Padukan Corak Batik Berbagai Daerah

Irma Susanti

223

RADARSEMARANG.COM – Irma Susanti, perempuan yang tinggal di Gunungpati, Kota Semarang ini, berkomitmen melestarikan batik Nusantara sebagai warisan budaya yang sudah diakui Unesco. Untuk itu, melalui usahanya, Indentix Batik, Irma memadukan corak batik berbagai daerah. Di antaranya, batik Cirebon, Pekalongan, Lasem, dan Solo.

IRMA mengkreasikan corak batiknya sendiri, dengan memberdayakan para pembatik setempat. Nama Indentix dipakai demi menonjolkan kesan lain dari yang lain. Sejatinya, Irma ingin menyampaikan agar batik tetap dikenal sebagai identitas bersama bangsa Indonesia.

Yang menarik, batik buatan Irma tidak diproduksi massal. Tanpa terikat dalam konsep corak berdasarkan wilayah, Irma mengkreasikan batiknya sendiri, dengan mencomot corak dari berbagai jenis aliran. “Dari Cirebon, Pekalongan, Lasem sampai Solo, semua saya masukkan dalam karya saya. Sekilas memang bercampur, tapi semua tetap saya padukan dengan sesuai,” kata perempuan berhijab itu. Lebih tepatnya, Irma menekankan konsep batik custom dengan motif serta desain terbatas agar lebih eksklusif ketika dipakai.

Irma Susanti menyampaikan, dirinya membuat motif dan desain batik, kemudian dikirim ke pengrajin untuk digarap. Dengan demikian, motifnya tidak akan sama dengan motif di butik lain. “Inspirasinya dari alam, motif yang dibuat pun cenderung terbatas. Bahkan, saya menerima custom batik seperti motif sport dan yang lainnya.”

Dengan melakukan modifikasi, Irma berusaha membuat batik menjadi busana yang nyaman, tidak terlalu kaku, dan formal. Batik diharapkan bisa dipakai di berbagai acara. “Tujuannya membuat semua orang bangga mengenakan batik yang merupakan warisan dunia asli Indonesia.”

Batik modern yang ia buat, dimodifikasi dengan kain lainnya. Semisal, songket, lurik, troso, bahkan jins. Juga dipadukan dengan bahan katun khusus untuk acara santai. Produk yang dibuat sendiri menghasilkan batik yang unik dan memiliki ciri khas tersendiri. “Produknya bisa berupa tas, kebaya kemeja, jins batik bahkan pakaian pesta serta gaun pesta,” ujarnya.

Ditanya soal pasar, Irma menyasar kalangan menengah atas. Meski tergolong pemain baru di industri batik, Irma tidak main-main menekuni bisnis ini.‎ Demi menguasai ilmu desain, lulusan Ilmu Sosiologi Universitas Negeri Semarang ini juga mengambil jurusan Seni dan Desain di Universitas Nanyang Singapura. (den/isk)