Pernah Bangkrut dan Menderita Sakit Aneh

Lika-Liku Hidup Direktur LBH Ikadin Jateng, H Herry Darman SH

325
RUTIN BERBAGI: Herry Darman (kanan) bersama Siti Nurhaliza, Atalarik Syach dan Feni Rose. (DOKUMEN PRIBADI)
RUTIN BERBAGI: Herry Darman (kanan) bersama Siti Nurhaliza, Atalarik Syach dan Feni Rose. (DOKUMEN PRIBADI)

RADARSEMARANG.COM – Perjalanan hidup H Herry Darman SH penuh liku. Pimpinan Legal Consultant – Law Office Herry Darman & Patners ini pernah terpuruk dan diambang kebangkrutan. Namun kini, ia mampu bangkit kembali. Kuncinya, lebih dekat dengan Sang Pencipta dan rutin berbagi. Seperti apa?

JOKO SUSANTO

DULU hidup Herry Darman bergelimang harta. Mau apa, butuh apa, bisa. Dia juga senang hura-hura. Hiburan malam sudah jadi makanan sehari-hari. Pria kelahiran Pekanbaru, 28 Maret 1961 ini bisa dikatakan cukup nakal. Namun saat krisis moneter 1997, bisnisnya mulai di ambang kebangkrutan. Saham yang dimiliki nilainya anjlok. Herry pun rugi besar. Ia stres. Puncaknya, suami dari Dian Puspita Ningtyas ini didera penyakit aneh.

“Saya sendiri tidak tahu sakit apa? Saya sempat berobat ke dokter dan alternatif baik di Jateng maupun di Jatim, namun tak kunjung sembuh. Saat itu, badan saya jadi kurus kering,” kenang  ayah dari Novitri Antika Maharani ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Bahkan, kata Herry, para tetangganya mengira dirinya terkena santet. Mertuanya pun rutin membacakan surat Yasin. Ajaibnya, tak lama setelah mertuanya membacakan surat Yakin, seketika ia seperti mendapat panggilan untuk menyantuni anak yatim piatu.  Tanpa pikir panjang, ia pun meminta istrinya mengundang 40 anak yatim piatu ke rumahnya.

“Selama sakit, saya mau baca Al-Fatihah saja blank, semua jadi lupa. Ternyata begitu anak yatim datang dan mendoakan, saya baru bisa baca Al-Fatihah lagi, dan berangsur-angsur pulih dari sakit,” ceritanya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di kantornya Jalan Sriwijaya No 57, Semarang, Senin (14/5).

Herry mengaku sempat menangis histeris saat didoakan oleh anak yatim. Sejak itu, ia mulai tersadar selama ini hidupnya telah melenceng dari agama. “Waktu jaya dulu, saya biasa tinggal 6 bulan di hotel, dan 6 bulan di rumah. Saya juga sering foya-foya di tempat hiburan malam. Tapi meski nakal, saya tidak sampai terlibat narkoba atau obat-obat terlarang lainnya,” katanya.

Selama terpuruk itu, Direktur Utama PT Sarana Insan Mandiri, sebuah Perusahaan Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta/PPTKIS ini sempat menjual mobil, rumah dan harta benda lainnya. Bahkan, 14 mobil dan 9 rumah miliknya nyaris terjual semuanya.

“Waktu itu, saya tinggal punya 1 rumah, 2 mobil, dan 1 kantor. Lalu saya manfaatkan untuk kembali membuka usaha, dan menunaikan ibadah haji. Alhamdulillah  tahun 2004, saya bisa umrah, kemudian tahun 2005 dan 2008 bisa naik haji dua kali, dan 2018 bisa umrah lagi,”kenangnya.

Titik balik hidupnya selain karena sakit, ia juga pernah mengalami kejadian gaib sepulang dari karaoke pukul 02.00 dinihari. Ia merasa seperti ada panggilan hati untuk melaksanakan salat istikharah.  Saat itu, ia melihat di belakangnya seperti ada sinar. Kejadian itu lalu dikonsultasikan dengan guru spiritualnya. Sang kiai memberikan petunjuk bahwa itu hidayah agar dirinya menunaikan ibadah haji.

“Saat itu, saya sempat mondok di Ponpes Beringin Semarang selama 14 hari. Kemudian bertahun-tahun melalang buana dari satu kiai ke kiai lainnya hingga selama 7 tahunan. Kalau diuji oleh Allah SWT sekitar 8 tahunan,” aku

alumnus Fakultas Hukum (FH) Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang ini.

Kini, Herry semakin religius dan taat beribadah. Ia juga tak lupa untuk selalu berbagi. “Ada ulama dan warga mengatakan, saya bisa seperti sekarang ini karena seneng menyantuni anak yatim, tapi itu kata mereka lho,”ungkapnya.

Setiap 3 bulan sekali, ia selalu mengundang 100 anak yatim dan piatu ke rumahnya. Setiap akhir tahun, ia juga mengundang para jompo sekitar 500 hingga 700-an orang. Kemudian saat malam ganjil 10 hari terakhir bulan Ramadan, ia menggelar pengajian. “Terkadang saya juga menggelar aksi donor darah, merenovasi rumah warga tak mampu, serta bersedekah di masjid,” ujar advokat  yang banyak memiliki klien artis ibu kota, di antaranya Atalarik Syach, Sandy Tumiwa, dan Shinta Bebi.

Ia menilai kebiasaannya berbagi merupakan panggilan jiwa. Apalagi ia pernah mendengar nasehat ulama bahwa hidup haruslah berbagi “Meskinya usaha sepi, saya tetap harus bersedekah. Yang akan datang, saya ada planing melakulan bedah rumah. Sekarang titik-titik rumah warga tak mampu sudah dapat,”kata Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin) Jawa Tengah ini. (*/aro)

Silakan beri komentar.