Harga Ayam Melonjak, Sembako Lain Stabil

295
PANTAU HARGA: Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita saat berbincang dengan pedagang beras di Pasar Karangayu, Semarang. (Sigit Andrianto/ Jawa Pos Radar Semarang)
PANTAU HARGA: Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita saat berbincang dengan pedagang beras di Pasar Karangayu, Semarang. (Sigit Andrianto/ Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Jelang Ramadan, Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menyambangi Pasar Karangayu Semarang untuk memantau harga sembako, Rabu (16/5) kemarin. Dari hasil pantauannya, harga sembako di Semarang relatif stabil atau lebih rendah dibanding daerah-daerah lainnya, khususnya harga beras. Bahkan beberapa komoditi seperti gula, minyak goreng, bawang merah dan cabai justru mengalami penurunan harga.

Hanya saja, ia menemukan untuk beras suplai dari Bulog penyebarannya ke pedagang belum merata. Menanggapi hal ini, Enggartiasto langsung meminta kepada Bulog agar semua pedagang diberi secara rata. ”Yang pasti sudah tersedia harga Rp 8.950 per kg, karena itu di bawah HET Rp 9.450 per kg. Paling tidak masyarakat ada pilihan,” katanya.

Mengenai ketersediaan bahan pokok, dia menjelaskan semuanya masih aman. Hingga saat ini stok beras di Bulog ada sekitar 1,2 juta ton. Jumlah ini masih ada tambahan lagi dari eks impor, dan dari pembelian lokal yang diperkirakan bisa mencapai angka 2 juta ton. ”Makanya beras tersedia dengan harga di bawah HET,” ujarnya.

Sementara itu, agar harga tidak melampaui HET, pihaknya akan terus melakukan patroli dengan turun ke lapangan. Di pertengahan puasa akan ada 200-300 staf Kementerian Perdagangan yang turun di pasar.

”Kalau di Jateng semua tidak ada masalah. Kita tinggal memonitor saja. Begitu harga naik, akan kita kirim. Karena di gudang kita, ketersedian beras dan gula lebih dari cukup,” ujarnya sembari menambahkan bahwa daging sapi pun pemerintah memiliki stok yang mencukupi.

Dari sejumlah komoditas, dijelaskan olehnya, hanya harga ayam yang masih mengalami kenaikan rata-rata Rp 3 ribu per kg. Untuk mengatasi hal ini, Mendag telah mengundang integrator yang semula ditahan agar tidak masuk ke pasar tradisional karena menampung aspirasi peternak dari Blitar dan Boyolali untuk membagi wilayah. ”Tapi karena dengan kondisi seperti ini dan beberapa daerah suplai terbatas, maka peternak tradisional dikasih batas waktu. Anda tidak kirim, saya kirimin,” jelasnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah, M Arif Sambodo, mengatakan, saat ini harga telur ayam ras dan ayam ras memang tengah mengalami kenaikan yang cukup tinggi. Harga telur masih berkisar Rp 25 ribu per kg sesuai harga acuan. Sementara daging ayam pada kisaran Rp 32 ribu-Rp 37 ribu per kg dari harga normal Rp24 ribu-Rp 25 ribu per kg. ”Sebab, beberapa waktu lalu memang pernah mengalami drop, yang membuat para peternak berteriak. Kemudian oleh pemerintah pusat, mereka tidak diintervensi sampai menuju harga keekonomian. Masalahnya ketika menjelang Ramadan pergerakannya terkendali atau tidak,” ujarnya.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto mengatakan, pihaknya sudah memonitor ke sejumlah pasar di Semarang. Mengenai harga ayam yang mengalami kenaikan, pihaknya akan menyampaikan kepada wali kota agar secepatnya asosiasi pedagang ayam bisa mencari solusi. ”Karena ayam ini kan kebutuhan masyarakat. Sehingga harus bisa stabil. Nanti mungkin 10 hari setelah kami laporkan harga sudah bisa kembali stabil,” jelasnya.

Sejauh ini, sejumlah pasar menjadi perhatian Dinas Perdagangan Kota Semarang untuk terus dijaga kestabilan harganya. Beberapa pasar tersebut adalah Pasar Karangayu, Pasar Bulu, Pasar Johar, Pasar Peterongan dan Pasar Pedurungan, karena dinggap sebagai pasar grosir. ”Karena kalau di sini stabil, otomatis yang di pinggiran juga,” ujarnya.”Sebelumnya yang dikhawatirkan justru harga bawang dan lombok, tapi ternyata malah turun,” katanya tak menyangka. (sga/aro)