ARMADA BARU: BRT Trans Semarang Koridor VII diluncurkan di halaman Balai Kota Semarang, kemarin. (Adityo Dwi/ Jawa Pos Radar Semarang)
ARMADA BARU: BRT Trans Semarang Koridor VII diluncurkan di halaman Balai Kota Semarang, kemarin. (Adityo Dwi/ Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang targetkan penumpang BRT Trans Semarang mencapai 10 juta orang pada 2018. Target ini menyusul dioperasikannya BRT koridor VII (Terboyo-Woltermonginsidi-Arteri Soekarno Hatta- Pemuda) per 15 Mei kemarin.

Kepala Dinas Perhubungan  Kota Semarang, M Khadik, mengatakan, jumlah penumpang BRT pada 2017 mencapai 9 juta orang. Rinciannya, rata-rata 27 ribu penumpang setiap harinya. Dengan penambahan koridor ini, ditargetkan jumlah penumpang meningkat hingga 29 ribu penumpang per hari.

”Koridor VII ada 15 armada yang beroperasi. Sementara jumlah keseluruhan 143 armada. Dengan jumlah ini, semoga 10 juta penumpang itu tercapai,” katanya optimistis.

Perkembangan BRT Semarang, dikatakannya, cukup pesat dibandingkan daerah lainnya. Bahkan pada 2017, di bidang transportasi massa, Semarang mendapat penghargaan sebagai kota terbaik dalam upaya peningkatan jumlah kendaraan umum. ”Jika sebelumnya kita belajar dari kota lain, kini banyak yang belajar tata kelola dan sistem layanan umum ke Semarang,” ujarnya. ”Ini menunjukkan bahwa angkutan umum diterima dengan baik di masyarakat,” imbuhnya.

Khadik menjelaskan, sesuai revisi RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah ) akan dioperasionalkan lagi sebanyak 5 koridor. Empat koridor di antaranya akan dioperasionalkan sebagai koridor feeder atau penghubung antara permukiman dengan shelter yang selama ini sudah ada.

”Ini sedang kita siapkan. Ada koridor IX,X, XI,dan XII yang nanti akan menjadi feeder. Sementara koridor VIII  semoga tahun depan bisa diluncurkan,” terangnya saat peluncuran koridor VII di halaman Balai Kota Semarang, Selasa (15/5) kemarin.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menjelaskan, BRT Koridor VII merupakan salah satu upaya Pemkot Semarang untuk mengatasi persoalan kemacetan. Berdasarkan survei terakhir, tingkat kemacetan di Kota Semarang bahkan lebih tinggi daripada Surabaya.

Salah satu faktor yang menyebabkan kondisi ini adalah masih banyak masyarakat Semarang yang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi dibanding angkutan umum. Keberadaan koridor VII diharapkan menjadi solusi transportasi umum yang mampu mengatasi persoalan kemacetan, yang merupakan persoalan urgen di Kota Semarang setelah banjir dan rob.

”Semoga warga semakin seneng naik transportasi umum. Tentunya dengan pelayanan yang juga harus selalu ditingkatkan, terutama ketepatan waktunya. Karena masih banyak masyarakat yang mengeluhkan mengenai ketepatan waktu ini,” ujar Hendi.

Lebih lanjut dikatakan, koridor dengan 15 armada ini merupakan pelunasan utang pemkot kepada para pedagang di relokasi Pasar Johar kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Janji dari 2016 ini baru bisa direalisasikan pada 2018 karena memang harus melalui tahapan yang cukup panjang.

Eko Udoyo, pedagang di relokasi Pasar Yaik kawasan MAJT menyambut baik adanya BRT yang mampir ke relokasi Pasar Johar. Hanya saja, dirinya menyayangkan bus yang tidak sampai ke relokasi Pasar Yaik. Ia berharap, BRT tidak hanya menjangkau relokasi Pasar Johar saja, sehingga pedagang Pasar Yaik juga mendapatkan cipratan rezeki.

”BRT-nya hanya muter di relokasi Johar. Kemudian akses ke relokasi Yaik juga terhalang pedagang pancakan. Sehingga belum banyak pengunjung yang datang ke Yaik. Namun ada transportasi yang ke sini, itu sudah bagus sih,” ujarnya saat dihubungi koran ini. (sga/aro)