Oleh: Imam Taufiq
Oleh: Imam Taufiq

RADARSEMARANG.COMMarhaban ya Ramadan. Inilah ucapan yang sering disampaikan dalam menyambut bulan istimewa, bulan diwajibkan berpuasa bagi umat Islam. Saat ini dunia medsos ramai bergemuruh saling sapa dan sambut dengan ungkapan yang sejenis, mengekpresikan kesiapan menjemput tamu khusus ini. Ya, Ramadan memang dinanti kedatangannya, untuk bermesraan dengan sang Ilahi dengan tahajud dan doa-doa mustajab. Ia tidak saja sebagai simbol kepedulian terhadap kaum papa, akan tetapi juga indikator kesalehan sesorang dan ketekunan beribadah serta kebersamaan dengan firman Tuhan, yakni Alquran.

Namun semangat ini dibayangi suasana yang menyesakkan hati. Tindak kekerasan, pembunuhan dan kekejaman terorisme mengiringi kedatangan bulan suci ini. Korban berjatuhan akibat bom dan aksi bunuh diri menjelang hadirnya Ramadan. Islam mengajarkan kasih sayang kepada semua orang. Tidak terdapat ajaran yang mengajak membuat orang lain susah, sakit dan menderita. Islam sendiri adalah agama yang mengajak untuk hidup damai, nyaman, gembira dan saling mengasihi, sebagaimana arti islam yang memiliki makna selamat, selamet dan damai.

Ramadan, bulan berpuasa umat Islam, sejatinya adalah bulan gerakan membangun perdamaian, menghancurkan kekekerasan, melenyapkan ketidak-adilan, dan memerangi kesombongan egoisitas. Melalui puasa, Ramadan mengajarkan pengelolaan nafsu secara bijak. Artinya nafsu diarahkan untuk mendukung misi beribadah kepada Allah secara tulus dan berkiprah untuk kedamaian demi kemaslahatan umat. Nafsu yang tidak terkendali secara apik akan menjadi penghalang munculnya cahaya ketuhanan, penyekat nilai-nilai kemanusiaan dan pengantar egosime kesombongan. Puasa merupakan satu-satunya strategi mengikis habis kenakalan nafsu, arogansi jiwa dan kesombongan hati manusia.

Karena itu, selayaknya kita sambut dengan lapang dada penuh kegembiraan. Marhaban berasal dari kata rahb, berarti ungkapan hati yang riang gembira dan tangan terbuka atas kedatangan tamu istimewa yang selalu didamba. Kesiapan penyambutan ini, disertai komitmen mengisinya dengan aktivitas terbaik, baik berkaitan dengan personal, kolektif maupun spiritual. Selamat datang tamu yang agung, artinya kami menyambutmu dengan penuh kegembiraan dan kami persiapkan untukmu tempat yang luas agar engkau bebas melakukan apa saja, yang berkaitan dengan upaya instropeksi diri untuk mengasah kapasitas jiwa kami dalam memberikan konstribusi kedamaian kepada umat.

Komitmen penyambutan (tarhib) ini sebagai wujud kecintaan dan kerinduan kepada Ramadhan. Secara psikologis, kondisi ini akan melahirkan tekad perubahan dan perbaikan diri yang lebih baik. Sebab semangat ini akan memberi motivasi untuk berkerja konkret dan bermanfaat. Hadis Nabi SAW menyebutkan Innama al-a`mal bi al-niyyah, nilai dan produktifitas tindakan manusia bergantung pada komitmennya. Niat atau motivasi kerja itu adalah syarat sah dan efektifnya perbuatan. Bahkan ada yang menyebutnya tidak saja sebagai syarat kesempurnaan, akan tetapi sebagai asal dan penggerak perbuatan (al-mujid li al-`amal). Karena itu, betapa pentingnya niat dan motivasi dalam keberhasian dan kesuksesan aktivitas.

Akhirnya, marilah kita sambut bulan Ramadan ini dengan senang hati dan bergembira. Kita jadikan puasa di bulan Ramadan ini kunci meraih prestasi taqwa.
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. al-Baqarah: 183). Semoga kita menjadi insan yang bertaqwa, sosok yang selalu menebarkan kedamaian, menyebarkan kemaslahatan, menumbuhkan kasih sayang dan membahagiakan setiap insan. (*)

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo & Direktur Walisongo Mediation Center (WMC) Semarang