Gelar Lomba Dongeng Cerita Rakyat

280
ATRAKTIF: Salah satu peserta lomba dongeng cerita rakyat saat beraksi kemarin. (ISTIMEWA)
ATRAKTIF: Salah satu peserta lomba dongeng cerita rakyat saat beraksi kemarin. (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.COM, SALATIGA – Cerita rakyat berasal dan berkembang dalam masyarakat pada masa lampau yang menjadi ciri khas setiap daerah mempunyai kultur budaya beraneka ragam yang mencakup kekayaan budaya dan sejarah.

Setiap daerah tentunya memiliki cerita rakyat yang berbeda-beda. Di Kota Salatiga, banyak cerita rakyat berkembang mulai dari asal-usul Kota Salatiga maupun cerita lainnya yang berkaitan dengan daerah di Salatiga.

Untuk melestarikan cerita rakyat Salatiga, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Salatiga mengadakan kegiatan Lomba Mendongeng Cerita Rakyat Salatiga, pada Senin (14/5). Dalam kegiatan tersebut dibagi menjadi dua katagori yaitu katagori SD/MI dan Katagori SMP/MTs. Untuk kategori SD/MI diikuti oleh 18 peserta, sedangkan untuk kategori SMP/MTs diikuti oleh 9 peserta. Setiap peserta tampil dengan penuh atraktif dengan berbagai kelengkapan mendongeng.

Dewan juri dalam kegiatan itu yaitu Sabar Subardi, pelukis sekaligus pendongeng, Ifonila Yenianti dari Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI), serta Drs. Agus Hari Supomo dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Salatiga. Kriteria yang dinilai dalam lomba tersebut yaitu meliputi penampilan, Teknik Mendongeng, penguasaan panggung, penguasaan materi, serta eksplorasi kemampuan.

Pemenang yaitu untuk kategori SD/MI Juara 1 Qeysha Angelica Hadi dari SDN Ledok 02, Juara 2 Raisa Salma Mutiara dari SDIT Nidaul Hikmah, Juara 3 Hasna Beauty Fadila dari SDN Sidorejo Lor 01. Pemenang untuk kategori SMP/MTs Juara 1 Shaidah Fatwa N.A dari SMPN 01 Salatiga. Juara 2 Milka Hamida Maulida dari SMPN 04 Salatiga, serta Juara 3 Fika Febriana dari SMPN 06 Salatiga.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Salatiga Slamet Setyo Budi menuturkan, kegiatan Lomba Dongeng ini bertujuan untuk melestarikan cerita rakyat Salatiga yang menjadi ciri khas Kota agar tidak hilang begitu saja serta dapat diketahui oleh generasi saat ini.

“Ditengah serbuan cerita dari luar negeri yang merajai berbagai media tanah air membuat masyarakat, khususnya anak-anak beralih untuk meminati jenis cerita tersebut. Padahal cerita rakyat Indonesia sendiri memiliki banyak aspek baik pendidikan, filosofi, orisionlitas dan khas budaya bangsa Indonesia. Untuk itu wajib kiranya kegiatan ini akan selalu kami selenggarakan setiap tahunnya,” jelas Slamet Setyo Budi. (sas/bas)