IPB Tularkan Teknologi Pertanian ke Pesantren

Ponpes SGJB Siap Gandeng 500 Pesantren

251
PERTANIAN PESANTREN : Rektor IPB, Dr Arief Satria SP, MSi dan KH Masroni dalam Pencanangan Program Ekonomi Kerakyatan Berkelanjutan berbasis Pesantren di lokasi SGJB Farm di Ponpes SGJB Kampung Malon Gunungpati Kota Semarang, Sabtu (12/5). (IDA NOR LAYLA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PERTANIAN PESANTREN : Rektor IPB, Dr Arief Satria SP, MSi dan KH Masroni dalam Pencanangan Program Ekonomi Kerakyatan Berkelanjutan berbasis Pesantren di lokasi SGJB Farm di Ponpes SGJB Kampung Malon Gunungpati Kota Semarang, Sabtu (12/5). (IDA NOR LAYLA/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Permasalahan krusial di bidang pertanian saat ini, karena minimnya pelaku usaha. Pasalnya, generasi muda sekarang lebih suka bekerja di kota, kurang tertarik mengembangkan usaha pertanian. Kendati begitu, masih ada pilar penting, yakni para santri dari 500 pondok pesantren (Ponpes) di bawah yang siap menggarap bidang pertanian dan peternakan.

Hal itu ditegaskan oleh Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr Arief Satria SP, MSi dalam Pencanangan Program Ekonomi Kerakyatan Berkelanjutan berbasis Pesantren di lokasi SGJB Farm di Ponpes SGJB Kampung Malon Gunungpati Kota Semarang, Sabtu (12/5).

Pihaknya bersyukur, siswa-siswi Sekolah Menengah Kejuruan SGJB dan dan santri SGJB memiliki semangat menjadi petani muda. “Selama ini, banyak orang tidak tertarik menjadi pelaku usaha di bidang pertanian karena tak memiliki modal, kurang bergengsi, kotor karena berkutat di sawah, dan ada risiko,” tuturnya.

Selama ini, jelasnya, yang menjadi pengusaha di biang pertanian adalah orang yang kepepet, bukan cita-cita dari awal. “Karena itu, kami akan menyediakan lahan dan modal bagi mahasiswa IPB, kami support petani,” katanya.

Sedangkan Pengasuh Ponpes SGJB, KH Masroni menegaskan bahwa Ponpes SGJB siap menggandeng 500 pesantren di bawah naungan KH Habib Muhammad Luthfi untuk mengembangkan pertanian dan peternakan. Hal ini dilakukan, dalam rangka menumbuhkan ekonomi kerakyatana yang berbasis pesantren. “Nanti dari IPB akan melakukan pembinaan secara berkala. Di bidang pertanian melakukan penanaman Edamane, daun katuk dan waluh. Selain itu, mengembangkan peternakan sapi dan domba etawa,” tuturnya.

Dijelaskan juga bahwa ulama besar yang menjadi panutan, KH Habib Muhammad Luthfi telah mendidik para santri bukan peminta-minta, tapi orang yang berkarya dan bermanfaat bagi lingkungan. Selain itu, mendorong santri untuk mengeluarkan zakat bukan yang dizakati. “Islam memberikan ajaran, bahwa kita diperintahkan untuk menjadi orang yang zakat, maka kita harus berkarya sehingga bisa melakukan sedekah infaq dan shadaqah,” tandasnya.

Habib Luthfi pun mengarahkan untuk mengembangkan bidang pertanian dan peternakan yang saat ini mulai banyak ditinggalkan. “Karena pertanian dan peternakan merupakan unsur dalam memenuhi kebutuhan makan. Kekuatan makan adalah pokok dalam hidup,” katanya.

Sementara itu, sebelumnya dilaksanakan acara seminar Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Pesantren kolaborasi Ulama-Umara-Pesantren-Jamaah-Muslimat dengan tema “Santri Bertani, Santri Beternak, Santri Berdagang” yang dilaksanakan atas kerjasama IPB dan Pondok Pesantren Sunan Gunung Jati Ba’alawi (SGJB) di Ponpes SGJB Kampung Malon Gunungpati Kota Semarang, Sabtu (12/5).

Seminar tersebut panel oleh Kepala Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan, Kementrian Tenaga Kerja RI, Ir Khairul Anwar MM mengusung tema Strategi Regenerasi Tenaga Kerja di bidang Pertanian; Asisten Deputi Peningkatan Daya Saing Ekonomi Kawasan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian) RI, Dr Hamdan dengan tema Konsep Program Kemitraan Ekonomi Umat; Pengusaha Puyuh Dr Slamet Wuryadi mengusung tema Peluang Potensial Beternak Puyuh; Head of Medco Foundation, Ir Budi Basuki mengusung tema Peran Penting Perusahaan dalam Mendorong Kemandirian Ekonomi Umat; dan Kepala Departemen Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan RI tentang Potensi Pembiayaan Usaha Melalui Bank Wakaf Mikro.

Selain itu, dilakukan juga diskusi interaktif dengan peserta Muslimat Thoriqiyah Muslimah Wathonah oleh Kepala Pusat Studi Gender dan Anak dari UIN Syarif Hidayatullah, Rahmi Purnomowati, SP, M.Si. (ida/sct)