Windari Rochmawati (DOKUMENTASI)
Windari Rochmawati (DOKUMENTASI)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Berkas perkara dugaan suap dengan tersangka Kepala Subseksi Pemeliharaan Data Pertanahan Nasional pada Kantor Agraria dan Tata Ruang (ATR) atau Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Semarang nonaktif, Windari Rochmawati, resmi dilimpahkan Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Semarang ke Pengadilan Tipikor Semarang. Kasus  yang sempat menghebohkan ini akan sidang perdana pada Rabu (16/5) besok.

“Perkaranya beliau (Windari, Red) sudah dilimpahkan PU pada Senin (7/5) lalu untuk disidangkan, salah satu jaksanya Bu Zahri Aeniwati. Perkaranya terdaftar dengan nomor: 46/Pid.sus-TPK/2018/PN Smg,”kata Panitera Muda Pidana Tipikor pada Pengadilan Tipikor Semarang, Heru Sungkowo, saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Senin (14/5).

Atas pelimpahan itu, lanjut Heru, Ketua PN Semarang, Purwono Edi Santosa, telah menunjuk tiga hakim untuk memeriksa perkaranya, yang nantinya akan dipimpin oleh hakim Ari Widodo didampingi dua hakim ad hoc yang sudah menyandang gelar doktor, yakni Dr Sastra Rasa dan Dr Sinintha Yuliansih Sibarani, dengan panitera pengganti yang mencatat perkarannya, Sinung Kurniawan. “Sidang perdana beragendakan dakwaan akan dilangsungkan pada Rabu (16/5),”ujarnya.

Jaksa Fungsional Kejari Kota Semarang yang akan menuntut kasus ini, Zahri Aeniwati, juga mengaku telah melimpahkan kasus tersebut. Pihaknya akan menjerat wanita asal Klaten itu dengan pasal 12 huruf E, atau dakwaan kedua pasal 11 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi.

Dalam kasus ini, Kajari Kota Semarang, Dwi Samudji, mengaku telah melakukan pemeriksaan terhadap enam orang notaris sebagai saksi. Ia menyebutkan, salah satu saksi yang dipanggil berinisial M, orang yang memberi amplop saat terjadinya penangkapan terhadap Windari. Namun demikian, Dwi enggan menyebutkan lebih jauh hasil pemeriksaan oleh tim penyidik.

“Itu sudah masuk materi perkara. Nanti bisa mengganggu penyidikan tim. Saat ini, masih didalami tim, keterlibatan yang bersangkutan. Dia (M) mengakui telah memberikan uang dalam amplop itu ke Windari,” sebutnya.

Disinggung soal jumlah 116 amplop dan temuan uang total hampir Rp 600 juta yang didapatkan kejari setelah melakukan penggeledahan di kamar kos, mobil pribadi, dan ruang kerja Windari, Samudji mengaku dalam amplop tersebut ada beberapa nama yang sama.

“Jadi, ada nama yang sama, namun amplopnya ada beberapa biji. Saya rasa orang yang sama itu sudah terbiasa memberikan amplop berisi uang untuk Windari, dan semuanya masih terus kita periksa,” ujarnya.

Untuk penyelidikan lebih lanjut, Samudji memastikan akan ada pendalaman dalam proses penyidikan yang dilakukan tim penyidik Kejari Kota Semarang.

Dikatakannya, termasuk Kepala BPN Kota Semarang saat itu, Sriyono, dan dua pegawai honorer, Jimmy dan Fahmi, yang masih berstatus saksi, jika nantinya ada dua alat bukti, maka statusnya bisa saja naik, dari saksi ke tersangka. Namun sampai saat ini, diakuinya, belum ada dua alat bukti tersebut, sehingga masih didalami.

Pihaknya juga memastikan, akan memeriksa keluarga tersangka atau keluarga saksi jika ada keterkaitan. Namun hingga saat ini, saksi yang diperiksa masih dari tersangka dan terperiksa. “Proses saat ini masih terus berlanjut, nantinya juga akan ada pemeriksaan lainnya. Termasuk gelang emas yang ada di tumpukan uang yang ada di mobil tersangka. Saat ini, proses pemanggilan saksi akan terus kami lakukan,”tandasnya. (jks/aro)