Oleh : Juli Endah K SPd
Oleh : Juli Endah K SPd

RADARSEMARANG.COM – PEMBELAJARAN Membaca huruf Jawa ternyata tidak mencapai kompetensi yang diharapkan. Salah satu sebab rendahnya keterampilan membaca huruf Jawa, karena kurang terbiasa membaca huruf Jawa. Mereka malas membaca buku berhuruf Jawa tersebut karena huruf Jawa dianggap sulit dan kurang menarik. Selain itu, kesulitan membaca huruf Jawa disebabkan juga karena kurangnya kesadaran membaca pada masing-masing individu dan lingkungan yang kurang mendukung serta kurang menyadari betapa pentingnya membaca huruf Jawa dalam kehidupan mereka.

Apabila masalah ini tidak segera dicari jalan keluarnya maka sulit bagi peserta didik untuk aktif mengikuti pelajaran dan mencapai nilai tuntas belajar baik individual maupun klasikal. Maka sangat diperlukan suatu model pembelajaran dengan menggunakan metode lawaran yang dirancang untuk membantu peserta didik memahami teori secara mendalam melalui berbagai pengalaman empirik sehingga mampu meningkatkan aktifitas dan hasil belajar membaca huruf Jawa siswa.

Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis dan suatu terjemahan simbol tulis ke dalam kata-kata lisan.

Menurut (pedoman penulisa aksara jawa 1996:1) aksara jawa terdiri dari aksara carakan dan pasangannya, Aksara Rekan, Aksara Swara, Aksara Murda dan pasangannya, Angka Jawa, Sandangan Aksara Jawa dan tanda baca Aksara Jawa.

Hakekat membaca huruf jawa adalah  suatu proses yang dilakukan serta  dipergunakan untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media bacaan atau tulisan yang disajikan dengan tulisan berhuruf jawa.

Metode Lawaran dalam membaca huruf jawa, kata Lawaran dapat diartikan apa adanya atau utuh. Metode Lawaran ini merupakan penggabungan antara strategi pembelajaran kooperatif dengan metode tartil yang selanjutnya disebut metode lawaran. Metode ini mengutamakan kerja sama kelompok untuk menarik anggota yang tertinggal dengan cara membaca apa adanya secara perlahan dan bersama-sama.

Pembelajaran kooperatif dilaksanakan sangat sederhana dengan menggunakan enam fase kegiatan pembelajaran yaitu; menyampaikan tujuan dan memotifasi siswa, menyampaikan informasi, mengorganisasikan siswa kedalam kelompok kooperatif untuk membaca, secara bergantian perkelompok, membimbing kelompok bekerja dan belajar serta memberikan penghargaan.

Metode Tartil adalah cara pengajaran di pondok pesantren tempo dulu yang mengajar para santri dengan cara membaca nyaring bersama-sama kitab yang harus dikaji. Pada awalnya bagi yang tidak bisa membaca akan mengalami kesulitan karena tertinggal dengan teman yang lain, akan tetapi karena suasana kelompok yang mendukung untuk membaca, maka tanpa disadari terbawa dan termotivasi aktif untuk dapat membaca.

Metode Lawaran dalam pelajaran membaca huruf jawa atau disebut juga dengan metode tartil dengan berbasis model pembelajaran kooperatif saat pembelajaran, diharapkan siswa dapat berlatih membaca dengan lebih lancar dan cepat secara tarik-menarik antara siswa satu dengan yang lain untuk membaca huruf jawa secara utuh (Lawaran) sehingga pembelajaran akan lebih menyenangkan. (tj3/2/bas)

Guru Bahasa Jawa SMPN 2 Gunungwungkal Pati