Konsisten Lakukan Konservasi di Segala Lini

Universitas Negeri Semarang

175

RADARSEMARANG.COM – Penghargaan yang diberikan Jawa Pos Radar Semarang kepada Universitas Negeri Semarang (Unnes), melengkapi konsistensi kampus yang ada di daerah Sekaran, Gunungpati, Semarang dalam melakukan konservasi.

Ya, Unnes yang saat ini dikomandoi oleh Prof. Fathur Rokhman sebagai rektor, berhasil menyabet penghargaan Kampus Konservasi yang Memberlakukan Kebijakan Green Transportation.

Sejak mengusung konsep kampus yang menjunjung tinggi konservasi, Unnes melakukan berbagai program. Semisal, arsitektur hijau dan transportasi internal. Arsitektur hijau atau green architecture merupakan sebuah konsep arsitektur yang berusaha meminimalkan pengaruh buruk terhadap lingkungan alam maupun manusia. Nilai positifnya, dapat menghasilkan tempat hidup yang lebih baik dan lebih sehat.

Caranya, manfaatkan sumber energi dan sumber daya alam secara efisien dan optimal. “Konsep ini lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Memiliki tingkat keselarasan yang tinggi antara strukturnya dengan lingkungan dan penggunaan sistem utilitas yang sangat baik. Arsitektur hijau dipercaya sebagai desain yang baik dan bertanggung jawab dan diharapkan digunakan di masa kini dan masa yang akan datang,” kata Prof Fathur Rokhman.

Sebagai universitas konservasi, Unnes memiliki komitmen untuk menjadi contoh pengembangan kampus ramah lingkungan. Utamanya, pada gedung-gedung perkuliahan dan perkantoran sebagai manifestasi fisik pencitraan kampus hijau. Salah satunya, memberlakukan transportasi internal. Tujuannya, mereduksi pergerakan kendaraan mesin berbahan bakar fosil di kawasan kampus. Ini salah satu upaya dalam mengimplementasikan kebijakan transportasi internal. “Segenap civitas akademika didorong untuk berjalan kaki dalam pergerakan internal kampus guna menumbuhkan budaya sehat dan humanis.”

Potensi kawasan yang baik dan reintegrasi, menjadi salah satu syarat untuk menunjang pergerakan dengan berjalan kaki yang aman dan nyaman. Beberapa sarana prasarana pejalan kaki, telah diperbaiki. Juga dikembangkan untuk meningkatkan kinerja layanan bagi kenyamanan pejalan kaki. “Kami juga melakukan survei pengembangan pedestrian kampus yang layak dan terintegrasi.” Tujuannya, memberikan kontribusi bagi perancangan pedestrian kampus yang layak dan terintegrasi sebagai daya dukung kinerja transportasi internal kampus.

Konservasi lainnya adalah di bidang seni dan budaya. Salah satunya, menggelar peringatan Hari Tari Dunia yang digelar Jurusan Seni Drama Tari dan Musik di Kampung Budaya, kampus Sekaran. Menampilkan 60 tarian tradisi dan kreasi. Sebelumnya, juga dilakukan pemecahan rekor Tarian Goyang Konservasi yang diikuti sedikitnya 10.573 civitas akademika Unnes.

Fathur menjelaskan, jika goyang konservasi dianggap sebagai tari, tidak sekadar senam, karena ada unsur seni di dalamnya dan diiringi langsung oleh gamelan. Bahkan, aksi tersebut mendapatkan penghargaan dari Lembaga Prestasi Indonesia-Dunia (Leprid).

“Penghargaan ini adalah bukti nyata Unnes serius menjadi kampus yang memiliki kesadaran konservasi. Kami pun menggalang semangat ini di Kota Semarang khususnya dan Jawa Tengah pada umumnya.” (den/isk)