RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Selama Januari sampai April 2018, Bank Bukopin berhasil menurunkan biaya operasional sebesar 5 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2017. Pada 2017, biaya operasional mencapai Rp 907 miliar dan berkurang menjadi Rp 859 miliar pada 2018 ini.

Direktur Keuangan dan Teknologi Informasi Bank Bukopin Adhi Brahmantya menuturkan, perseroan telah melakukan sejumlah inisiatif untuk meningkatkan efisiensi. Di antaranya melalui digitalisasi core banking system yang berdampak pada efisiensi proses bisnis produk. “Dengan penerapan digitalisasi core banking, telah terjadi migrasi transaksi dari outlet atau kantor ke electronic channel lainnya sebesar 30 persen,” ungkap Adhi.

Selain itu, melalui peluncuran produk digital Wokee, Bank Bukopin juga melakukan simplifikasi proses bisnis dan operasional. Di antaranya dengan efisiensi dalam pembukaan tabungan, transaksi tanpa buku dan kartu ATM atau cardless. Wokee merupakan produk perbankan tabungan digital Bank Bukopin. Layanan tersebut menyediakan sejumlah fitur berbasis digital, mulai dari pembukaan rekening hingga transaksi perbankan secara online.

Adhi melanjutkan, selain melakukan efisiensi, perseroan juga telah melakukan diversifikasi pendapatan secara bertahap melalui peningkatan fee based income. Upaya untuk memacu pendapatan non bunga dilakukan melalui peluncuran produk Flexy Bill, peningkatan volume bank garansi, transaksi public service, wealth management, serta program peningkatan usage kartu kredit.

Serangkaian langkah tersebut berdampak pada peningkatan fee based income perseroan sebesar 41 persen dari Rp 252 miliar per April 2017 menjadi Rp 354 miliar pada April 2018. “Sebagai dampak dari penurunan biaya operasional dan peningkatan fee based income, hingga April 2018 telah terjadi peningkatan laba sebelum CKPN perseroan sebesar 33 persen (year-on-year), yaitu dari Rp 268 miliar pada April 2017 menjadi Rp 355 miliar per April 2018,” jelas Adhi. (gie/ton)