Pasang Sensor Jembatan Rp 500 Juta

296

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG–Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang saat ini sedang memersiapkan pemasangan alat sensor yang berfungsi sebagai alat monitoring terhadap kelendutan jembatan. Hal itu, untuk mengantisipasi terjadinya jembatan ambrol.

“Kami akan memasang sensor di Jembatan Kaligarang sebagai bentuk monitoring terhadap lendutan jembatan. Ini menjadi upaya mengantisipasi musibah jembatan ambrol. Apalagi usia jembatan hampir 20 tahun,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang, Iswar Aminudin, kemarin.

Dikatakannya, DPU telah menyiapkan anggaran untuk pengadaan sensor jembatan tersebut. Adapun pengadaan alat sensor ini, satu alatnya dihargai Rp 500 juta. Nantinya ada dua alat sensor yang akan dipasang. “Pengadaan dua alat sensor ini sudah masuk di bagian Unit Pengadaan Lelang (ULP). Agustus mendatang diharapkan sudah dilakukan pemasangan di Jembatan Kaligarang,” katanya.

Mengenai sistem kerja alat sensor tersebut, Iswar menjelaskan bahwa alat ini bisa menangkap getaran dari lendutan jembatan. Kemudian akan mengirim data ke monitor yang dihubungkan dengan sistem yang ada. “Sehingga dari data tersebut, bisa dilakukan pengawasan dan analisa sejauh mana elastisitas elastomer atau karet penyangga jembatan,” katanya.

Dengan demikian, kondisi kesehatan jembatan akan terus terpantau berdasarkan data tersebut. Untuk jumlah jembatan yang menjadi kewenangan Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang saat ini berjumlah 300 jembatan.

“Hanya saja, untuk jembatan yang memiliki konstruksi besar dan memiliki aksesbilitas yang tinggi hanya beberapa saja, seperti Jembatan Kaligawe, Citarum, Lemah Gempal, Tugu Suharto, Tinjomoyo dan Jembatan Kaligarang,” katanya.

Hal yang menjadi persoalan, lanjutnya, jika elastomer atau karet penyangga yang ada di jembatan tersebut telah aus atau tidak elastis lagi. “Karena aus itu maka harus segera diganti. Kalau tidak, nanti jembatan akan labil. Padahal jembatan itu harus stabil. Untuk pergantian elastomer juga ada alat dan tenaga ahli khusus,” terang dia.

Mengapa memilih Jembatan Kaligarang, Iswar menjelaskan bahwa intensitas aktivitas di jembatan tersebut cukup tinggi. Jembatan tersebut juga menjadi akses utama bagi truk bermuatan berat. Selain itu, juga menjadi jalur truk sampah menuju TPA Jatibarang. “Kami juga telah melakukan penelitian di jembatan tersebut dengan melibatkan tim ahli dari Universitas Diponegoro,” katanya. (amu/ida)