Suwal Kaget Putrinya Ditangkap, Agus Dikenal Ramah

Warga Temanggung dan Pekalongan Diduga Terlibat Terorisme

4380
Agus Riyadi (DOKUMEN KELUARGA)
Agus Riyadi (DOKUMEN KELUARGA)
Dita Siska Millenia (ISTIMEWA)
Dita Siska Millenia (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.COM – Pasca kericuhan di Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri menangkap sejumlah terduga teroris. Dua di antaranya warga Kabupaten Pekalongan dan Temanggung.

AGUS HADIANTO

SABTU (12/5) subuh sekitar pukul 03.00, Tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri mengamankan terduga teroris perempuan atas nama Dita Siska Millenia dan Siska Nur Azizah. Dua perempuan itu ditangkap di musala dekat Mako Brimob Kelapa Dua Depok saat akan salat subuh. Keduanya diduga hendak membantu para napi terorisme dan menyerang aparat kepolisian. Dari tangannya disita sebuah gunting. Dita Siska Millenia sendiri diketahui sebagai warga Desa Jambon, Gemawang, Temanggung. Praktis, kabar penangkapan gadis 18 tahun itu membuat warga Desa Jambon gempar.

Orang tua Dita, Suwal, kepada sejumlah wartawan, Minggu (13/5) kemarin, mengaku kaget dengan kabar penangkapan putrinya tersebut. Suwal mengatakan, Dita setelah lulus dari SMP di Malebo melanjutkan pendidikan di pondok pesantren di Patean Kendal.

“Selama di pondok pesantren dia pulang ke rumah setiap dua bulan sekali, tetapi juga pernah sampai enam bulan baru pulang. Kabar terakhir dia praktik mengajar di sebuah pondok pesantren di Majenang, Cilacap,” kata Suwal.

Suwal mengungkapkan, putrinya setiap pulang ke rumah tidak pernah cerita apa-apa atau hal-hal yang mencurigakan. “Sekitar lima hari lalu dia memberi kabar lewat SMS ingin pulang, tetapi ternyata ada kabar penangkapan tersebut,” imbuh Suwal.

Kepala Desa Jambon, Wardoyo, membenarkan bahwa Dita adalah warga Dusun Krajan RT 09 RW 03, Desa Jambon, Kecamatan Gemawang, Kabupaten Temanggung. Wardoyo membenarkan Dita anak nomor dua dari pasangan Suwal dan Ari Suprapti yang sehari-hari hidup dari bertani.

Wardoyo juga menuturkan Dita setelah lulus dari SD Jambon, kemudian melanjutkan ke salah satu SMP di Malebo, Kecamatan Kandangan dan terakhir mondok di sebuah pondok pesantren di Patean Kendal.

Dijelaskan, pada Sabtu (12/5) malam lalu dirinya diberitahu petugas polisi Dita ditangkap di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. “Kami selaku kepala desa dan juga warga kaget dengan penangkapan tersebut. Kami tidak mengira karena selama ini dia juga biasa-biasa saja, tidak ada yang mencurigakan,” jelas Wardoyo.

Sementara itu, Tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri melakukan penangkapan lima orang terduga teroris kelompok Kholid Cs jaringan JAD Jabodetabek. Salah satunya diketahui warga Kabupaten Pekalongan yang tewas tertembak bersama 4 rekan lainnya. Berdasarkan Kartu Tanda Penduduk dengan NIK 3326091808850004 atas nama Agus Riyadi, warga Desa Kalimade RT 04 RW 02 Kecamatan Kesesi, Kabupaten Pekalongan.

Kepala Desa Kesesi, Bambang, membenarkan Agus Riyadi adalah warga Desa Kalimade. Ia mengaku mendapat informasi tewasnya Agus Riyadi tewas ditembak dari saudara Agus yang ada di Jakarta. “Sesuai dengan KTP-nya, memang Agus Riyadi warga Desa Kalimade. Pihak keluarga sebelumnya telah mengetahui soal itu dari kerabat di Jakarta. Dia punya toko di Desa Kesesi,” ungkap Bambang.

Bambang mengaku kaget dengan keterlibatan Agus Riyadi pada kelompok teroris. Sebab, selama ini pemuda tersebut dikenal ramah dan baik dengan para tetangga. Agus Riyadi juga mudah bergaul dengan siapa saja dan aktif berdagang. Selama ini, kata dia, Agus  tinggal di rumah yang berada di belakang toko kelontong di Jalan Raya Desa Kesesi, Kecamatan Kesesi, Kabupaten Pekalongan. “Dia (Agus) tinggal bersama istrinya. Kegiatan sehari-hari membuka toko kelontong di sini. Dia juga jualan madu di toko yang sama setiap harinya,” kata Bambang.

Abdur Gofur, 51, tetangga orang tua Agus, menjelaskan, terakhir kali dia melihat Agus pada Rabu (9/5) sore lalu ketika pulang dari tokonya. Saat itu, Agus bercerita, kalau akan pergi ke Jakarta untuk membeli barang dagangan persiapan lebaran.

Menurutnya, selama ini Agus bergaul seperti biasa, ramah, dan baik hati. Sehingga warga tidak curiga dengan kegiatan di luar. Tamunya pun sama seperti tamu-tamu lainya yang mampir ke toko.  “Terakhir ketemu Rabu sore, katanya mau ke Jakarta ngurus bisnis madunya,” aku Abdur Gofur.

Pihak keluarga Agus Riyadi saat hendak ditemui koran ini masih shock.  Hanya terdengar suara tangisan keluarga dari dalam rumah yang tertutup rapat.

Kapolres Pekalongan, AKBP Wawan Kurniawan, membenarkan salah satu tersangka teroris yang ditembak mati oleh Tim Densus 88 Antiteror adalah warga Kabupaten Pekalongan. Dikatakan, untuk mencegah agar tidak terjadi hal serupa, pihaknya mengandeng para kiai, ulama, dan ustad untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat dalam pengajiannya bahwa Islam dengan teroris itu beda. Sehingga masyarakat memahami benar akan Islam, karena Islam selalu mengajarkan kedamaian dan persaudaraan, bukan permusuhan seperti yang dilakukan oleh teroris.

“Kami mengimbau kepada masyarakat agar selalu waspada, aktifkan kembali sistem kemasyarakatan dengan 1 x 24 jam wajib lapor, sebagai upaya deteksi dini. Waspadai terhadap pengajian yang sifatnya bergerombol dan dilakukan secara sembunyi-sembunyi, serta dalam pengajian tersebut mengajarkan akan perjuangan dan jihad, terlebih menampilkan video yang isinya perjuangan jihad. Jika ditemukan hal itu, segera laporkan kepada ketua RT setempat atau polsek terdekat,” tegas AKBP Wawan Kurniawan. (lis/aro)