Doakan Korban Bom sebelum Kirab Dugderan

331
BEREBUT GANJEL REL: Ribuan warga berebut kue ganjel rel saat karnaval tradisi dugderan di Masjid Agung Kauman Semarang, kemarin. (kanan atas) Wali Kota Semarang membacakan suhuf halaqah menggunakan Bahasa Jawa. (kanan bawah) Barisan penari menyambut kedatangan rombongan wali kota di Masjid Agung Jawa Tengah. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BEREBUT GANJEL REL: Ribuan warga berebut kue ganjel rel saat karnaval tradisi dugderan di Masjid Agung Kauman Semarang, kemarin. (kanan atas) Wali Kota Semarang membacakan suhuf halaqah menggunakan Bahasa Jawa. (kanan bawah) Barisan penari menyambut kedatangan rombongan wali kota di Masjid Agung Jawa Tengah. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Ribuan masyarakat Kota Semarang tumplek blek menyaksikan karnaval tradisi dugderan, Selasa (15/5) kemarin. Pawai dimulai dari halaman Balai Kota Semarang menuju Masjid Agung Kauman Semarang. Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, Wawali Hevearita Gunaryanti Rahayu bersama sejumlah pejabat Kota Semarang diarak. Juga replika warak ngendok, gunungan roti ganjel rel, hingga air suci khataman Alquran. Kereta kuda yang dinaiki wali kota tampak dikawal langsung oleh Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Abioso Seno Aji.

Sekitar pukul 16.00, Hendi –sapaan akrab Hendrar Prihadi– yang memerankan sebagai Bupati Semarang Raden Mas Aryo Purboningrat diterima para ulama di serambi Masjid Agung Kauman. Di antaranya, KH Hanief Ismail dan Ketua PCNU Kota Semarang, KH Anasom. Ia kemudian membacakan Suhuf Halaqah menggunakan Bahasa Jawa, kemudian menabuh bedug sebanyak tujuh kali. Hal yang mengejutkan terdengar suara dentuman mirip meriam beberapa kali.

“Sejak 1881, selalu diselenggarakan tradisi dugderan di Semarang. Ketika itu Kabupaten Semarang dipimpin oleh Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat,” kata  Sekretaris Takmir Masjid Agung Kauman Semarang, Muhaimin, ditemui Jawa Pos Radar Semarang di sela prosesi.

Konon, kala itu di Semarang sering terjadi perbedaan pendapat dalam menentukan awal Ramadan. “Sejak dahulu, penetapan awal Ramadan di Masjid Agung Kauman Semarang selalu menggunakan Rukyatul Hilal atau metode melihat bulan secara langsung,” jelasnya.

Akhirnya, bupati mengutus salah satu utusan untuk melihat bulan. Setelah bulan itu terlihat, utusan tersebut diminta menyampaikan kepada para kiai yang sudah berkumpul di masjid, disebut halaqah kiai untuk dilakukan verifikasi. “Termasuk ada petugas yang menyampaikan kepada bupati yang saat itu kantornya di Kanjengan,” terangnya.

Setelah itu, lanjut Muhaimin, di Masjid Kauman dibunyikan bedug sebanyak tujuh kali. Sedangkan dari Kantor Kabupaten Semarang yang lokasinya di Kanjengan, dibunyikan letusan meriam. “Maksudnya supaya masyarakat datang ke alun-alun untuk mendengarkan hasil rukyah yang disampaikan oleh bupati,” katanya.

Lebih lanjut, bunyi bedug ‘dug, dug, dug’, dan letusan meriam ‘der, der, der’ itulah kemudian menjadi akronim tradisi ‘dugderan’. “Dulu memang ada meriam kuno. Sekarang untuk menghasilkan bunyi letusan bekerjasama dengan pihak kepolisian, yakni tim Gegana. Mereka yang memiliki otoritas soal itu, tetap ada bunyi ‘der’ dan dipastikan aman,” ujarnya.

Prosesi ini melibatkan berbagai instansi, mulai dari Dinas Perdagangan mengurusi regulasi pasar, Disbudpar mengurusi prosesi, serta kepolisian menangani keamanan dan ketertiban. “Sedangkan untuk pembagian roti ganjel rel tahun ini menyediakan sebanyak 8.000 potong. Awalnya kami pikir tidak hari libur, kemungkinan warga yang datang sedikit. Tapi ternyata membludak. Hanya sekejap sudah habis. Tidak mengira kalau yang datang sebanyak ini,” katanya.

Salah satu warga, Ning Setiyarna, mengaku, sengaja datang untuk menyaksikan prosesi dugderan dan menikmati roti ganjel rel. “Tadi menunggu satu jam. Setiap tahun ke sini untuk melihat prosesi dugderan. Senang sekali bisa mendapatkan air khataman Alquran. Supaya berkah, sehat, dan panjang umur,” ujarnya.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan, tradisi dugderan rutin diselenggarakan di Kota Semarang setiap tahun, sebagai penanda bulan Ramadan segera datang. “Ini sebagai upaya merawat tradisi yang ditinggalkan pendahulu, yakni Bupati Semarang Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat bersama para ulama. Hari ini terus kita dilaksanakan,” katanya.

Dengan menjaga dan melestarikan tradisi, Hendi berharap semua lapisan masyarakat guyub rukun dan saling menghargai. “Baik umat Islam yang menjalankan ibadah puasa maupun umat lain yang tidak menjalankan ibadah puasa, semua saling menghargai,” ujarnya.

Namun ada pemandangan sedikit berbeda dari pakem prosesi kirab dugderan kemarin. Hendi tiba-tiba meminta masyarakat yang riuh memadati Balai Kota Semarang untuk tenang. Ia meminta masyarakat untuk menyempatkan diri berdoa bagi para korban bom di Surabaya. “Saudara-saudara, sebelum karnaval dimulai, mari kita semua berdoa kepada Allah untuk korban terorisme di Surabaya, kita berdoa menurut kepercayaan masing-masing mulai,” pinta Hendi.

Selepas mengikuti prosesi di Masjid Kauman Semarang, Hendi beserta rombongan bertolak ke Masjid Agung Jawa Tengah untuk menyerahkan Suhuf Halaqah kepada Gubernur Jawa Tengah yang diwakili oleh Sekda Provinsi Jateng, Sri Puryono. Rangkaian prosesi tersebut kemudian ditutup dengan diumumkannya kepada warga bahwa sebentar lagi memasuki bulan Ramadan. (amu/zal/sga/aro)