoprak. Termasuk bagian dari nguri-nguri budaya Jawa. Mudah-mudahan kegiatan ini bisa menjadi rutin sehingga tidak hanya di PKBM Dewi Fortuna saja,” beber Kristian.

Seni pertunjukan ketoprak yang diperankan puluhan siswa PKBM Dewi Fortuna itu mengambil lakon Bumi Kajoran 1672. Menceritakan peristiwa sejarah di Klaten yang terjadi di Desa Kajoran, Kecamatan Klaten Selatan pada masa Kerajaan Mataram. Salah satu pemain yang terlibat, Purwadi, 52, asal Desa Pereng, Kecamatan Prambanan menjadi tokoh Sultan Amungkarat Agung 1.

”Baru pertama kali main ketoprak. Jelas saya bangga bisa main dalam kesenian Jawa ini,” jelas pria yang sehari-hari menjadi Juru Pelihara Candi Sewu ini.

Purwadi merupakan siswa kejar paket B. Karena lulusan terakhir hanya jenjang SD pada 1984. Sebelumnya, dia belum pernah mendapatkan kesempatan melanjutkan sekolah yang lebih tinggi. Karena tinggal di pedalaman Sumatera. Saat ini pendidikan yang diikutinya setara kelas VIII jenjang SMP.

Anik Suryani, 22, siswa kejar paket C juga ikut terlibat dalam kesenian ketoprak tersebut. Dia bangga bisa menjadi bagian dalam seni pertunjukan tradisional ini.

”Pertunjukan ini membuktikan siswa kejar paket itu mampu berkreasi seperti anak sekolah lainnya. Saya harap kegiatan seperti ini terus berlanjut,” beber perempuan asal Kecamatan Karanongko ini.

(rs/ren/fer/JPR)

Silakan beri komentar.