Patung Dewa Obat Hanya Dikirab, Bukan Dicuri

319
USUNG DEWA OBAT: Sejumlah Pejimsin menggotong tandu Kongco Poo Seng Tay Tee atau Dewa Obat saat ritual Jut Bio di Pantai Marina, Semarang. (John Wahid/Jawa Pos Radar Semarang)
USUNG DEWA OBAT: Sejumlah Pejimsin menggotong tandu Kongco Poo Seng Tay Tee atau Dewa Obat saat ritual Jut Bio di Pantai Marina, Semarang. (John Wahid/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Patung atau Kongco Hian Thian Siang Tie (Dewa Obat) yang berada di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Grajen, Semarang, yang dikabarkan sempat raib, ternyata tidak dicuri. Melainkan dibawa oleh salah satu umatnya bernama Mulya Hadi Wijaya untuk dikirab ke ke Kelenteng Hian Thian Siang Tee, Welahan, Jepara.

Dalam jejak rekaman CCTV, Mulya Hadi Wijaya, terlihat mengambil patung tersebut dengan menaiki altar. Namun demikian, ia mengklaim pengambilan patung tersebut sudah melalui prosedur sembahyang. Bahkan, ia mengaku telah bertanya langsung ke kongconya. Karena saat mencoba untuk meminjam terkait rencana kirab, justru ditolak oleh para pengurus.

“Saya juga sudah ritual sembahyang sendiri, beberapa hari sebelum pengambilan. Kemudian 12 Mei pas pengambilan, saya kembali berdoa (pay pay) di depan patungnya dan langsung naik pakai kursi mengambil patungnya,” kata Mulya Hadi Wijaya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (17/5).

Ia mengaku, sempat dicegat oleh penjaga saat pengambilan. Namun ia hanya diam saja, tanpa melakukan kekerasan sama sekali. Ia juga mengaku, semua tindakannya sama dengan yang terekam di CCTV. Akan tetapi, ia menyatakan, patungnya tersebut sebenarnya bukan dicuri, sesuai informasi yang beredar. Sebenarnya dipinjam untuk dikirab di Kelenteng Welahan. Sebab, begitu selesai kirab langsung dikembalikan ke Kelenteng Grajen dengan dikawal polisi.

Aksi nekatnya tersebut, dilakukan karena merasa masih bagian dari umat dan ia sendiri merasa sudah diangkat langsung sebagai anak angkat dewa obat.

Ia mengaku, sebelum mengambil sudah meminta izin secara lisan, tepat sebelum pengambilan patung kepada kedua kubu pengurus. Namun tak diberi izin langsung melainkan dipersusah.

Pembina Yayasan Grajen Semarang (YGS), Edhy Setiawan mengaku, sebelumnya Mulya Hadi Wijaya memang pernah meminta izin secara lisan untuk meminjam patung tersebut, untuk dikirab di Welahan. Pihaknya menindaklanjuti permintaan Hadi dengan melakukan permohonan izin ke Pengadilan Negeri (PN) Semarang terkait peminjaman patung tersebut, karena menghormati adanya permasalahan hukum di pengadilan.

“Kami sudah 2 kali meminta izin ke PN Semarang, tapi belum ditanggapi. Kemudian ada umat terpanggil untuk mengkirabkan patung tersebut, karena tradisinya sudah ratusan tahun. Namun 2 tahun terakhir dipersulit peminjamannya, sehingga ada umat yang nekat,” sebutnya.

Terkait pelapor pencurian tersebut yang bernama Danu Wiwoho, diakui Edhy memang sebelumnya menjabat sebagai anggota Pengawas Yayasan TITD Grajen. Hanya saja masa kepengurusannya sudah berakhir. “Danu Wiwoho tidak punya wewenang hak melapor, karena bukan sebagai pengurus lagi. Meski sebelumnya memang anggota pengawas,” ujarnya.

Terpisah, Pelapor Pencurian ke Polsek Semarang Tengah, Danu Wiwoho, mengaku keberatan atas pengambilan kongco tersebut, tanpa melalui prosedur sembahyang. Selain itu, dari rekaman CCTV di kelenteng, pelaku terlihat mengambil langsung menaiki altar. Selain patung itu, pelaku juga mengambil jubah dan pedang yang sudah dikenakan patung Hian Thian Siang Tie. Padahal jubah tersebut milik Locu dan Hu Locu (pelayan dewa). “Kalau kerugian tidak bisa dinilai untuk patung. Patung itu simbol utama Kelenteng Grajen dan milik umat. Tapi kalau kerugian material seperti jubah sekitar Rp 2 juta,” ungkapnya. (jks/ida)