RADARSEMARANG.COM – Di bawah kepemimpinan Wali Kota Hendrar Prihadi, kemajuan Kota Semarang sangat terasa. Sejumlah permasalahan utama, seperti banjir dan rob mulai terpecahkan, dengan sejumlah program. Seperti normalisasi sungai, perbaikan drainase, hingga pembuatan polder maupun embung.

Stigma Kota Semarang yang dulunya sebagai kota genangan, kini beralih menjadi kota kenangan. Di bawah kepemimpinan Hendrar Prihadi, wajah Kota Atlas kini disulap menjadi lebih cantik. Banyak spot yang instagramable. Ini bisa dilihat dari program Pemkot Semarang beberapa tahun terakhir ini, yang semakin gencar membangun ruang terbuka hijau (RTH) publik menjadi lebih elok dan menawan.

Sebut saja, Taman Kasmaran di Jalan Dr Sutomo yang menawarkan pemandangan Kampung Pelangi. Juga Taman Amongrogo, Taman Citra Satwa, dan Taman Wilis yang menyuguhkan pemandangan kota dari ketinggian. Lalu, Taman Bumi Rejo, Taman Pandanaran, Taman Tirto Agung, dan masih banyak lagi.

Setidaknya, dalam dua tahun terakhir, Pemkot telah menyelesaikan 19 RTH yang instagramable. Belum lagi mengangkat potensi wilayah dengan program kampung tematik. Mengubah kawasan kumuh menjadi tertata dan warna-warni. Seperti Kampung Pelangi di Wonosari.

Wali kota yang intim disapa Hendi itu selalu menekankan, semua capaian selama ini, tidak lepas dari campur tangan masyarakat Kota Semarang. “Kuncinya bergerak bersama. Karena konsep pembangunan Kota Semarang memakai rumus keterlibatan 4P, yaitu pemerintah, pengusaha, pewarta, dan penduduk,” kata Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Semarang, itu. Seperti halnya pembangunan RTH publik, tema dan konsep yang dipakai tidak lepas dari aspirasi masyarakat.

“Dari situ banyak masukan, kemudian kita rangkum dalam sebuah program. Setiap tahun, kita buat 16 RTH. Alhamdulillah direspons positif. Sekarang tinggal mengatur bagaimana taman ini hasilnya baik, bermanfaat, dan dirawat bareng-bareng oleh masyarakat,” ujar pria kelahiran 1971 ini.

Hendi mengaku, menginspirasi gaya kepemimpinannya terinspirasi Joko Widodo. “Kepemimpinan saya banyak diwarnai Presiden Joko Widodo. Kebetulan dulu pernah bareng saat beliau menjadi Wali Kota Solo. Kemudian Gubernur DKI, dan sekarang Presiden,” katanya.

Kata alumnus SMA 1 Semarang itu, Jokowi merupakan sosok pemimpin yang inspiratif. Seorang pemimpin yang tidak menunjukkan arogansinya maupun menekan anak buahnya. “Dari beliau (Jokowi), saya belajar bagaimana pendekatan kepada masyarakat yang tidak perlu menekan, menuding-nuding masyarakat. Terutama pola berkomunikasi.”

Hendi juga mencoba menghilangkan sekat antara pemimpin dengan rakyat. Seperti yang dilakukan Jokowi. Tidak hanya kepada masyarakat, ia coba menciptakan suasana yang santai dan tanpa sekat di lingkungan kerjanya. Menurut Hendi, dengan suasana yang cair tanpa ada tekanan, membuat hasil kinerja semakin baik. (zal/isk)