Grebeg Makukuhan Sambut Ramadan

445
TRADISI UNIK : Replika harimau  diarak dalam acara kirab grebeg Makukuhan Kedu yang berlangsung meriah Minggu (13/5) lalu. (Humas Kab Temanggung for JP Radar Kedu)
TRADISI UNIK : Replika harimau  diarak dalam acara kirab grebeg Makukuhan Kedu yang berlangsung meriah Minggu (13/5) lalu. (Humas Kab Temanggung for JP Radar Kedu)

RADARSEMARANG.COM, TEMANGGUNG – Masyarakat Desa Kedu Kecamatan Kedu menggelar jelajah wisata budaya religi dan grebeg Makukuhan Minggu kemarin (13/5). Tradisi ini untuk menyambut bulan Ramadan 1439 Hijriyah. Acara berlangsung meriah disaksikan puluhan ribu penonton.

Jelajah wisata grebeg Makukuhan ditandai dengan kirab mengarak gunungan hasil tani. Isi gunungan merupakan simbol yang memiliki beberapa makna. Antara lain tembakau, padi jenis rojolele yang konon benihnya dibawa oleh Ki Ageng Makukuhan masuk ke wilayah Kedu saat menyebarkan agama Islam pada abad ke-18.

Selain itu, diarak simbol ayam Kedu hitam dan putih, kucing Condromowo, serta perkutut hitam dan putih yang menjadi klangenan Ki Ageng semasa hidup. Kirab diawali pasukan pleton inti SMK Ganesha  Kedu yang membawa bendera merah putih sebagai simbol rasa nasionalisme masyarakat terhadap bumi pertiwi.

Di samping itu  dimeriahkan drum band dan pawai perwakilan masyarakat dari masing-masing RT se-Desa Kedu yang menampilkan berbagai  atraksi. Di antaranya replika harimau, ikan lele  berduri, kambing,  sapi  dan lain sebagainya.

Kirab dimulai dari halaman SMK Ganesha  Kedu  melewati jalan raya  ke timur dan finis di panggung kehormatan komplek makam Ki Ageng Makukuhan. Berbagai gunungan yang dibawa  kemudian diperebutkan oleh para pengunjungb setelah sebelumnya didoakan doa untuk keselamatan bersama.

Camat Kedu Agus Sri Sudaryanto  menjelaskan  petilasan  makam Ki ageng Makukuhan merupakan aset  yang  layak dikembangkan menjadi objek wisata religi seperti makam Walisongo. Kecamatan Kedu juga memiliki potensi  budaya berupa wayang kedu  dan berbagai kesenian tradisional serta  ayam cemani .

“Oleh karena itu melalui jelajah wisata budaya dan grebeg Makukuhan  diharapkan  aset makam  ki ageng Makukuhan  bisa berkembang menjadi objek wisata religi unggulan,” tandasnya.

Suhardono salah seorang pengunjung dari Jogjakarta menuturkan  dirinya bersama keluarga menyempatkan diri untuk menyaksikan grebeg Makukuhan sambil berwisata.

Ia merasa terkesan dengan penyelenggaraan  grebeg Makukuhan. Diharapkan acara tersebut bisa  dikembangkan di masa-masa mendatang sebagai wahana  untuk melestarikan  budaya warisan nenek moyang  yang adiluhung bernuansa religi. (lis)