2.500 Pelajar Deklarasikan Budaya Damai

329
TANDA TANGAN: Ribuan siswa SMK, SMA dan SMP di Kendal melakukan penandatanganan bersama Aksi Damai di Sekolah di Alun-alun Kendal, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TANDA TANGAN: Ribuan siswa SMK, SMA dan SMP di Kendal melakukan penandatanganan bersama Aksi Damai di Sekolah di Alun-alun Kendal, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, KENDAL – Ribuan pelajar di Kendal melakukan aksi deklarasi budaya damai. Aksi melibatkan 2.500 pelajar siswa SMK, SMA, MA dan SMP yang dilakukan di Alun-alun Kendal ini dengan menandatangani kain putih sepanjang 30 meter.

Aksi dilakukan untuk menekan angka pertikaian ataupun tawuran antar pelajar. Selain itu juga mencegah anak-anak terjerumus dalam aksi terorisme yang marak akhir-akhir ini. “Selain itu juga perilaku bullying yang dapat memicu terjadinya kekerasan antar siswa,” ujar Ketua MKKS SMK Kendal, Basyarohman, kemarin (16/5).

Selain siswa, aksi juga melibatkan perwakilan guru dan seluruh kepala skeolah SMK dan SMA di Kendal. Dalam deklarasi, ada lima poin yang diucapkan. Pertama yakni menolak segala bentuk intoleransi, radikalisme dan terorisme. “Selanjutnya kami menolak segala bentuk penyalahgunaan narkoba,” lanjutnya.

Para siswa juga sepakat untuk tidak melalukan aksi bullying, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Siswa dan guru juga menolak segala macam bentuk kekerasan baik fisik mapun psikis.

“Tujuan dari deklarasi ini adalah agar muncul kesadaran bersama untuk memiliki rasa empati dan rasa persaudaraan. Sehingga lingkungan sekolah bisa harmoni dan siswa fokus meraih prestasi,” tandasnya.

Pria yang akrab disapa Gus Basyar yang melopori aksi deklarasi mengatakan bahwa ini bentuk harmonisasi antar sekolah. Dimana semua sekolah guru beserta siswa berkumpul untuk menumbuhkan persaudaraan.

Diakuinya, peristiwa terorisme yang melibatkan anak-anak menjadi perhatian khusus bagi praktisi pendidikan.  Makanya dalam aksi tersebut juga ditetakan agar guru-guru menekankan bahaya terorisme dan cinta NKRI dalam pembelajaran di kelas.

Sebaliknya, para pelajar sekarang ini sudah cerdas dan bisa menjadi agen untuk melawan terorisme. Yakni dengan mengawasi lingkungan sekitarnya. Jika ada hal yang mencurigakan, segera laporkan agar bisa dilakukan pengawasan.

“Meskipun bujuk rayu untuk melakukan tindakan terorisme dari orang tua maka si anak wajib menolak hal itu. Sebab pada dasarnya jika ada ajakan tindakan dzolim meskipun yang mengajak orang tua maka anak wajib menolak,” pungkasnya.

Seorang siswi SMK NU 2 Rowoasari, Della Verginia Puspita menuturkan sangat prihatin atas tindakan terorisme di beberapa lokasi di Indonesia. Terlebih melibatkan anak-anak dan wanita dalam aksi terorisme. “Saya dan kawan-kawan sangat menolak sekali aksi terorisme. Hal itu sangat bertentangan rasa kemanusiaan dan bertentangan dengan ideologi bangsa ini,” kata Della. (bud/bas)